Gua Hira dalam Jiwa

#11 Satu Harap [Tuk Suatu Saat]

...

Duhai Rabbi, apabila telah genap diriku, kumohon berkahilah kami dalam setiap langkah yang kami tempa. Jadikan kami layaknya keluarga Rasul-Mu dan Khadijah, dengan kesetiaan tiada tara yang berbalut kasih sayang tanpa muara. Berikan pula kami kebahagiaan pasangan Fathimah dan Ali, dengan kezuhudan dan saling pengertian yang mengalir syahdu di antara mereka.

Kepada-Mu, ya Ilahi, kupinta seseorang yang tidak hanya rela menua bersamaku dalam menyulam janji dan mendulang mimpi-mimpi. Tetapi lebih dari itu, anugerahilah diriku seseorang yang sedia menjadikan khusnul khatimah sebagai tujuan awal keberadaan kami.

Karenanya, ya Rabbul Izzati, izinkan aku mewujudkan diri sebagai yang terbaik bagi seseorang yang terbaik pula bagiku. Pertemukan doa kami di langit-Mu dan persatukan kami dalam keridhaan-Mu. Lalu tautkan jemari kami selalu, ya Nurul Qalb, hingga nanti –ketika fana pun mengabadi.

#10 Menjadi Karang

Apa yang menyebabkan Ali bin Abi Thalib tidak gentar sama sekali untuk menggantikan posisi tidur Rasulullah demi mengelabui orang-orang Quraisy yang hendak membunuh Rasulullah?

Juga ketika Khalid bin Walid berkata kepada orang-orang Romawi yang berlindung di benteng di Kinnasrin, “Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian,” apakah yang memompa darah sang Pedang Allah tersebut hingga merasa seyakin itu?

Atau saat mendengar sabda Rasulullah selepas perang Uhud ini, “Tidak kulihat ke kiri dan ke kanan kecuali kulihat Ummu Imaroh (Nasibah binti Kaab) berperang melindungiku,” terlintaskah tanya bagaimana seseorang dapat seberani itu?

Bagiku tidak ada penjelasan yang lebih logis bagi ketiga pertanyaan tersebut selain penyerahan total dari Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, dan Nasibah binti Kaab kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Percaya bahwa setiap diri memang akan kembali ke hadirat-Nya. Tiada ragu bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan dan keniscayaan-Nya.

Rabbana, damai nian tampaknya jika hati-hati kami dipenuhi keyakinan seperti itu. Kujamin tidak akan ada episode ketika kami lari dari masalah karena terlalu takut menghadapinya. Juga tidak akan ada malam-malam yang kami habiskan dengan kekhawatiran segala sesuatu akan berubah –tidak seperti apa yang kami rencanakan. Pun tidak mungkin terjadi kisah-kisah mereka yang memilih menghabisi hidupnya karena kehabisan stok harapan.

Sesilam lalu, aku pernah sangat menyenangi lagu-lagu Linkin Park, sebelum sadar tidak ada alunan yang lebih indah nan menentramkan dibandingkan lantunan puji bagi Allah. Salah satu lagu mereka berjudul ‘Easier to Run’. Liriknya antara lain berbunyi, “It’s easier to run, replacing this pain with something numb. It’s so much easier to go than face all this pain here all alone.”

Padahal ternyata, percayalah, lari dari masalah justru akan menambah masalah baru lainnya. Masalah akan terus datang, seperti ombak yang menderu menerpa. Rintangan akan menghadang tiba-tiba, bagaikan badai yang menghempas mendera. Rasa takut dan kecut juga tiada henti menggerogoti seakan arus terdalam laut yang tak terlihat, tapi mematikan. Karena itu, marilah menjadi karang yang tegak berdiri menantang itu semua. Kukuh, yakin bahwa Allah tidak akan memberi seseorang ujian di luar kesanggupannya. Lagipula, siapa bilang kita akan ‘here all alone’ seperti lirik Linkin Park tersebut? Allah selalu ada di mana pun kita, bagaimana pun kita. Ia bahkan lebih dekat dari nadi di dalam tubuh kita.

