Inilah Cita-Citaku: Membangun Rumah Islami


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia Edisi Februari 2012

Fitri menunduk. Dalam pikirannya berkejaran banyak hal. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Bahkan sampai di usia 27 tahun ini, hamba masih saja menyusahkan hati kedua orangtua hamba. Pasti berat untuk orangtua hamba, harus bertanya sana-sini tentang calon suami yang sekiranya tepat bagi hamba.”

“Bagaimana, Nduk? Bapak dan ibumu ini hanya ingin yang terbaik untukmu. Bapak dulu sekamar sama Saifuddin waktu haji. Anaknya baik, sopan, dan yang penting shalih. Jadi insya Allah Bapak yakin Saifuddin bisa jadi imam buatmu,” ucap bapak perlahan, seolah takut menyinggung hati Fitri.

Nggih, Pak. Fitri… izin shalat istikharah dulu ya, Pak, Bu. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk, ketenangan, dan kemantapan tentang keputusan yang sebaiknya Fitri ambil,” jawab Fitri sambil menjaga agar suaranya tidak bergetar. Jantungnya berdebar amat cepat. Bagaimana tidak? Ia sedang dihadapkan pada keputusan mahapenting dalam hidupnya.

Hari kelima. Pertanyaan kelima. “Apakah Mas Saifuddin berkenan menceritakan tentang situasi sehari-hari di rumah Mas? Bagaimana penerapan nilai-nilai Islam dalam keluarga? Seperti apa konsep rumah Islami yang akan Mas usahakan di keluarga Mas kelak?”

Your message has been sent.

Setelah shalat istikharah dua minggu lalu, Fitri menyatakan kesiapannya untuk diperkenalkan kepada Muhammad Saifuddin. Seseorang yang dikenal ayahnya tiga tahun lalu. Pemuda sederhana yang meski dari keluarga berbeda tetap ke mana-mana naik sepeda. Dahulu, di kampusnya ia tinggal di asrama masjid sebagai marboth. Kini sedang mengembangkan usaha percetakan dan penerbitan buku-buku Islami. Tidak banyak yang ia bisa peroleh dari perkenalan satu jam yang sebagian besar justru diisi nostalgia Bapaknya dan Saifuddin tentang pengalaman haji mereka. Karena itu ia meminta syarat untuk mengenal Saifuddin lebih jelas dengan cara “menginterogasinya” selama satu bulan sebelum ia mengambil keputusan.

“Interogasi” tersebut dilakukan secara tertulis. Tiga puluh hari. Tiga puluh pertanyaan. Berisi hal-hal yang lebih personal seperti visi hidup, interaksi dengan Alquran, pendapatnya tentang Palestina, pendidikan anak, dan lainnya.

Hari ini, Fitri mengirim email pertanyaan kelima. Empat pertanyaan sebelumnya telah dijawab Saifuddin dengan baik. Fitri mengeprint setiap jawaban Saifuddin untuk ditunjukkan kepada bapak dan ibunya.  Alhamdulillah, Fitri dan keluarga semakin yakin bahwa Saifuddin insya Allah adalah calon suami yang terbaik dari Allah.


Friday, January 06, 2012 at 2:49 PM.
From: Muhammad Saifuddin (saifuddin.mhmmd@examplemail.com)
             
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dik Fitri, di Jumat penuh berkah ini, izinkan saya sedikit bercerita tentang rumah keluarga saya. Alhamdulillah, saya dilahirkan dalam keluarga yang memegang teguh nilai-nilai Islam. Situasi di rumah saya amat kondusif untuk membuat saya dan ketiga adik belajar agama secara menyenangkan. Mushola yang terletak di dekat kolam ikan, membuat kami senang berlama-lama di sana setelah shalat. Belajar mengaji, membaca buku, bahkan tidur di sana.

Ayah saya hampir selalu shalat di masjid. Akan tetapi, shalat sunnah beliau tunaikan di rumah. Saya diajak untuk mengikuti ayah ke masjid, minimal sewaktu Subuh, Maghrib, dan Isya. Ibu saya senang mengadakan pengajian di rumah. Setiap Senin dan Kamis, beliau rajin menyiapkan sahur dengan menu istimewa. Setelah Subuh, makanan tersebut diberikan kepada tukang sampah yang lewat di depan rumah. Sehingga, yang tidak berpuasa, tidak bisa merasakan hidangan spesial Ibu dan harus memasak sendiri bila hendak makan. Unik memang, cara beliau membiasakan kami berpuasa.

