#6 Membasuh Lantai

Semalam, aku menangis dalam munajatku pada Allah. Aku memejamkan mata, mengatur napas, lalu berusaha melepaskan secara perlahan bongkah-bongkah kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan yang beberapa waktu ini kusimpan dalam hati. Upaya mengeluarkan perasaan negatif yang sempat memenuhi ruang jiwa ini membuatku tersedak. Untuk kesekian kalinya, jiwaku kembali berada di titik terendah pertahanannya.

Kemudian aku mulai mengucapkan istighfar. Lirih dan bergetar. Berkelibat seluruh khilaf diri di setiap pergantian butir tasbih yang kugenggam. Mataku mulai berkaca-kaca. Kemudian aku mulai melantunkan dzikir seraya meresapi kandungannya. Subhanallah; Maha Suci Allah. Ialah tempat segala berawal dan berakhir. Ialah Sang Maha Pembolak-Balik Hati. Ialah alasan terjadinya hal-hal indah dan menakjubkan dalam hidup ini.

Walhamdulillah; dan segala puji bagi Allah. Tidak ada yang pantas menerima pengagungan selain Allah. Seekor semut hitam yang sedang berdiam di atas batu pada malam hari pun tidak luput dari kasih sayang-Nya. Keenggananku menukar penglihatan atau pendengaranku dengan istana termegah di dunia menunjukkan nilai seluruh nikmat dari-Nya adalah tiada terhingga. Kebahagiaan demi kebahagiaan yang mewarnai hari-hariku adalah alasan syukur yang harus selalu kupanjatkan.

Wa laa ilaaha illallahu; dan tiada Tuhan selain Allah. Kepada-Nya jiwaku ini akan kembali. Tiada daya dan upaya yang membantuku melewati waktu melainkan berasal dari-Nya. Hanya pada-Nya aku menyandarkan seluruh pengharapan. Hanya diri-Nya tempatku mengadu dan meminta kekuatan.

Wallahu akbar; dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Aku hanyalah titik tidak terlihat dalam peta kotaku. Lalu apakah diriku jika aku menggunakan peta negara, benua, atlas, dan tata surya? Sungguh Allah Maha Besar. Segalanya adalah mudah bagi-Nya. Segalanya adalah mungkin untuk-Nya. Karena itu, semua yang kualami saat ini; kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan, tidaklah perlu aku risaukan. Bukankah aku cukup meminta-Nya menghapuskan seluruh gundah tersebut dengan ‘Kun!’ dari-Nya?

Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallahu, wallahu akbar. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallahu, wallahu akbar. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallahu, wallahu akbar.

Aku membacanya dengan alunan yang selalu menggemakan hatiku seperti dalam majelis dzikir Ustadz Arifin Ilham. Air mataku pun menggenang lalu mengalir perlahan. Ya Allah, betapa kerdilnya diriku. Betapa lemah dan pengecutnya diriku. Ya Allah, betapa kotor hatiku ini. Jejak dosa juga mengendap dalam mulutku, mataku, telingaku, tanganku, dan hatiku. Bagaimana mungkin aku siap menghadap-Mu jika aku lusuh seperti ini, ya Allah? Bagaimana mungkin aku layak masuk ke surga-Mu, di sisi-Mu, setelah diriku ditelanjangi di Padang Mahsyar? Apa yang tersisa di bawah lapisan pakaian kesombongan dan kemunafikanku, ya Allah?

Terlalu banyak, ya Allah, waktu yang kuhabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kebaikan dunia dan akhiratku. Ketika seharusnya aku membaca ayat-ayat-Mu, aku sibuk menghabiskan waktu di laman-laman maya untuk bergurau dan bercanda. Saat semestinya bibirku basah oleh dzikir, aku justru mendesah dan menggunjing seolah tiada takut akan balasan yang menanti di hari akhir.

Terlalu sering, ya Allah, aku lupa bahwa semua yang ada pada diriku perlu kupertanggungjawabkan pada-Mu. Tidak sempat aku menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin karena memiliki barang-barang keluaran terbaru jauh lebih penting bagiku. Tidak ingat aku untuk merendahkan hati atas keberhasilan yang merupakan anugerah-Mu karena mendapat decak kagum dan sanjungan manusia telah menjadi orientasi utamaku.

Allaahumma innii zhalamtu nafsii zhulman katsiiran kabiira, walaa yagh-firudzdzunuuba illaa anta, fagh-firlii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka antal ghafuururrahiim; ya Allah, aku telah menganiaya diriku sendiri dengan aniaya yang banyak lagi besar, padahal tidak ada yang dapat mengampuni dosaku selain Engkau. Karena itu ampunilah segala dosaku itu dengan ampunan dari hadirat-Mu dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aku mulai tergugu. Dengan penggalan napas di antara sedu sedanku, aku menyampaikan pula kerinduanku pada Rasulullah. Mencoba untuk mengirimkan salam lewat shalawat-ku. Tiba-tiba aku terhenyak, rasa takut hadir menyesakkan dada. Mungkinkah aku akan menemuimu, ya Rasulullah, suatu saat nanti? Berbanggakah kau nantinya mendapati aku berbaris di antara umatmu yang mendamba syafaatmu?

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad. Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa rasuulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam; Ya Allah, anugerahkan kesejahteraan atas junjungan kami Muhammad dan keluarga junjungan kami Muhammad. Ya Allah, anugerahkan kesejahteraan dan keselamatan atas Rasulullah (semoga Allah mencurahkan kesejahteraan dan keselamatan atasnya).”

Bongkahan kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan di dadaku sirna. Dalam kepasrahan total seperti ini, memercayakan seluruh hidupku pada ketetapan-Nya, aku merasa diriku menjadi ringan. Kurebahkan tubuhku di atas sajadah. Selintas, terpikir olehku, alangkah indahnya jika Allah menjemputku di tengah kedamaian seperti ini. Namun aku tidak tahu bagaimana aku akan dijemput nantinya. Aku tidak akan pernah tahu.

Allaahummaj’al khaira ‘umrii aakhirahu wa khaira ‘amalii khawaatimahu wa khaira ayyaamii yaumal qaakafiih; ya Allah, jadikan umur terbaikku ialah di penghujungnya, jadikan amalan terbaikku berada di penutupnya, dan jadikan hari-hari terbaikku adalah saat berjumpa dengan-Mu.”

Sajadahku basah oleh air mata.



Andaikata Allah hendak menjemputmu hari ini, akan lari ke mana dirimu? Memeluk kaki ibundamu, meminta ampun atas luka yang pernah kau torehkan di hatinya, juga atas bakti yang jauh dari sempurna? Atau menatap keriput-keriput halus di sudut mata ayahandamu, lalu mengatakan sesalmu karena sering mengabaikan perkataannya dan belum jua mampu membuatnya bangga?

Andaikata Allah hendak menjemputmu hari ini, akan lari ke mana dirimu? Meminta maaf atas semua kesalahanmu pada kerabat dan sahabat? Membayar janji dan utang yang selama ini selalu kau tunda? Membakar buku harian dan coretan lain yang menyimpan aib-aibmu?

Akan lari ke mana dirimu, andaikata Allah hendak menjemputmu hari ini? Menghapus debu tipis di atas alquranmu dan terbata membaca ayat-ayat-Nya? Mencari-cari tasbih yang terselip di sudut lacimu dan tersendat memohon maghfirah-Nya? Membasuh peluh di wajahmu dengan wudhu lalu tertatih menuju rumah-Nya?

Akan lari ke mana dirimu, kiranya Allah sungguh hendak menjemputmu hari ini?

0 Comment(s):