Aku pun berjanji bahwa salah satu nasihat yang pasti akan kusampaikan kepada anak-anakku nanti adalah untuk tidak risaukan kekhawatiran yang menyusup ke dalam hati dan pikiran. Mereka adalah pembuang waktu dan pembunuh produktivitas kelas kakap. Untuk apa merasa gundah tentang masa depan? Allah akan selalu memberi kita segala yang terbaik. Ia adalah Sang Maha Perencana yang keindahan rencana-Nya tidak perlu diragukan.

Terhadap semua yang telah berlalu, yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik menurut Allah. Jangan mengira sesuatu terlihat bagaimana adanya. Tidak semua kemalangan atau kegagalan adalah buruk. Allah pasti menyimpan hikmah di dalamnya dan menyiapkan pengganti nan jauh lebih baik daripada yang mampu kita bayangkan. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Akan tetapi bila berbicara tentang masa depan, kita harus optimis dan percaya bahwa cita-cita kita akan terkabul karena Allah selalu mengikuti prasangka hamba-Nya. Jika kita selalu berfokus pada kemungkinan gagalnya rencana dan sirnanya harapan, mungkin saja itulah yang justru akan terjadi. Sebaliknya, kalau kita terus memusatkan keyakinan bahwa apa yang kita inginkan pasti terwujud, itulah yang insya Allah akan menjadi nyata.

Namun perlu diingat juga bahwa kalimat ‘Allah mengikuti prasangka hamba-Nya’ bermakna sangat dalam. Kita harus benar-benar membeningkan hati, lalu bersangka baik pada apa pun yang Allah tetapkan bagi kita. Allah memang telah menggariskan rezeki, ajal, amal perbuatan, dan kebahagiaan maupun kesengsaraan dalam hidup kita sejak ruh kita ditiupkan. Namun itu tidak berarti kita boleh putus asa kala sedang dirundung musibah, kesulitan, atau kegagalan. Ada satu bait indah gubahan penyair Islam yang sangat terkenal, Muhammad Iqbal, “Bila garis nasib melukai hatimu, mintalah pada Tuhan nasib yang lain, dan permintaanmu akan nasib baru adalah patut karena Tuhan menciptakan nasib tak terhingga banyaknya.”

DR. ‘Aidh al-Qarni dalam buku ‘La Tahzan’ karangannya yang fenomenal menulis, ”Menyerahkan semua perkara kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, percaya sepenuhnya terhadap janji-janji-Nya, ridha dengan apa yang dilakukan-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu dengan sabar pertolongan dari-Nya merupakan buah keimanan yang paling agung dan sifat paling mulia dari seorang mukmin. Dan ketika seorang hamba tenang bahwa apa yang akan terjadi itu baik baginya, dan ia menggantungkan setiap permasalahannya hanya kepada Rabb-nya, maka ia akan mendapatkan pengawasan, perlindungan, pencukupan serta pertolongan dari Allah.”

Subhanallah, tidak henti-hentinya kutasbihkan nama-Mu, ya Allah. Ternyata indah sekali hidup dalam naungan Iman dan Islam. Dengan Allah sebagai pemberi petunjuk dan penolong, aku tidak perlu lagi merasa gundah, khawatir, takut, dan putus asa. Karena sungguh, hasbunallah wa ni’mal wakiil; cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.



Biar. Biar saja dunia tak memihakku. Karena sungguh, hasbika. Hasbika, ya Rabbi.

Selama Kau ada, maka yang lain biar saja tiada. Biar. Sepanjang Anta ma’i.

Biar sepi. Biar! Asalkan Kau tetap di sisi.

: Karena ramai tanpa-Mu terasa jauh lebih sunyi.

#9 Menyusun Mozaik

Langit mencurahkan perasaannya pada bumi melalui tetes-tetes air hujan yang riang. Semakin lama semakin deras. Di jalan sempit depan rumahku, beberapa anak kecil asyik bermain bola plastik yang kelihatannya sudah tidak bundar sempurna. Helm mungil terpasang di kepala mereka, entah untuk apa. Mereka tertawa lepas. Berlari tanpa beban. Bagi mereka, hanya ada hari ini. Saat ini. Dari balik jendela ruang tamuku, aku menyunggingkan senyum geli.

