Indahnya Kehidupan Islami di Yala


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia edisi Januari 2012

“Gunakan kunci ganda, waspada Curanmor!” atau “Hati-hati, daerah ini rawan penjambretan!” Spanduk peringatan semacam itu jamak ditemui di Indonesia. Terlebih di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lainnya.
Selain itu, stiker-stiker “Awas copet!” tertempel di kaca-kaca kendaraan umum seperti bus atau kereta rel listrik. Hal yang paling menyedihkan, bahkan di mushola atau masjid, tulisan “Letakkan barang dalam jangkauan penglihatan Anda. Hati-hati, telah terjadi banyak pencurian.”

Terkadang, saat membaca surat kabar, di mana tindak kriminalitas merajai halaman demi halaman berita, terbersit dalam benak kita, “Kapankah lingkunganku terbebas dari ancaman pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan? Bagaimana cara agar anak-anakku kelak terlindungi dari pengaruh negatif pergaulan bebas dan perilaku tidak Islami? Haruskah aku pergi ke negeri di atas awan untuk menemui suasana sesuai tuntunan Al-Quran dan Hadits?”

Ternyata, tidak perlu jauh-jauh ke negeri di atas awan. Di sebuah tempat yang berjarak tiga jam penerbangan dari Jakarta, dapat kita temui situasi semacam itu. Bukan daerah yang sempurna, tentu. Tetapi di daerah ini tidak pernah terjadi pencurian, perampokan, apalagi pemerkosaan. Daerah yang penduduknya menjaga nilai-nilai Islam sebagai napas kehidupan sehari-hari. Daerah yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas. Daerah yang seluruh penduduknya berhijab.

Daerah itu bernama Kampung Teluk, Provinsi Yala, Thailand Selatan.

MEMULIAKAN TAMU

Salah satu yang paling berkesan saat perjalanan Halal Trip ini adalah kesungguhan warga Kampung Yala dalam memuliakan tamu. Pada awalnya, saya menyangka akan dijemput dari Bandar Udara Hat Yai oleh Kak Adeellah untuk selanjutnya menuju Yala dengan kereta rel listrik. Ternyata yang dimaksud kereta adalah mobil dalam bahasa Melayu.

Tidak tanggung-tanggung, ada lima orang yang menjemput kami dengan mobil van berkapasitas 12 orang. Imam kampung, istri imam yang biasa dipanggil Mama Azizah, Kak Nuriyah, Kak Adeellah, dan Pak Ibrahim. Selama empat hari tiga malam, ke mana pun kami pergi, imam dan beberapa warga Kampung Teluk selalu mengantarkan kami.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (Hadits riwayat Bukhari)

Terasa betapa warga Kampung Teluk berusaha sebaik-baiknya mengamalkan hadits Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam tersebut. Kami dijamu dengan banyak makanan khas Thailand dari satu rumah ke rumah lain. Bahkan di malam terakhir sebelum saya pulang, Mama Azizah sampai bercanda, “Kalian tidak boleh tidur malam ini.”

Ternyata ucapannya itu benar. Ada begitu banyak warga yang masih ingin menjamu kami hingga di malam tersebut kami makan beberapa kali di rumah berbeda. Suasana amat hangat dan akrab. Kami pulang dari rumah salah satu warga yang menjamu pukul 12 malam. Rasa senang akan persaudaraan yang terjalin mengalahkan kantuk dan letih kami.

Selama di Yala, kami terus diantar oleh Imam Harun, Mama Azizah, Kak Adeellah, dan warga lainnya ke tempat-tempat yang akan kami tuju. Bahkan untuk mengeluarkan uang saat hendak membayar makanan atau minuman saat di Kota Yala atau Pattani, kami selalu dicegah. Seluruh makanan dan minuman saat di warung makan selalu dibayari Imam Harun. Mereka justru akan “tersinggung” apabila kita memaksa membayar.