Ada banyak kisah-kisah lucu lainnya tentang upaya orangtua saya mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya. Insya Allah, apabila kita ditakdirkan menikah, saya akan menceritakannya. Sementara itu, rumah Islami yang saya akan usahakan kelak, insya Allah saya siap mencari ilmu lebih banyak tentangnya dan mendiskusikannya dengan istri. Rumah bahagia yang didasari Alquran dan Hadits, rumah yang menjadi surga di dunia, adalah salah satu cita-cita terbesar saya.

Akan tetapi, untuk saat ini, sebagaimana yang diinginkan Dik Fitri, saya akan mencoba member gambaran lebih detail mengenai konsep rumah Islami yang akan saya usahakan dalam keluarga saya kelak. Mudah-mudahan penjelasan di bawah memadai untuk itu.

FIRMAN ALLAH TENTANG RUMAH
           
Dik Fitri tentu setuju, bahwa dalam menjalani kehidupan ini, kita telah diberi sepaket petunjuk yang terbaik; Alquran dan Hadits. Karena itu, saat membutuhkan arahan, maka kita harus mencari, bahkan berlari kepada Alquran dan Hadits terlebih dahulu. Search engine di Internet seperti Google atau buku-buku terbitan manusia, itu rujukan kedua yang perlu diseleksi secara teliti tentang kebenarannya. Sementara Alquran dan hadits, tidak diragukan lagi kandungannya.

Sebelum saya menjelaskan cita-cita rumah Islami, mari kita bersama-sama telaah firman Allah ta’alamengenainya. Allah menyebut tentang Rumah dalam Alquran dengan beberapa kata,  al bait, al maskan, dan ad dar. Al bait disebut salah satunya dalam Surat Al-Mulk ayat 11, “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, (yaitu) istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”
             
Al maskan contohnya disebut dalam surat At-Taubah ayat 72, “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”

Sementara kata ad dar ada dalam surat Al-An’am ayat 127, “Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan.”

UNTUK DUNIA AKHIRAT

Dik Fitri, bukankah amat indah rumah-rumah yang Allah kisahkan dalam kitab suci Alquran tersebut? Tentang doa Asiyah radhiallahu ’anha istri Fir’aun yang meminta rumah di sisi Allah dalam surga. Tentang rumah di Surga ’Adn lengkap dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Juga tentang rumah yang damai di sisi Allah. Karena itu, sudah seyogyanya kita tekadkan, visi tentang rumah tidak boleh hanya berorientasi dunia. Harus satu paket, dunia akhirat!

Belum lama ini saya membaca tulisan Zein Mudjiono, seorang tokoh arsitektur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menurutnya, rumah Islami harus mampu menjadi sarana meraih dua tujuan hidup. Pertama, kesejahteraan dunia, yang meliputi rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah), terjaminnya pendidikan anak, berlangsungnya siklus biologis, ukhuwah Islamiyah, silaturrahim, pembentukan pribadi muslim, karier yang sukses, dan kesehatan yang terpelihara. Kedua, kesejahteraan akhirat yang meliputi termudahkannya pelaksanaan ibadah mahdah, proses mu’amalah, dan mampu menjauhkan penghuninya dari hal-hal yang haram maupun makruh.

Saya juga tertarik dengan tulisan Sahar Kassaimah yang berjudul ”Islamic Family Values in an Anti-Family Society”. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa rumah bukan sekadar tempat untuk makan dan tidur. Ya, rumah memang tempat di mana kita menghabiskan sebagian besar waktu kita dalam kebersamaan keluarga. Karena itu, jadikanlah rumah sebagai tempat untuk beribadah. Apa-apa yang terkait dengannya pun harus sesuai dengan tuntunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka akan hadirlah suasana rumah Islami yang sakinah. Sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu ’alayhi wa sallam berikut, ”Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan.” (Hadits riwayat Imam Ahmad, Al Hakim, dan At Tarmidzi)

Masya Allah, betapa beratnya amanah dalam membangun rumah demi kebaikan dunia akhirat itu! Itulah sebabnya di awal email ini saya menulis bahwa saya akan mendiskusikan terlebih dahulu kepada istri, tentang visi rumah yang kelak akan diperjuangkan. Agar satu tujuan, satu cara mencapainya pula. Insya Allah.