Aku membereskan lembar demi lembar kertas yang terserak di antara kami. Aku dan seorang kawan baru saja selesai belajar bersama untuk persiapan ujian. Membentang indah di hadapan, sebuah danau hijau dengan pepohon berbunga merah muda sebagai pigura. Angin berhembus semilir, menemani perjalanan pulang sekelompok burung kelabu. Kawanku menyandarkan punggungnya ke dinding, “Tidak apa-apa jika ingin pulang lebih awal. Pemandangan seindah ini sungguh membuatku malas beranjak.”

Gadis kecil itu memelukku dari belakang. “Rindu,” demikian si cantik itu berkata. Lumer bagaikan mentega di seiris roti panas, seperti itulah hatiku. Hilang sudah keletihanku berhari-hari. Tawanya. Celoteh polosnya. Naik turun dalam tidurnya. Genggaman tangannya. Semua itu adalah harta tak ternilai bagiku. Karena hanya di bening matanyalah aku merasa benar-benar pulang. Pun karena hanya di sanalah aku tidak pernah –dan tidak perlu– khawatir akan hari esok.

Demikianlah. Ada banyak hal kecil yang sekilas tampak hirau di mata kita. Akan tetapi sesungguhnya pernik-pernik sederhana itu bagaikan mozaik indah jika kita melihatnya dengan hati. Ketika kita mampu menyerap makna dari setiap pernik hari, kita akan tersadar bahwa ada begitu banyak alasan untuk bersyukur di dunia ini.

Helen Keller adalah seseorang yang menjadi tuna netra dan tuna rungu karena penyakit misterius yang ia alami pada usia 19 bulan. Apakah ia lantas kehilangan semangat hidup dan menggantungkan hidupnya pada orang lain? Jawabannya adalah tidak. Ia justru meraih banyak penghargaan, di antaranya berasal dari Honorary Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, dan The Lions Humanitarian Award. Kisah hidupnya yang inspirasional bahkan memperoleh dua piala Oscar.

Ia berkata, “Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.” Mendengar kalimat ini, sepertinya semua orang akan sepakat bahwa Helen Keller tidaklah buta dan tuli. Dengan hatinya, ia justru lebih banyak melihat dan mendengar daripada orang kebanyakan. Ia bahkan turut membukakan mata dan telinga hati orang-orang lain selama berkeliling 39 negara dalam misi kemanusiaannya.

Aku kemudian mengingat-ingat, pagi ini seseorang mengirimkan pesan berisi ucapan selamat pagi untukku. Adikku mengajakku melukis bersama. Alunan Asma’ul Husna dari tim nasyid Hijjaz mengalun dari speaker-ku, merdu nan menentramkan jiwa. Ibuku menanyakan kabar jurnalnya yang sedang kubantu pengerjaannya. Pendingin ruangan membuat kondisiku semakin nyaman. Sarapan pagi yang hangat telah tersedia di meja makan. Subhanallah, jika ternyata dalam waktu sesingkat ini saja ada banyak sekali hal yang patut kusyukuri, maka tiada akan mampu aku menghitung nikmat Allah kepadaku sepanjang hayat ini.

Semua pernik itu, bersama dengan nikmat iman, Islam, kesehatan, rizki, dan kehadiran orang-orang tercinta dalam hidup kita, adalah hal-hal yang perlu kita syukuri setiap saatnya. Karena meski seluruh syukur kita dipuja-pujikan bagi-Nya tidak akan menambah kebesaran Mulk-Nya sedikit pun, Allah tetap berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim [14]: 7)

“Ya Allah, kami tahu bahwa semua janji-Mu adalah haq. Karena itu jangan biarkan kami berlaku seperti Kaum Nuh, Kaum ‘Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Madyan yang binasa karena mengingkari nikmat-Mu. Selamatkan kami dari kekufuran yang mungkin mencelakakan diri kami sendiri, ya Allah. Hanya Engkau, ya Rabbana, yang mungkin menyelamatkan kami dengan belas kasih-Mu yang tiada bertepi.

