Berkenalan dengan Muslimah Yala


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia edisi Januari 2012

Meski terpisah batas-batas negara, seluruh Muslimah yang ada di dunia adalah saudari kita. Terasa benar indahnya menyambung silaturahim dengan mereka. saya berkesempatan berkenalan dengan mereka dalam Halal Trip bersama Asian Network di Kampung Teluk, Yala, Thailand Selatan.

Kebersamaan dalam empat hari, mulai 5 hingga 8 November 2011, memberi kesan mendalam bagi saya. Saya belajar tentang indahnya ukhuwah Islamiyah dan tentang damainya hidup yang berlingkup nuansa Al-Quran dan hadits. Kali ini, saya akan bercerita tentang kehidupan Muslimah-muslimah di Kampung Teluk yang teguh menjalani syariat Islam di negara dengan penduduk mayoritas non-Muslim.

TEBAR SALAM

Dalam perjalanan menuju Kampung Teluk, rombongan Halal Trip yang terdiri dari Nuria Bonita dan suami, Arief Ardiyansyah, serta saya  dan suami, Ahmad Dawamul Muthi berkenalan dengan warga yang menjemput. Penjemput kami adalah Imam Harun dan istrinya, Mama Azizah. Lalu Kak Adeellah, lulusan Yala Islamic University yang pernah mendapat beasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kak Nuriyah, dan Bapak Ibrahim.

Setelah perkenalan, saya menanyakan arti kata “Sawasdee” yang banyak tertulis di spanduk Bandar Udara Internasional Hat Yai. Mama Azizah menjelaskan, bahwa “Sawasdee” berarti “Salam” dalam bahasa Thailand. “Tetapi”, lanjut beliau, “Kami tidak biasa memakai kata Sawasdee. Tidak ada salam yang lebih baik daripadaAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Saya tersenyum mendengarnya. Rasanya, saya akan mendapat banyak pelajaran berharga dari Muslimah-muslimah Yala ini.

HIJAB SEUMUR HIDUP

Muslimah di Yala adalah cerminan muslimah yang patut diteladani. Sejak memasuki usia sekolah dasar, seluruh muslimah telah diharuskan memakai jilbab. Jilbab ini kemudian terus dijaga seumur hidup mereka. Bayangkan, indah nian berada dalam lingkungan yang semua Muslimahnya penuh takzim menjalankan perintah Allah untuk mengulurkan kain ke dada. saya terharu mendengar setiap Muslimah di Yala berhijab karena meyakini bahwa jilbab adalah untuk memelihara kehormatan mereka.

Kak Adeellah, Mama Azizah, dan beberapa muslimah lain di Kampung Teluk bahkan menggunakan cadar di beberapa kesempatan di mana mereka merasa harus menggunakannya. Seperti saat Kak Adeellah kuliah di jurusan Syariah kampus Yala Islamic University, misalnya.

Saat saya menanyakan apakah Kak Adeellah menggunakan cadar saat menjalani satu tahun beasiswanya di Universitas Muhammadiyah Surabaya, ia menjawab, “Tidak pakai. Nanti disangka Kak Adeellah ini teroris oleh orang Indonesia.”

Salah satu di antara kami bercanda dan mengatakan, “Ya, orang Indonesia suka lebay (berlebihan).”

Kak Adeellah pun tertawa menanggapinya. “Iya, memang suka lebay.” Hehehe, saya ikut tertawa. Rupanya Kak Adeellah pun mengerti beberapa kosa kata slank dalam bahasa Indonesia.

ANTI SYUBHAT

Di hari ketiga kami di Yala, saat Mama Azizah sedang berbelanja untuk kebutuhan acara Taman Pendidikan Kanak-Kanak (Tadika), kami pun mencari oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Saat kami bertanya kepada Kak Adeellah tentang sebuah penganan ringan di salah satu toko, Kak Adeellah tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling toko, dari mulai penjaga toko hingga papan nama toko. Lalu sambil berbisik meminta kami mencari toko lain, “Pemilik toko ini bukan orang Islam. Jadi makanan di sini status kehalalannya syubhat (abu-abu).”

Subhanallah, kami hampir saja lupa mengecek hal-hal semacam itu. Bahwa meskipun yang hendak kami beli adalah semacam kacang, tetapi lebih baik berjaga-jaga dan membelinya dari penjual muslim yang dapat menjamin kehalalannya. Alhamdulillah kami didampingi Kak Adeellah, seorang muslimah yang kuat menjaga prinsip Islam dalam makanan.

Kak Adeellah selanjutnya menjelaskan, kalau di daerah perkampungan Muslim, memang sudah dijamin kehalalan seluruh makanan yang dijual. Akan tetapi, karena saat itu kami berbelanja di kota yang tidak semua penduduk beragama Islam, kami harus berhati-hati.

PRODUKTIF

Muslimah-muslimah di Yala amat produktif. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai guru. Contohnya Kak Adeellah, Miss Rudayah, istri Pak Sawadee, dan lainnya. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai penoreh karet di perkebunan karet. Beberapa muslimah lainnya berdagang seperti Mama Azizah yang berdagang kebutuhan sehari-hari seperti minyak, gula, dan beras di pasar. Atau Kak Nuriyah yang membuka warung di depan rumahnya.

