Panduan Memilih Rumah Islami


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia Edisi Februari 2012

“Ke mana, ke mana, ke mana... Kuharus mencari ke mana?” Ghulam, anak Intan yang berusia 4 tahun terus menggumamkan lirik tersebut. Intan tentu saja gusar, seingatnya ia telah berusaha menjaga sang anak dari pengaruh televisi atau pertemanan yang kurang baik. Intan berkisah pada suaminya, yang ternyata juga prihatin akan hal yang sama.

“Mungkin, kita perlu cari kontrakan baru, Dik. Jangankan Ghulam yang otaknya masih seperti spons, menyerap apa saja yang dia lihat atau dengar. Mas juga kalau sedang mengaji jadi terganggu sama lagu-lagu dangdut itu,” ujar Agung serius.

Kegundahan Intan dan Agung bersumber dari satu hal, hanya berjarak beberapa meter dari rumah kontrakan mereka, kini dibangun sebuah aula desa. Setiap akhir pekan, dari pagi hingga tengah malam, alunan lagu-lagu dangdut terdengar dari aula tersebut. Mengapa demikian? Tentu saja karena banyak yang masih salah kaprah tentang hakikat walimatu ‘ursy! Sehingga setiap ada pernikahan digelar di sana, selalu penuh nyanyian dan tarian. Astaghfirullah.

Intan menghela napas, “Iya, Mas. Adik setuju. Sambil menabung untuk membeli rumah yang ideal bagi keluarga kita. Memang sebaiknya kita pindah ke kontrakan lain.”

“Bismillah, Dik. Yuk, cari yang dekat masjid. Rasanya Ghulam sudah cukup umur untuk Mas ajak ke masjid,” Agung tersenyum manis. Intan membalasnya, tidak kalah manis.

Tidak hanya Intan dan Agung. Banyak Muslim dan Muslimah lain yang berkeinginan memiliki tempat tinggal yang Islami. Nisrina, misalnya. Sejak diterima di Institut Teknologi Bandung beberapa bulan lalu, ia masih menumpang di kamar kos kakak sepupunya. Tetapi kosan kakak sepupunya yang bercampur antara lelaki dan perempuan membuatnya tidak nyaman. Nisrina ingin pindah! Kalau bisa, ke kosan khusus Muslimah yang ada jadwal Tahajud-nya.

Atau Salahuddin, yang setelah menabung selama sepuluh tahun, ingin membelikan rumah untuk istri dan kedua anaknya. Puluhan brosur perumahan sudah ia pelajari satu per satu. Tetapi ia masih saja bingung. Banyak yang ia pertimbangkan, desain rumah, akses kendaraan umum, keamanan, lokasi masjid, hingga tetangganya.

Bagaimana ya Islam mengajarkan kita dalam membeli rumah, memilih kontrakan, bahkan kamar kos?

MEMILIH PASANGAN SHALIH

Ini tahap pertama yang harus diperhatikan sebelum memilih rumah. Lho, apa hubungannya memilih rumah dengan pasangan shalih? Bagi yang belum menikah, mencari pasangan yang hidupnya berorientasikan ridha Allah adalah hal utama untuk mewujudkan rumah Islami kelak. Sayang apabila meskipun rumah kita berada dekat dengan masjid namun sang suami tidak terpanggil hatinya untuk melangkahkan kaki ke rumah Allah.

Bagi yang Alhamdulillah telah dikaruniai pasangan yang insya Allah shalih/shalihat, bersama saling membimbing dan memperbaiki diri agar semakin dekat dengan Allah juga merupakan hal utama sebelum mencari rumah Islami. Sehingga rumah nantinya tidak hanya berwujud bangunan fisik, melainkan rumah penuh kebahagiaan, madrasah generasi unggul yang didambakan ummat, dan penuh rahmat.

TETANGGA ATAU LINGKUNGAN YANG BAIK

Setelah memilih dan saling membimbing pasangan untuk bersama menshalihkan diri, hal paling krusial lainnya adalah memilih tetangga atau lingkungan yang baik. Hal ini diajarkan Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits riwayat Al Khatib, “Pilihlah tetangga sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian).” RasulullahSallallahu ‘alayhi wa sallam bahkan juga berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk di tempat pemukiman.” (Hadits riwayat Ibnu ‘Asakir)

Bayangkan saja apabila memiliki tetangga yang berakhlak buruk, selain hati kita tidak nyaman, sulit bagi kita menjalin silaturrahim yang penuh manfaat dengannya. Pun kasihan anak-anak karena tidak mendapat teladan yang baik. Akan tetapi, alangkah indahnya apabila kita berada dalam lingkungan yang penuh nilai-nilai Islam, akrab, saling tolong menolong, dan senantiasa mengajak kepada kebaikan.