Kami sadar, ya Allah, betapa luar biasa kasih yang Engkau limpahkan pada kami. Maka karuniakanlah kami kemampuan bersyukur dengan sebaik-baiknya syukur, ya Allah. Dengan hati yang terang benderang karena cahaya-Mu. Dengan kesadaran seorang hamba yang tiada tanpa-Mu. Dengan hamdalah yang terus menghiasi laku dan langkahku. Ajarkan kami, ya Rabbana, cara bersyukur atas kemurahan-Mu yang tiada cukup dituliskan meski air laut habis tertinta.”

Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an ‘amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan thardhaahu wa ashlih lii fii dzurriyyaatii innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin; ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaaf [46]: 15)



Pagi ini, alam seolah-olah berbahasa. Matahari tersenyum; dan aku berterima kasih atas cahayanya yang setia menerangi langit harapanku. Angin berbisik; dengan tulus kuucapkan terima kasih atas salam hakuna matata* yang ia semilirkan tiap kali sedih merajai hatiku. Ilalang tertawa; segera saja kutebarkan rasa terima kasihku karena kebersahajaan mereka yang mengajarkanku untuk selalu bahagia –di mana pun berada.

Katakan padaku, dengan semua pernik sederhana yang memozaik di dalamnya, adakah hidup bisa lebih indah lagi?

: Terima kasih, ya Allah, karena Engkau belum pernah memberiku alasan untuk tidak bersyukur kepada-Mu.



*Hakuna matata: frase Swahili yang apabila diartikan bebas bermakna ‘no worries’.

#8 Memanggil Nama-Mu [Rindu]

Sekali itu, kurasakan rindu mendalam yang kedahsyatannya melebihi apa pun yang pernah kualami sebelumnya. Rindu itu menyelinap, menyergap, lantas membetot seluruh sel di tubuhku. Aku begitu mendamba kehadiran-Nya hingga pernah dalam suatu doaku, yang mampu kuucap hanyalah nama-Nya. Tiada henti, tiada putus, aku terus saja berbisik sepanjang malam, “Ya Allah, ya Allah, ya Allah.”

“Duhai Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim, Al-Malik, Al-Qudduus, As-Salaam, Al-Mu’min, Al-Muhaimin, Al-‘Aziiz, Al-Jabbaar, Al-Mutakabbir, Al-Khaaliq, Al-Baari’, Al-Mushawwir, Al-Ghaffaar, Al-Qahhaar, Al-Wahhaab, Ar-Razzaaq, Al-Fattaah, Al-‘Aliim, Al-Qaabidh, Al-Baasith, Al-Khaafidh, Ar-Raafi’, Al-Mu’izz, Al-Mudzill, As-Samii’, Al-Bashiir, Al-Hakam, Al-‘Adl, Al-Lathiif, Al-Khabiir, Al-Haliim, Al-‘Azhiim.”

Hatiku demikian pilu. Aku bagaikan anak kecil yang tersesat, nelayan yang terdampar di pulau tak berpenghuni, atau burung bersayap patah yang hanyut terbawa arus sungai. Aku memanggil-manggil nama-Nya, berharap Ia mendengarku, mengenaliku, lalu menyelamatkanku.

Rindu. Amat rindu. Batinku melayang-layang dalam dimensi tak terhingga. Aku membayangkan diriku bersujud di hadapan Ka’bah. Di tanah suci. Begitu dekat dengan-Nya. Aku membayangkan menangis di Multazam, tempat paling mustajab; tempat seluruh doa akan terjawab. Aku membayangkan diriku berbalut putih, bertawaf bersama jiwa-jiwa lain yang merindu-Nya.

“Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Akankah Engkau mengundangku ke rumah-Mu, kiblat umat muslim sepenjuru dunia? Mungkinkah Engkau memperkenankan aku datang bertamu, meski diri ini penuh peluh?

Duhai Al-Ghafuur, Asy-Syakuur, Al-‘Aliiy, Al-Kabiir, Al-Hafiizh, Al-Muqiit, Al-Hasiib, Al-Jaliil, Al-Kariim, Al-Raqiib, Al-Mujiib, Al-Waasi’, Al-Hakiim, Al-Waduud, Al-Majiid, Al-Baa’its, Asy-Syahiid, Al-Haqq, Al-Wakiil, Al-Qawiyy, Al-Maatin, Al-Waliyyu, Al-Hamiid, Al-Muhshi, Al-Mubdi’, Al-Mu’iid, Al-Muhyii, Al-Mumiit, Al-Hayyu, Al-Qayyuum, Al-Waajid, Al-Maajid, Al-Waahid.