TEMPAT MENGINGAT ALLAH

Baiklah, pun bila ada satu hal yang telah saya putuskan sebelum diskusi dengan istri saya nantinya, adalah rumah tanpa televisi. Rumah yang riuh rendah akibat televisi yang menyala tak kenal waktu sama sekali bukan impian saya. Bukankah tanpa bising layar kaca tersebut, hati kita saja terkadang sudah amat ramai? Karena itu, yang saya inginkan adalah mendamaikan rumah dan hati dengan alunan ayat suci dan dzikir. Hingga setiap relung rumah adalah refleksi penghambaan keluarga kepada Allah.

Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Perumpamaan rumah yang digunakan untuk berdzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk berdzikir, laksana perbandingan orang yang hidup dengan yang mati.” (Hadits riwayat Muslim)

Maka itu, Dik Fitri, jika saya diharuskan menjelaskan konsep rumah Islami dalam satu kalimat; rumah Islami adalah yang senantiasa dihiasi dzikir kepada Allah.  Dzikir Al-matsurat setiap pagi dan petang. Saling mengajak untuk shalat tepat waktu. Hapalan Alquran menjadi menu pertanyaan sehari-hari. Murattal ayat-ayat suci mengiringi aktivitas. Diskusi tentang ilmu agama. Perpustakaan dengan buku-buku Islami.

Rasanya apabila Allah memberi petunjuk dan kekuatan untuk mewujudkan rumah sedemikian, ujian hidup apa pun yang sedang diterima, kita akan kuat menghadapinya. Sebagaimana dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang,” rumah pun akan terasa sakinah bila jiwa penghuninya selalu tersandarkan kepada Allah.

SARANA TARBIYAH
           
Apakah jawaban saya kali ini terlalu panjang untuk pertanyaanmu, Dik? Jika demikian, maafkanlah. Tetapi seperti yang Dik Fitri pernah sampaikan, pernikahan adalah proyek mahabesar. Maka semakin banyak yang kita siapkan menjelangnya, akan lebih baik.

Dik Fitri, insya Allah, dengan izin-Nya, suatu hari nanti kau akan menjadi seorang ibu. Al ummu madrasatul ula, seorang ibu adalah sekolah pertama. Maka rumah Islami sudah semestinya menjadi sarana yang mendukung pendidikan (tarbiyah) dari orangtuanya. Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga perkara: cinta kepada Nabimu, cinta pada keluarganya, dan membaca Al Quran." (Hadits riwayat Ath-Thabrani)

Maka telah dapat saya bayangkan, rumah Islami adalah rumah dengan kurikulum tarbiyah yang jelas. Pemimpin-pemimpin ummat yang sholih, cerdas, kreatif, dan bijaksana tumbuh dengan pendidikan yang baik. Inilah tekad saya, inilah janji saya; untuk berupaya sekuat tenaga mendidik amanah berupa keluarga dengan sebaik-baiknya. Caranya bagaimana? “Sesungguhnya telah ada dalam (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik.” (Alquran surat Al-Ahzab ayat 21)

Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam mendidik anak-anak dengan penuh cinta, penuh kebahagiaan. Maka pendidikan apa pun, baik membaca ayat-ayat qauliyah (firman Allah dalam Alquran) maupunkauniyah (ciptaan Allah, alam semesta dan seisinya), saya inginkan ada dalam suasana menggembirakan. Tidak akan ada cerita, belajar membaca Alquran dengan penggaris kayu memukul tangan anak apabila ada kesalahan. Atau ancaman hukuman jika tidak menurut.

Konsep rumah Islami lekat dengan istilah baiti jannati, rumahku surgaku. Makna surga ini bukanlah wujud fisik rumah yang megah bak istana. Tetapi kedamaian dan kebahagiaan di dalamnya saat seluruh keluarga dengan penuh senyum, tawa, dan kasih sayang, bersatu menjalani hari-hari di rumah untuk tujuan surga di akhirat. Surga di dunia, surga di akhirat, apalagi yang mungkin lebih membahagiakan dari itu?

PEMBERI MANFAAT BAGI SEKITAR

Tetapi, selain menjadi tempat mengingat Allah, sarana tarbiyah, sebuah rumah Islami haruslah penuh manfaat bagi sekitar. Berkontribusi kepada lingkungan adalah amal shalih yang perlu dijalankan seiring upaya menanamkan keislaman di dalam rumah kita. Apabila masjid dekat rumah kita masih sepi dari jama’ah dan program-program Islami, masukkan ini sebagai pekerjaan rumah yang harus ditunaikan.