Beberapa pengembang perumahan sekarang juga menyasar kebutuhan akan lingkungan yang baik bagi Muslim dan Muslimah. Di antaranya adalah Bumi Darussalam di Depok dan Bukit Adz-Dzikra di Sentul. Bumi Darussalam memulai pembangunan dengan membangun masjid di tengah-tengah komplek hunian sebagai tempat utama para penghuni menyatu dalam ibadah dan berinteraksi antara satu warga dengan warga penghuni lainnya. Tujuannya, dibangunnya masjid akan memudahkan penghuni melangkahkan kaki untuk menunaikan kewajibannya. Uniknya, masjid dibangun dekat dengan pusat-pusat kegiatan lainnya seperti taman bermain atau fasilitas olahraga.

Sementara Bukit Adz-Dzikra, dengan tokoh sentral Ustadz Arifin Ilham yang juga tinggal di sana, serius merancang program-program ruhani di kompleks tersebut. Masjid Muammar Qaddafy yang berada di depan kompleks menjadi tempat berbagai pengajian dan acara keislaman. Selain itu, penghuni kompleks juga diharuskan shalat berjamaah di masjid dan dilarang merokok.

BERLOKASI DEKAT MASJID 

Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, "Shalat seseorang dengan berjama'ah itu melebihi salatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk shalat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan salat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada di tempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon, ‘Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.' Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat semenjak menantikan tiba waktu shalat." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Alangkah menyenangkannya apabila setiap waktu shalat kita dapat mendengar adzan dari masjid dekat rumah. Lalu sang ayah mengajak anak lelaki untuk bersegera ke masjid, sementara ibu dan anak perempuan berjamaah di rumah. Selain itu, di masjid juga biasanya diadakan pengajian dan kegiatan sosial lainnya yang akan lebih mudah diikuti anggota keluarga apabila lokasinya berdekatan.

AULIA pernah berada di sebuah masjid perumahan depan Terminal Cirebon. Perumahan tersebut tidak besar, begitu pula dengan masjidnya. Tetapi masjid ditata amat rapi dan indah. Ketika adzan berkumandang, anak-anak yang sedang bermain sepeda segera menuju masjid untuk shalat berjamaah. Berisik memang, sewaktu rombongan anak-anak itu tiba. Tetapi, dalam hati terasa damai melihat anak-anak tersebut bergembira shalat berjamaah di masjid.

LUAS DAN INDAH

Lalu apa lagi pertimbangan saat akan memilih rumah Islami? Apabila Allah memberi rezeki untuk bisa memilih rumah yang cukup luas, maka kita dapat menerapkan konsep pemisahan ruang tamu untuk lelaki dan perempuan. Juga dapat menjalankan pula ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallamuntuk memisahkan kamar anak lelaki dan perempuan, kamar privat untuk suami istri, hingga sekat yang menjaga agar asisten rumah tangga terjaga auratnya.

Rumah luas juga memudahkan keluarga dalam menyediakan mushola, perpustakaan, taman untuk anak-anak bermain, hingga kolam renang keluarga yang melindungi aurat anggota keluarga. RasulullahSallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda mengenai hal ini, “Di antara kebahagiaan seorang muslim ialah mempunyai tetangga yang shalih, rumah yang luas, dan kendaraan yang meriangkan.” (Hadits riwayat Ahmad dan Al Hakim)

Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa, "Ya Allah, ampunilah dosaku, luaskanlah rumahku, berilah barakah dalam rezekiku! Kemudian beliau ditanya, ‘Mengapa doa ini yang banyak engkau baca, ya Rasulullah?’ Maka jawab Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam: ‘Apa ada sesuatu yang lain yang kamu cintai?’" (Hadits riwayat Nasa'i dan Ibnu Sunni)

