Second Honeymoon, Forever Honeymooning


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia edisi November 2011

Tengah malam. Sarah terbangun dengan terengah-engah. Ia teringat diskusinya semalam yang berakhir dengan kata-kata runcing suaminya, Irfan, dan isak Sarah.

Dada Sarah sesak mengingat perkataan Irfan yang menusuk hatinya. Semakin sesak saat menyadari alasan diskusinya semalam adalah membicarakan anak mereka yang ketahuan menonton film tidak senonoh bersama lima teman lelakinya. Surat panggilan dari guru konseling sekolah anaknyalah yang akhirnya membuat Sarah dan Irfan mengadakan rapat keluarga.

Biasanya, setiap dalam kondisi banyak pikiran dan tertekan, Sarah melakukan coping stress dengan tidur. Coping stress adalah suatu usaha yang dilakukan individu untuk mengatasi sumber stres dan mengontrol reaksi individu terhadap sumber stres tersebut. Sejak mempelajari teori tersebut saat kuliah psikologi S1, Sarah menelaah bahwa coping stress yang ia lakukan adalah dengan memperbanyak jam tidur.

Akan tetapi, kali ini Sarah merasa bahwa bersujud di keheningan malam akan lebih melegakan hatinya. Karena itu, Sarah membasuh tangan, wajah, dan kakinya dengan wudhu. Lalu dikenakannya mukena putih nan wangi. Keharuman dan kebersihan mukena dan sajadah menjadi prinsip Sarah, sebab untuk apa mengenakan pakaian terbaik saat arisan tetapi ketika menghadap Allah pakaian kita bau bahkan berjamur?

Delapan rakaat tahajud dan tiga rakaat witir kali ini penuh dengan air mata. Belum pernah sajadah Sarah sebasah itu. Ia mengadukan segala gundah hati kepada Sang Maha Pembolak-balik Hati. Ia memanjatkan munajat terbaiknya kepada Sang Pengabul Seluruh Doa.

Diceritakanlah seluruhnya kepada Allah, betapa Sarah selama ini bekerja memang untuk membantu bisnis Irfan yang belum stabil keuangannya. Sarah pun tidak ingin terlalu asyik berkarir dan menyerahkan pengawasan Firman kepada asisten rumah tangganya, seperti yang dituding Irfan kepadanya. Dicurahkan pula isi hati Sarah tentang pernikahannya yang tiga tahun terakhir terasa tidak lagi sehangat dan semesra dahulu.

Setelah shalat, Sarah membaca lirih surat Ar-Rahman. Ayat “Fabiayyi alaa irabbikumaa tukazzibaan, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” menampar kesadaran Sarah. Ia seharusnya mensyukuri kehadiran Irfan di kala suka dan duka, kepemimpinan Irfan yang selalu membuat keluarga mereka tidak lepas dari nilai-nilai Islam, hingga sifat humoris Irfan yang memeriahkan rumah mereka yang memang mereka inginkan bebas dari kehadiran televisi.

Sarah juga mensyukuri betapa lamanya Firman menangis di pelukannya, mengadukan rasa malu dan takutnya karena dipaksa teman-temannya menonton film yang mengumbar aurat itu. Bahwa Firman tetaplah anak sholeh kebanggaannya, yang senang shalat di masjid bersama ayahnya. Bahwa ia hanyalah korban dari kelakuan teman-temannya yang sedang salah arah.

Sarah menutup Alqurannya. Tiba-tiba sebuah ilham datang ke kalbunya, seolah mendesak dan memaksa. Second honeymoon! Bulan madu kedua, mungkin itu yang sedang dibutuhkan Sarah dan Irfan.

Di tahun kesepuluh pernikahan mereka, Sarah berpikir mereka butuh waktu untuk mengevaluasi perjalanan selama ini. Waktu untuk menyusun langkah-langkah perbaikan agar menjadi suami, istri, dan orangtua yang lebih diridhai Allah. Waktu untuk menyegarkan kembali benih-benih cinta suci mereka yang terikat mitsaqan ghalidza; perjanjian yang amat kuat itu.

BULAN MADU KEDUA

Mengapa perlu bulan madu kedua? Karena terus menghangatkan kasih sayang di antara suami istri insya Allah bernilai ibadah. Ini dijelaskan dalam hadist Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam berikut ini:

“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi dari Abu Sa’id Al-Khudzri radhiallahu anhu)

Jadi mari luangkan waktu kita, untuk secara khusus menyiapkan agenda memperhatikan suami, atau suami memperhatikan istri sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas dengan bulan madu kedua. Second honeymoon ini boleh ke mana saja, kapan saja, asalkan diniatkan mencari ridha Allah.

TETAPKAN TUJUAN

Karir, bisnis, persoalan keuangan rumah tangga, problem kesehatan, pendidikan anak, hingga agenda sosial seringkali menyita sebagian besar waktu kita. Intensitas pertemuan dengan suami menjadi berkurang. Bila binar di matanya saat menatap Anda mulai redup, yuk ajak suami bulan madu kedua!