Undanglah aku, ya Allah. Aku akan datang, dengan berlari. Dengan segenap kerinduan yang menggumpal. Aku akan datang, meski harus tertatih. Dengan repihan cinta yang kurekatkan rapat-rapat. Undanglah aku, ya Allah.”

Aku mengiba, mengemis, dan menghamba. Meminta Allah memperkenankan pintaku, berjumpa diri-Nya di titik paling dekat dengan-Nya sepenjuru dunia. Karena aku tidak tahu bilakah waktuku akan tiba. Sungguh, aku tidak mau jika sampai ujung perjalanan fanaku, belum jua aku menyungkurkan taubatku di hadapan Ka’bah dan menyampaikan salam kepada Rasulullah di Rhaudah. Aku tidak sanggup membayangkan, seandainya hingga akhir hayatku, Allah belum mengizinkanku bertamu ke tanah suci.

Betapa rindu aku akan Allah. Aku bagaikan petualang yang telah lama tidak pulang dan merasa ingin kembali. Betapa aku berharap, kerinduan ini cukup untuk mengantarkanku ke Mekkah dan Madinah. Tempat Rasulullah, sang habibullah berawal dan berakhir. Tempat cahaya keislaman memancar dan menjadi rahmatan lil ‘aalamin. Tempat terindah untuk dijadikan kiblat di setiap langkah mereka yang mengaku hamba Allah.

“Duhai Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Qaadir, Al-Muqtadir, Al-Muqaddim, Al-Muakhkhir, Al-Awwal, Al-Aakhir, Azh-Zhaahir, Al-Baathin, Al-Waalii, Al-Muta’aalii, Al-Barru, At-Tawwaab, Al-Muntaqim, Al-‘Afuwwu, Ar-Rauuf, Maalikul Mulki, Dzul-Jalaali Wal-Ikraam, Al-Muqsith, Al-Jaami’, Al-Ghaniyyu, Al-Mughnii, Al-Maani’, Adh-Dhaarru, An-Naafi’, An-Nuur, Al-Haadii, Al-Badii’, Al-Baaqii, Al-Waarits, Ar-Rasyiid, Ash-Shabuur.

Izinkan aku mengucapkan ‘Labbaik Allaahumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik. Innalhamda wanni’mata, lakawal mulk, laa syariikalak.’ Menuju-Mu. Berakhir di pelukan-Mu.

Karena setelahnya, tiada lagi pintaku.”



Kalau aku boleh memilih akhirku, aku ingin di sini, Tuhanku. Di pintu rumah-Mu. Dengan lantunan ayat suci dari imam qiyamul lail yang mengiris nadiku. Dengan shalawat kerinduan pada kekasih-Mu yang menyesakkan dadaku.

Di bawah naungan Ka’bah-Mu, Tuhanku. Seandainya Engkau bertanya di mana aku ingin dijemput. Di hadapan Multazam, bersama ampunan-Mu. Di pelukan Masjidil Haram, bersama rahmat-Mu. Di hamparan tanah Mekah, bersama keridhaan-Mu.

Di sini, Tuhanku. Dekat dengan-Mu.

#7 Tertatih

Perjuanganku membersihkan diri dalam sebuah ruang imaji bernama ‘Gua Hira dalam Jiwa’ ini bagaikan memperbaiki mesin mobil yang terus berjalan. Waktu tidak dapat diajak bekerja sama untuk berhenti sejenak sehingga aku bisa seperti mobil yang masuk bengkel dan keluar dalam keadaan seperti baru. Kehidupan tidak jua mungkin menepi dan menyingkirkan semua rintangannya sepanjang lajur yang aku tempuh.