Muslimah lainnya memilih berkarya dari rumah, salah satunya adalah Kak Syakiroh yang meminjamkan rumahnya untuk kami tempati. Beliau mengajarkan cara merajut hiasan jilbab, taplak meja, dan lainnya kepada ibu-ibu Kampung Teluk. Hingga menjadi pemandangan wajar terdapat ibu-ibu yang sedang merajut di depan rumah mereka seraya mengawasi anak-anaknya bermain.

ANTI IKHTILAT

Satu hal yang amat menenangkan hati adalah betapa muslimah di Kampung Teluk, Yala, ini amat menjaga izzah mereka. Tidak sekali pun akan ditemui perempuan yang menggelendot manja di tangan lelaki yang tidak halal bagi mereka. Laki-laki dan perempuan nonmahram tidak bersalaman, berdekat-dekatan, apalagi berboncengan di wilayah ini.

“Tidak ada,” tukas Mama Azizah tegas saat saya menanyakan apakah ada yang berpacaran di Kampung Teluk. Kalau memang sudah hendak menikah, maka akan langsung melamar kepada wali perempuannya. Pun apabila telah diterima pinangannya, tetap saja perempuan dan lelaki tesebut tidak diperbolehkan berdua-duaan.

Saya menyadari bahwa anak-anak kecil pun telah memahami konsep hijab antara lelaki dan perempuan tersebut. Kami tidak menemui anak lelaki berumur sepuluh tahun ke atas yang mau bersalaman dengan perempuan selain keluarganya. Mungkin konsep hijab telah tertanam dengan sendirinya dalam ingatan bawah sadar anak-anak yang tumbuh di lingkungan Islami seperti di sana.

PERNIKAHAN ISLAMI

Sejatinya, walimatu ursy adalah sunnah Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam yang bermaksud untuk mengumumkan bahwa kedua insan telah resmi menikah. Maka dengan demikian akan banyak yang mendoakan dan menghindarkan dari terjadinya fitnah. Walimatu ursy tidak perlu bermegah-megahan layaknya royal wedding yang belum lama berlangsung. Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam bahkan pernah menggelar walimah dengan kurma, gandum, dan minyak samin.

Di Kampung Teluk, pernikahan digelar penuh kebahagiaan tanpa perlu bermegah-megahan. Biasanya, di pagi hari, akad nikah digelar di masjid antara wali pengantin perempuan dan pengantin pria. Menurut Mama Azizah, mahar untuk istri dapat mencapai 150.000 baht (1 baht = 300 rupiah) tergantung kemampuan lelaki. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (Al-Quran Surat An-Nisaa ayat 4)

Perempuan tidak menuntut mahar tinggi. Tidak ada pula konsep seperti “uang naik” seperti sebagian adat di Indonesia, yakni ketika derajat keluarga perempuan tinggi, maka “uang naik” akan semakin mahal. Hal ini sesuai hadits Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam, “Sebaik-baik seorang wanita adalah yang ringan maharnya.”

Setelah akad, walimatu ursy berupa jamuan makan telah disiapkan di rumah pengantin perempuan. Di sinilah kedua pengantin bertemu karena sewaktu akad pengantin perempuan tidak ikut menyaksikan, hanya menunggu di rumah. Pernikahan pun digelar terpisah bagi tamu perempuan dan tamu lelaki.

MODIS, YA. SYAR’I, PASTI.

Menarik, pikir saya. Di Kampung Teluk ini, justru anak-anak perempuan kecil yang didandani “habis-habisan”. Nah, menjelang usia baligh, gadis-gadis Yala ini telah memahami bahwa Islam tidak mengajarkan tabarruj atau berdandan berlebihan.

Kami mengenal beberapa gadis Kampung Yala seperti dua anak perempuan Imam Harun, yakni Nusaibah dan Hana, juga dua anak permpuan Miss Rudaya, yaitu Amnee Madaehah dan Arina Madaehah. Mereka berpakaian amat sopan dan menutup aurat. Padu padan warna baju tetap harmonis dan modis, namun tidak menyalahi aturan syariat Islam.

Kak Nuriyah mengisahkan, bahwa harga-harga baju di Yala relatif mahal. Dikarenakan sebagian besar baju yang dijual merupakan impor dari Indonesia. Keheranan saya melihat banyak Muslimah di sana memakai batik bermotif khas Indonesia pun terjawab.

Sebelum kami pergi tur ke masjid-masjid, kami dijamu di sebuah restoran Pakistan. Menu salad, nasi Briyani, dan gulai merah daging yang amat lezat mengawali hari. Keluarga ini merupakan turunan keluarga Pakistan namun anak-anaknya lahir di Thailand. Kedua kakak beradik ini bernama Bb-Ilham Ess dan Dd-Amal Ess. Mereka menggunakan baju kurung yang populer di Malaysia. Cantik, modis, dan menutup aurat dengan baik. 

0 Comment(s):