1. Menyegarkan cinta
Tujuan second honeymoon yang paling banyak diamini pasangan Muslim-Muslimah adalah untuk refresh their love. Menyegarkan kembali cinta. Membuat kenangan indah yang hanya dimiliki pasangan. Merasakan debar asmara. Mengulang kisah nostalgia dari bulan madu pertama.

2. Menyelesaikan masalah
Dalam usaha menyeberangi lautan ridha Allah dengan sebuah kapal bernama keluarga, tentu diperlukan banyak toleransi di antara penumpang kapal. Sang nahkoda, yakni suami, tetaplah manusia. Tetaplah hamba Allah yang tidak luput dari alpa. Istri, sebagai pendamping dan navigator, juga jauh dari sempurna. Karena itu, syukur dan sabar harus menjadi pegangan dalam berlayar. Syukuri kelebihan suami atau istri. Pun bersabarlah dengan apa yang kurang dari diri pasangan.

Penyesuaian dalam perjalanan tersebut mungkin mengakibatkan gesekan-gesekan emosi. Apabila ketegangan di antara suami istri mulai memuncak, rehatlah sejenak dengan bulan madu kedua ini. Bicarakan dan selesaikan secara baik-baik. Kembalikan semua permasalahan kepada tuntunan Alquran dan hadits.

3. Mengevaluasi perjalanan
Berapa usia pernikahan Anda? Baik satu, sepuluh, atau dua puluh tahun, perjalanan membina keluarga dengan suami perlu dievaluasi. Perusahaan sukses tidak pernah luput mengadakan rapat per tahun, per bulan, bahkan per hari untuk menelaah bisnis mereka dan menetapkan langkah strategis untuk mencapai tujuan. Jadi keluarga yang ingin sukses dunia akhirat pun perlu dong, rapat evaluasi semacam itu.

Bedanya, rapat antara suami istri sebagai dewan eksekutif keluarga, tidak perlu selalu diadakan di ruang kerja. Evaluasi di pinggir pantai Senggigi, Lombok, sambil mendengarkan ombak berdzikir kepada Sang Pencipta tentu lebih asyik, bukan?

Alih-alih menuliskan rencana strategis keluarga di monitor notebook dengan font Times New Roman, bagaimana kalau menulis target keluarga jangka pendek, menengah, dan panjang di notes hotel Kampung Sampireun, Garut?

TIDAK PERLU JAUH-JAUH

Zarmaidar, seorang ibu dari tiga orang anak, menuturkan kepada Aulia bahwa sebenarnya ada keinginan dalam dirinya untuk menyempatkan diri pergi berduaan dengan Ahmad Zaky, suaminya. Namun, memiliki dua anak usia taman kanak-kanak dan masih menyusui anak ketiganya membuatnya sulit melakukannya.

“Akhirnya paling hanya makan bakso sambil jalan sore. Pokoknya yang tidak lebih dari tiga puluh menit. Karena lebih dari itu, kasihan adik yang saya titipkan anak-anak.”

Bayangan tentang bulan madu ideal mungkin bepergian berdua ke masjid-masjid indah di benua Eropa, umrah Ramadan, atau mempelajari budaya Islam di Maroko, Cina, dan India. Bagi yang anaknya sudah usia sekolah dasar, ditinggal beberapa hari di rumah sang nenek mungkin tidak terlalu sulit.

Tetapi bagi yang masih memiliki anak bayi, kerepotan menyiapkan termos air panas, pampers, minyak telon, ASI perahan, botol dot, dan lainnya untuk dititipkan membuat Zulmaidar memilih tidak pergi dari rumah. Meskipun ia sering mendapat voucher gratis menginap di hotel dari kantor suaminya.

Karena itu, bulan madu kedua tidak perlu jauh-jauh. Suami Anda pandai fotografi? Anda bisa belajar darinya untuk menangkap momen bernilai kemanusiaan di pasar induk dekat rumah. Sekaligus berbelanja sayur dan ikan untuk kemudian dimasak berdua di rumah.

Atau sekali-kali luangkan waktu membuat bekal makanan enak nan cantik. Dibawa dalam keranjang piknik berhias bunga segar. Lalu gelar tikar di hamparan Taman Bunga Nusantara di Cipanas, Kebun Teh di Puncak, atau Kebun Raya Bogor.

Intinya adalah kreativitas. Di rumah pun juga bisa! Letakkan dua buah kursi di antara meja bertaplak renda. Taruh satu atau dua lilin di antara sajian makan malam spesial. Minta suami Anda berpakaian rapi dan “menjemput” Anda dari kamar. Siapa tahu setangkai mawar putih pun ia siapkan di belakang punggungnya. Persis seperti anak muda yang kasmaran. Bedanya, Anda halal melakukan ini semua!