Saya sempat merenung, apakah selama ini sudah maksimal dalam memuliakan tamu sebagaimana kali ini saya dijamu oleh warga Kampung Teluk dengan sebaik-baiknya? Satu lagi hikmah kehidupan saya petik dari Halal Trip ini, alhamdulillah.

MASJID SEBAGAI PUSAT AKTIVITAS

Suami saya, Ahmad Dawamul Muthi, pengelola Asian Network yang mensponsori Halal Trip  ini sempat mengumandangkan adzan Subuh di Masjid Kampung Teluk. Mas Ahmad bercerita bahwa adzan dapat dilakukan oleh siapa saja yang datang tepat sebelum waktu shalat. Akan tetapi, shalat selalu dipimpin oleh imam kampung. Di Kampung Teluk, berarti selalu dipimping oleh Imam Harun.

Setelah shalat, imam biasanya mengumumkan hal-hal penting yang perlu diketahui oleh warga. Seperti berita pernikahan, musibah, agenda warga, dan lainnya. Sebagai contoh, Imam Harun telah memberitahukan rencana akan ada tamu dari Indonesia dua minggu sebelum kedatangan kami. Dengan demikian masjid menjadi pusat aktivitas yang menyelaraskan kehidupan warga. Persis sebagaimana dicontohkan Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wasallam.

Begitu pula sewaktu ada salah satu warga di daerah utara kampung Teluk yang meninggal dunia, maka imam kampung akan mengumumkannya di masjid. Setelah itu menghubungi imam-imam kampung lain untuk memberitahukannya pula di masjid mereka. Setiap kampung akan mengirimkan sepuluh orang warganya untuk shalat jenazah di kampung tempat tinggal sang almarhum. Di hari ketiga di Yala, Mas Ahmad berkesempatan mengikuti shalat jenazah di kampung seberang yang berjarak dua puluh menitdari Ban Teluk bersama imam.

Menurut penuturan Mas Ahmad, ternyata ada begitu banyak orang yang datang ke prosesi menshalatkan jenazah tersebut. Shalat jenazah pun harus dilakukan dalam dua gelombang karena masjid tidak cukup menampung jamaah yang hadir. Subhanallah.

SOLIDARITAS, WUJUD UKHUWAH ISLAMIYAH

Selain dalam hal pengurusan jenazah, solidaritas warga terlihat dalam banyak aspek kehidupan. Misalnya, apabila ada warga yang sakit atau mengalami kecelakaan, maka biaya rumah sakit ataupun biaya ganti kerusakan kendaraan akan dibantu warga lainnya dengan cara patungan. Atau sebagaimana dikisahkan dalam AULIA edisi Desember 2010, bapak-bapak pun ikut membantu ibu-ibu ketika memasak untuk persiapan acara Taman Pendidikan Kanak-Kanak (Tadika). Bapak-bapak memotong daging, sementara ibu-ibu menyiapkan bumbu dan bahan lainnya untuk memasak Tom Neak (resepnya juga dapat dilihat di AULIA edisi lalu).

Contoh nyata lainnya adalah penggalangan dana khairat (sedekah) oleh masjid-masjid. Saat kami mengunjungi Masjid Sentral Yala. Di depan halaman masjid terbentang sebuah tenda yang berisi beberapa kotak dana khairat, papan bertuliskan jumlah dana yang terkumpul setiap harinya, dan puluhan kardus makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari. Untuk apa? Tujuannya tertera jelas dalam spanduk besar di depan tenda, “Dana Khairat untuk Korban Banjir di Bangkok”.

Tidak hanya itu, memasuki Masjid Sentral Yala, masih terpasang sebuah spanduk lain tentang ajakan berqurban untuk saudara-saudara Muslim di Somalia. Qurban untuk Somalia ini diselenggarakan bekerja sama dengan LSM dari Malaysia. Alhamdulillah, saya bersyukur bisa merasakan suasana penuh ukhuwah Islamiyah yang terbentang melampaui batas geografis sekali pun.