Selain itu, yang juga amat penting, tatalah rumah agar tampak rapi dan indah. Seperti apa pun rumah yang atas izin Allah sanggup kita sewa atau beli, tindakan sederhana membersihkannya setiap hari, menghias dengan kaligrafi, atau menata taman cukup untuk mewujudkan rumah nan cantik. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Sesungguhnya Allah indah dan senang kepada keindahan.” (Hadits riwayat Al-Baihaqi)

"Sesungguhnya Allah itu baik, Dia suka kepada yang baik. Dia juga bersih, suka kepada yang bersih. Dia juga mulia, suka kepada yang mulia. Dia juga dermawan, sangat suka kepada yang dermawan. Oleh karena itu bersihkanlah halaman rumahmu, jangan kamu menyerupai orang-orang Yahudi." (Hadits riwayat Tarmidzi)

FUNGSIONAL DAN SYAR’I

Rumah luas dan indah bukan berarti bermewah-mewahan. Sifat qana’ah (merasa cukup) dan sikap sederhana akan menjadikan hati terasa lebih tenang. Dengan demikian, kita tidak merasa perlu membentengi rumah kita dengan pagar berduri setinggi tiga meter hanya agar bisa tidur nyenyak. Lagipula, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).” (Al-Quran surat At-Takatsur ayat 1-3)

Bagian dari tidak bermegah-megahan adalah menjaga agar apa yang ada dalam rumah kita hanyalah barang-barang fungsional yang kita perlukan. Dari Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu, “RasulullahShalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sebagian tanda dari baiknya keIslaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.” (Hadits riwayat Tirmidzi)

Lalu bagaimana memilih rumah yang syar’i? Pertama, carilah rumah yang dapat menjaga aurat anggota keluarga. Pintu masuk bisa dibuat menyamping dan tidak langsung memperlihatkan isi kamar. Kemudian kamar anak perempuan dan lelaki haruslah terpisah. Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallambersabda, “Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika berusia sepuluh tahun (bila belum mau mengerjakan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan).” (Hadits riwayat Abu Dawud)

Kedua, jagalah hijab dengan penghuni rumah yang bukan mahram. Ini adalah hal penting yang sering terlupakan. Asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti saudara tetap saja bukan mahram. Jadi kita harus menyediakan hijab yang layak untuknya seperti kamar dan kamar mandi yang menjaga auratnya. Hal yang sama berlaku kepada saudara sepupu yang tidak sepersusuan dan saudara ipar.

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Janganlah kalian menjumpai wanita-wanita (yang bukan mahram).” Lalu ada seseorang bertanya, ”Ya, Rasulullah, bagaimana (hukumnya) dengan ipar?” Beliau bersabda,”Saudara ipar itu maut.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketiga, tetapkanlah ruang untuk shalat yang layak. Pilih tempat yang kita akan nyaman berlama-lama sujud dan ruku’ kepada Allah. Ruang tersebut juga harus terjamin bersih dari najis.

Keempat, kloset kamar mandi tidak boleh menghadap ke kiblat atau membelakanginya. Ini sesuai hadits Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam berikut, “Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Apabila engkau ke kamar kecil (toilet), janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air kecil atau buang air besar.” (Hadits riwayat Muslim)

JANGAN LIBATKAN HAL-HAL SYIRIK

Sebagian dari masyarakat Indonesia masih percaya tentang hari baik untuk pindah rumah berdasarkan Primbon (kitab rujukan tentang kehidupan sehari-hari yang tidak ada landasannya dalam Islam). Seperti misalnya, pindahan pada hari Jumat Kliwon itu Demang Kandhuwuran atau tidak baik. Padahal, Jumat adalah hari yang baik menurut Islam. Tidak ada hari yang buruk. Karena itu, jangan libatkan hal-hal syirik semacam ini ketika akan memilih rumah.

Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa dalam memilih rumah harus memerhatikan Feng Shui. Baik dari segi lokasi, arah menghadap rumah, hingga penempatan perabotan. Padahal, selama rumah tersebut dapat menutupi aurat penghuninya, kloset tidak menghadap atau membelakangi kiblat, dan diperoleh dari harta yang halal, insya Allah rumah tersebut baik. Kita tidak perlu dan tidak boleh berpedoman pada kompas atau topografi Cina Kuno yang tidak ada dalilnya tersebut.