Musyawarah dengan Muslim dan Muslimat lain yang sepaham, lalu kerjakan sedikit demi sedikit. Hingga insya Allah, kita akan merasakan nikmatnya bertetangga dengan orang-orang yang memakmurkan masjid. Anak-anak yang riang datang belajar mengaji setiap sore ke masjid. Bapak-bapak yang lima waktu saling bersalaman, berdiskusi tentang kemaslahatan ummat, setiap kali usai berjamaah di masjid. Ibu-ibu yang rutin mengadakan pengajian, khitanan massal, santunan bagi anak yatim, dan lain sebagainya.

Aula desa yang tidak hanya dipakai setiap ada penyuluhan dari dinas atau menjadi puskesmas bulanan, tetapi kita hidupkan menjadi perpustakaan gratis. Buku-buku untuk anak, majalah, surat kabar, semuanya lengkap! Ada akses Internet yang diawasi penggunaannya. Ada pegawai yang digaji dari hasil patungan warga.

Petugas kebersihan, satpam penjaga keamanan, anak-anak yatim dan keluarga dhuafa yang bahagia karena setiap bulan mendapat sedekah terorganisir dari masyarakat. Pertandingan olahraga yang membuat dari mulai anak-anak hingga lansia semangat berlatih voli, sepak bola, sampai senam yang tepat untuk para kakek dan nenek. Saling kenal, saling sayang. Saling hormat, saling mengajak pada kebaikan. Luaskanlah surga di dalam rumah kita hingga ke berbagai penjuru. Indah ya, Dik?
             
Wallahu a’lam bisshowab. Begitulah Dik Fitri, konsep rumah Islami yang tidak pernah luput dari daftar munajat saya kepada Allah, agar Allah memampukan saya menjadikannya nyata. Semoga Dik Fitri berkenan dengan jawaban saya kali ini. Sampaikan salam hormat saya kepada Bapak dan Ibu.
             
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Di tengah derasnya hujan Kota Bogor,
Hamba Allah yang penuh khilaf,
Muhammad Saifuddin.

1 Comment(s):

muhammad sungkar said...

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم


Dear Ikhwah,

Kebetulan ana tinggal diJakarta & tertarik dibidang ini, Ulamaussalaf selalu mengedepankan anak2 mereka dalam hifdhulquraan.(menghapal Al-Quraan)

Disisi lain banyak orang yg menginginkan anak2 mereka tdk saja mempelajari ilmu diin (ilmu agama) tetapi juga dunia.

Yg terjadi dilapangan adalah justru anak2 kita tidak belajar لادين ولادنيا (ga belajar ilmu agama juga sedikit yg ia dapet dari ilmu dunia),

Contohnya: PPKN/PMP, Kesenian, Penjas masa anak2 kita disuruh belajar yang kaya ginian trus terang "it's a waste of time", ana ga mengatakan bahwa semua mata pelajaran disekolahan ga berguna, tetapi mengapa kita tidak mempelajari yg penting2 saja, masa anak2 kita disuru belajar semua mata pelajaran yang ada disekolahan sedangkan kita melupakan pendidikan agama (yg selalu dianaktirikan disekolah2) pun kalo ada atau bahkan ditekankan pendidikan agamanya disekolah2 tertentu adakah atsar dari anak2 tsb, jawabannya hampir tidak ya akhi, jelas semua ini adalah konspirasi.

Ana punya sohib ketika diYemen bernama Abu Danial, Warga Negara Inggris berprofesi sebagai Pengusaha yang sempat tinggal beberapa tahun Yemen sebagai penuntut ilmu طالب علم ., anak2nya mengikuti Homeschooling yang dipelajari hanyalah: Matematika & English. 2 mata pelajaran ini adalah yg wajib dipelajari anak2 warga negara inggris.

Inilah mengapa mereka bisa "MAESTRO" disuatu bidang, bukan kaya kita semua dipelajari, Allah yu'inna bas (semoga Allah melindungi kita).

Anak2 Abu Danial tsb masyaallah salahsatunya hafidhalquraan & itu sudah akhi englishnya jago, matematikanya hebat, anak2 kita bisa apa paling poll kasingnya doang Allahulmusta’an.
Smg kita, kaluarga kita, anak2 kita menjadi orang2 yg bisa memanfaatkan waktu dengan benar.


La ini ana punya ide yg insyaallah implementable ana tegaskan insyaallah "implementable banget" ttng pendidikan ide ana yaitu " International Islamic Homeschooling".

Bagi yg suka tukar pikiran dlm masalah ini hayyakallah tafadhdhal hubungi ana:
Muhammad Sungkar 0878-7557-1063

Semoga kita dikumpulkan dijannatulfirdaus ala'la bersama para rosul, anbiya,sahabah, shuhada, salihin, serta yg mengikuti mereka.