Kisah menyentuh lainnya saya dapatkan saat mengunjungi Masjid Kru Sec yang beberapa tahun silam pernah terjadi insiden penembakan (baca sejarahnya di Liputan Masjid-Masjid Thailand Selatan saya edisi ini). Seraya menikmati Tom Yum di seberang masjid, kami melihat sekelompok pemuda berbaju putih dan berpeci datang ke masjid. Kak Adeellah menunjuk mereka dan berkata bahwa para pemuda tersebut akan mengadakan shalat hajat agar musibah banjir di Bangkok segera usai. Ternyata shalat hajat solidaritas seperti ini banyak dilakukan di masjid-masjid sana.

PENDIDIKAN ANAK, INVESTASI DUNIA AKHIRAT

Saya mencermati, Pemerintah Thailand amat serius mengurus perihal pendidikan di negara ini. Pemerintah, atau biasa disebut sebagai pihak Kerajaan, sangat menghargai para guru yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan tunas bangsa. Kehidupan guru-guru di Kampung Teluk pun terlihat lebih sejahtera.

Contohnya adalah Imam Harun sebagai guru bahasa Thailand dan Miss Rudayah sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Ban Telok, kehidupan mereka tercukupi dengan baik. Bapak Sawadee sebagai dosen Ekonomi di Yala Islamic University pun mengakui bahwa apresiasi pemerintah terhadap pendidik memang baik.

Di daerah Thailand Selatan ini, terdapat dua jenis sekolah. Pertama, sekolah kerajaan yang berbahasa pengantar Thailand. Sekolah ini dapat diakses oleh warga Thailand secara gratis hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tidak hanya dibebaskan uang SPP, buku-buku pelajaran pun diberikan secara gratis kepada seluruh murid.

Kedua, sekolah rakyat yang berasal dari dana swasembada. Biasanya sekolah rakyat ini menggunakan bahasa pengantar Melayu. Materi pelajaran di sekolah ini adalah pelajaran Islam dan tetap mengikuti kurikulum pelajaran lain yang ditetapkan pemerintah.

Akan tetapi, penduduk Kampung Teluk juga menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan sekolah. Karena itu, para orangtua di Kampung Yala bahu membahu merencanakan program demi program untuk mendukung pendidikan anak-anak mereka.

Sebagai contoh, setiap tahun, warga Kampung Teluk mengadakan pesantren kilat yang digelar dengan cara menyenangkan. Biasanya pesantren kilat tersebut diadakan sambil berkemah atau bermalam di sekolah dekat pantai. Materi yang diajarkan saat pesantren kilat bermacam-macam, mulai dari pengetahuan agama dasar hingga pelajaran bahasa Inggris. Mama Azizah berkata bahwa inilah cara yang menyenangkan bagi anak-anak untuk tetap memanfaatkan waktu libur mereka.

Cara menyenangkan lainnya adalah dengan mengapresiasi saat seorang anak lelaki telah berani berkhitan. Setiap anak yang telah dikhitan akan diberikan hadiah. Apakah hadiahnya? Sebuah sepeda baru! Menyenangkan, menyehatkan. Orangtua pun tidak terbebani karena khitan di Thailand tidak dikenai biaya.

Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wasallam memang mencontohkan untuk mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang. Hal ini pula yang dalam beberapa kesempatan disampaikan Imam Harun kepada warga. Salah satunya Imam Harun sampaikan saat khutbah Idul Adha, ketika beliau menekankan tentang pendidikan anak sebagai investasi dunia akhirat. Bahwa dalam membangun baiti jannati, rumahku surgaku, salah satunya adalah dengan sebaik-baiknya menjaga amanah Allah berupa anak.