Salah satu yang menjadi mitos adalah bahwa rumah bernomor 13 atau berposisi tusuk sate akan membawa kesialan juga tidak boleh kita yakini. Ustadz Ahmad Sarwat, Lc dalam situsnya menjawab pertanyaan seseorang terkait posisi rumah tusuk sate. Sang penanya bingung menjelaskan kepada keluarganya bahwa tidak ada yang salah dengan rumah berposisi tusuk sate yang akan dibelinya. Ustadz Sarwat menuturkan, bahwa sebagai muslim, kita wajib percaya bahwa tidak ada yang bisa mencelakakan kita kecuali atas izin Allah ta’ala.

Kepercayaan bohong itu dikembangkan oleh para syetan yang pekerjaannya memang menipu manusia dan membisikkan kepercayaan jahat di dalam hati manusia. Hanya saja seringkali dikemas dengan nama dan istilah yang berbeda-beda. Terkadang kepercayaan syirik itu dianggap sebagai nasehat orangtua, sehingga seolah kalau tidak dipercayai akan menimbulkan bencana tertentu. Apabila masih ada orangtua yang mempercayai hal ini, maka dapat kita jelaskan dengan baik-baik.

UNDANGLAH MALAIKAT RAHMAT 

Setelah memilih rumah, maka pastikan Malaikat Rahmat berkenan masuk ke rumah kita. Bagaimana caranya? Selain menjaga agar nilai-nilai keIslaman selalu hadir dalam aktivitas kita, jangan pelihara anjing dan jangan letakkan lukisan dan patung yang menyerupai makhluk bernyawa. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

“Malaikat Rahmat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.”
Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam menegaskan ini sewaktu beliau pulang dari bepergian, lalu mendapati di tengah rumah terdapat tabir bergambar. Beliau memanggil istrinya, Aisyah radhiallahu ‘anha dan bersabda, “Hai Aisyah! Sekeras-keras siksa manusia pada hari kiamat adalah yang menyaingi bikinan Allah.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Maka Aisyah radhiallahu ‘anha pun segera memotong-motong tabir tersebut dan dijadikan bantal.

RUMAH DI AKHIRAT 

Hal terakhir yang perlu diingat dalam memilih rumah, apabila kita mempertimbangkan dan merencanakan dengan serius saat akan memilih rumah di dunia, maka kita harus lebih serius dalam merencanakan rumah kita di akhirat kelak. Rumah yang akan abadi menjadi tempat tinggal kita. Kita tentu mau punya rumah yang berdekatan dengan Rasulullah, berpandangkan telaga Kautsar di syurga Firdaus nan teramat indah, bukan? Karena itu, mari siapkan juga rumah di akhirat nanti.

Mulailah berpikir dan berhitung, apa saja yang diperlukan untuk membangun rumah di syurga? Mata uang apa yang dapat digunakan untuk membeli bahan-bahannya? Apa saja yang harus kita lakukan untuk mendapatkan mata uang tersebut? Juga, bagaimana caranya agar kita berhak mendapat ‘kavling’ di syurga? Renungan ini perlu kita tanyakan terus menerus, sehingga setelah kita mewujudkan rumahku syurgaku di dunia, suatu saat kita dapat mengatakan, “Syurga ini rumahku.” Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

4 Comment(s):

PermataSawangan said...

terima kasih atas panduannya.. semoga bisa membantu yang lain

Anonymous said...

Subhanallah,, tulisan ini sangat bermanfaat untuk saya. .

Anonymous said...

Terimakasih sangat menginspirasi. Saya ada sedikit ganjalan mungkin dengan share disini dapat memberikan masukan untuk saya.
Saya berencana membeli sebuah rumah yang berada tepat didepan sebuah masjid. Yang menjadi masalah adalah rumah tersebut berada di arah kiblat masjid dan menurut mitos yang dipercaya oleh istri dan keluarganya adalah apabila sebuah rumah dikiblatkan oleh masjid maka yang sering terjadi adalah salah satu penghuni rumah akan mengalami gangguan kejiwaan.
Saya sendiri baru mendengar dan tidak percaya akan mitos tadi akan tetapi karena saya akan tinggal bersama istri mungkin tidak ada salahnya saya mencari tahu tentang hal ini bukan.
Terimakasih sebelumnya untuk segala tanggapan.

Lucky Jember said...

Nice post. Salam kenal, kunbal Agan,.., di http://luckyjember.blogspot.co.id/