ROMANTISME ALA RASULULLAH

Bulan madu kedua juga merupakan saat yang tepat untuk belajar menerapkan keromantisan keluarga Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam. Yuk, pelajari, terapkan, dan biasakan kemesraan-kemesraan yang dicontohkan Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam yang dikutip dari buku “Rasulullah pun Begitu Romantis” yang disusun Hepi Andi Bastoni berikut ini:

1.   Mengantar Istri Saat Pergi
Salah seorang istri beliau, Shafiyyah binti Huyay menuturkan,”Suatu ketika Rasulullah sedang beri’tikaf. Kemudian aku mendatangi dan menjenguknya pada malam hari, dan berbincang-bincang dengan beliau. Ketika aku berdiri hendak kembali, beliau berdiri bersamaku untuk mengantarku (sampai pintu), sembari berkata, “Jangan terburu-buru hingga aku mengantarmu.” (Hadits riwayat Bukhari)

2.    Membelai Istri dengan Sepenuh Hati
Diceritakan dalam suatu hadist, seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad Rahimahullah, “Adalah Rasulullah tidak pernah melewati hari, melainkan beliau mesti mengelilingi kami (istri-istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami, tetapi tidak bersama, sehingga beliau sampai ke tempat istri yang menjadi gilirannya dan bermalam di tempat tersebut.”

3.    Memupuk Cinta dengan Hadiah
Begitu pentingnya memberi hadiah, sehingga Nabi bersabda, “Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadits riwayat Thabrani)

4.    Bersandar di Pangkuan Istri
Aisyah Ra menuturkan, Nabi Sallallahu ‘alayhi wa sallam membaca Al Qur’an (mengulang hapalan) dan kepala beliau berada di pangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haid.” (Hadits riwayat Al Bukhari)

5.    Membonceng dengan Mesra
Anas bin Malik radhiallahu anhu pernah menuturkan, “Kami bersama Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam pulang dari Khaibar. Aku membonceng Abu Thalhah, sedangkan beliau mengendarai tunggangannya sendiri. Saat itu, salah seorang istri Rasulullah membonceng di belakang beliau.” (Hadits riwayat Bukhari)

7.  Membantu Istri Naik Kendaraan
Suatu hari istri Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam, Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, ingin menaiki seekor unta. Dengan sangat bersahaja dan memuliakan sang istri, Rasulullah kemudian duduk di sisi unta beliau. Kemudian beliau menekuk lututnya. Lalu, istri beliau Shafiyyah radhiallahu anha meletakkan kakinya di atas lutut Nabi hingga naik ke atas unta. (Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim)

8.   Memberi Kecupan Sepenuh Cinta
Suatu hari Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam ingin berangkat ke masjid. Sebelum melangkah ke luar, beliau sempatkan untuk mencium mesra Aisyah radhiallahu anha. Aisyah menceritakan, “Rasulullah menciumku, kemudian beliau pergi (ke masjid) untuk shalat tanpa memperbarui wudhu.” (Hadits riwayat Abdul Razaq)

9.   Jalan-jalan Romantis di Malam Hari
“Rasulullah apabila datang waktu malam, beliau berjalan bersama Aisyah dan berbincang-bincang dengannya.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

10.  Lomba Lari dengan Istri
Suatu ketika dalam sebuah rombongan, Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh para sahabatnya untuk berjalan terlebih dahulu. Kemudian beliau berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah. Kuajak kamu adu cepat lari.” Lalu Aisyah dan berhasil mengalahkan Nabi. Saat itu tubuh Aisyah masih terlihat kurus.

Pada kesempatan lainnya, Aisyah kembali menemani perjalanan Rasulullah. Lagi-lagi beliau meminta para sahabatnya untuk berjalan terlebih dahulu. Lalu beliau berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah! Kuajak kamu adu cepat (lari).” Saat itu badan Aisyah sudah tidak sekurus dahulu pada saat perlombaan pertama, lalu Aisyah berkata, “Bagaimana aku bisa beradu cepat denganmu ya Rasulullah sedangkan badanku begini?” Rasulullah bersabda, “Ayolah lakukan!”

Lomba lari pun dilakukan dan Rasulullah memenangkan perlombaan lalu dengan riangnya berkata, “Ini balasan atas kekalahanku yang dulu.”  Kisah ini di dapat dari hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad dalam riwayat Ibnu Majah, sanad hadist ini sahih menurut syarat Bukhari.

SETELAH BULAN MADU KEDUA

Setelah bulan madu kedua, insya Allah Anda dan suami menjadi tim yang lebih kompak dalam menjalankan visi misi keluarga menuju jannah-Nya. Lalu, jangan biarkan cinta yang merekah setelah second honeymoon ini menjadi kuncup. Terapkan romantisme ala Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam dalam kehidupan sehari-hari Anda.

Siapkan pula selembar kertas, lalu tuliskan bersama suami, rencana bulan madu ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya!

Seperti yang dikatakan Tomi Satryatomo kepada istrinya, Muslimah penulis buku-buku best-seller, Helvy Tiana Rosa, “We are not having a second honeymoon. We are having forever honeymoon.”