HIDUP BERJAMAAH, AMAN DAN DAMAI

Imam Harun menceritakan, bahwa bertahun silam, memang terjadi diskriminasi dari pemerintah pusat terhadap kawasan muslim di Thailand Selatan. Akan tetapi, sekarang sudah jauh lebih baik. Provinsi-provinsi berpenduduk mayoritas Islam seperti Yala, Pattani, dan Narathiwat telah mendapatkan perlakuan sama dari segi pendidikan, pembangunan, dan perlembagaan negara.

Di setiap provinsi, terdapat majelis ulama yang mengurus perihal keputusan waktu berbuka puasa, penanggalan hari raya, urusan pernikahan, perceraian, hingga hukum waris. Imam Harun Sakayee merupakan salah satu anggota majelis ulama provinsi Yala. Kedudukannya lebih tinggi dibanding imam kampung dan imam masjid.

“Saya tidak mau tiga wilayah ini berpisah dari Thailand. Saya mau Thailand bersatu menjadi Islam,” tukas Imam Harun disertai takbir dari kami dan beberapa warga yang ikut mendengarkan wawancara kami dengan imam.

Terkait penetapan Yala sebagai daerah yang masuk daftar travel warning beberapa negara seperti Inggris dan Malaysia, Imam Harun mengatakan, “Berita yang beredar di luar banyak tidak benar. Orang luar mungkin tengok (melihat) kami hidup susah. Padahal kami senang hidup berjamaah seperti ini. Di sini amat aman dan damai.”

AMAN SENTOSA

Saya sempat heran melihat dua buah motor terparkir di depan rumah Kak Syakiroh dengan kunci masih menempel. Pemandangan yang benar-benar langka di Indonesia. Keheranan saya semakin bertambah saat melihat hampir seluruh warga terbiasa parkir motor atau mobil dalam keadaan tidak terkunci, atau kunci menempel di slotnya.

Kami, empat orang Indonesia yang terbiasa paranoid dengan begitu banyaknya kasus Curanmor, saling bercanda, “Jangan coba-coba parkir seperti ini di Jakarta.”

Kak Adeellah, Mama Azizah, dan Imam Harun menjawab kompak keheranan kami, “Tidak pernah ada pencurian di kampung ini.” Allahu akbar! Bukankah kita pun ingin benar hal yang sama terjadi di Indonesia tercinta?

Bagaimana dengan kriminalitas lainnya? “Tidak pernah ada,” tegas Kak Adeellah.

“Di Kota Yala, apalagi Bangkok, ada (tindak kriminalitas). Mungkin karena penduduknya telah bercampur, banyak yang beragama selain Islam. Tetapi di Kampung Yala ini tidak pernah ada. Semua aman.”

BERKACA PADA YALA

Demikianlah kehidupan Islami di Kampung Teluk, Yala, Thailand Selatan. Subhanallah, bahkan dalam empat hari saya dapat merasakan betapa indahnya lingkungan seperti ini. Beraktivitas dalam situasi aman dan damai. Bertetangga dalam suasana akrab. Berbahagia dalam memuliakan tamu. Berjamaah dalam menegakkan prinsip-prinsip Islam.

Semoga hal yang sama dapat kita rasakan di Indonesia. Sudah saatnya kita berkaca, warga Kampung Teluk, Yala, ini dapat menerapkan pilar-pilar Islam dalam kehidupan sehari-hari. Padahal mereka adalah minoritas di negara yang sebagian besar beragama Budha. Sementara Islam adalah agama yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia.

Maka seraya berharap, kini setidaknya hikmah-hikmah dari sepenggal kisah di Yala tersebut bisa kita terapkan dalam keluarga kita. Hingga suatu saat nanti, setiap Muslimah di Indonesia bangga dengan identitas dan hijabnya. Sampai kelak, tidak akan ada lagi spanduk “Gunakan kunci ganda, waspada Curanmor!” dan semacamnya. Supaya di masa depan, kita benar-benar merasa aman dalam membesarkan anak-anak kita, qurrata a’yun kita dalam lingkungan yang Islami. Insya Allah.

0 Comment(s):