Hasilnya, beberapa kali aku menyerah. Aku tidak menyangka sebelumnya bahwa sebuah gua bisa seriuh ini, bahkan dalam kesendirianku. Aku pun tidak mengira bahwa kepalsuan bukan hanya terletak di luar sana, namun juga begitu lekat menopengi diriku selama ini. Aku hampir tidak mengenali diriku yang kuajak bicara sepanjang perenungan di dalam gua ini. Aku tersesat. Dalam jiwaku sendiri.

Pilihanku untuk merenung dalam gua ini bukan hanya semata untuk membersihkan diriku. Entah bagaimana, aku sedang berada dalam fase untuk memperbarui tekadku. Meneguhkan kembali tujuanku. Memperjelas caraku mencapai destinasi tersebut. Aku tidak mau melangkah tanpa arah. Atau yang juga sama bahayanya, mengetahui tujuan tetapi tidak memiliki keberanian untuk mencapainya.

Gusti, mengapa aku bisa selemah ini? Letih sekali rasanya. Di satu sisi, aku tahu aku jauh lebih beruntung dibandingkan begitu banyak orang. Beratus kali ayat “Fabiayyi alaaai rabbikumaa tukadzdzibaan; maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahman [55]: 13) mengiris-iris urat maluku. Aku juga tahu bahwa aku perlu untuk segera berkontribusi secara nyata bagi masa depanku, keluargaku, bangsaku, akhiratku, dan agamaku.

Namun di sisi lain, tulang-tulangku seolah tidak mampu menyanggaku untuk melakukan semua itu dengan sebaik-baiknya. Berkali aku mencoba, berkali pula aku terjatuh. Sejauh inikah surga-Mu, ya Allah? Seterjal inikah jalannya?

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (QS. Al-Baqarah [2]: 214)

Allahu akbar! Padahal belum, ya Allah. Padahal belum datang cobaan nan berat sebagaimana dialami syahid dan syahidah padaku, ya Allah. Lalu mengapa aku sudah selemah ini, duhai Rabbi?

Padahal aku telah mendengar kisah Sumayyah binti Khayyat. Ia bersama suaminya, Yasir menyahut dakwah Rasulullah dan meneguhkan keimanannya sejak fajar Islam terbit untuk pertama kalinya. Anak mereka, Ammar pun memeluk Islam bersama hidayah yang indah dari Allah. Mereka kemudian ditangkap Bani Makhzum dan dipaksa keluar dari agama Islam. Karena Sumayyah, Yasir, dan Ammar tetap pada hal yang diyakininya, orang-orang kafir itu lantas menyiksa mereka hingga nafas terakhir. Sejarah pun menjadi saksi kesucian iman keluarga tersebut dan mencatatnya sebagai orang-orang yang pertama syahid.

Juga tidak dapat aku lupakan kisah Mush’ab bin Umair, bangsawan kaya raya yang merelakan diri diusir oleh ibunya (Khunas binti Malik) demi dakwah Islam yang dipilihnya sebagai jalan hidup. Pun lekat dalam hatiku legenda ‘ashaabul kahfi’, yang bercerita tentang keberanian sekelompok pemuda beriman meninggalkan negerinya yang masih diliputi kejahiliyahan untuk kemudian bersembunyi di sebuah gua. Masih banyak contoh lain tentang cobaan yang dialami orang-orang terdahulu sepanjang keislaman mereka. Itulah ‘jual-beli’ yang mereka lakukan dengan Allah. Dengan surga sebagai balasannya.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 111)

Aku benar-benar tidak punya alasan untuk merasa letih, ya Allah. Karena nyatanya, belum banyak peluh, tangis, bahkan darahku tertumpah dalam pengabdianku pada-Mu. Karena itu, berilah aku kekuatan, ya Allah. Terangi jalanku. Kokohkan langkahku. Teguhkan hatiku. Aku tiada tanpa-Mu.

Laa ilaaha illallahu wallaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir. Laa ilaaha illallahu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah; tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada pula sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya pula puja dan puji, dan Ia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah dan tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah semata.”



Kumohon, jangan tersinggung. Aku hanya ingin tahu, menurut perkiraanmu, berapa hargamu? Ya, ya, kau boleh tertawa. Asalkan kau jawab pertanyaanku, berapa hargamu?

Sebening intankah hatimu? Sehalus sutrakah tutur katamu? Seindah mutiarakah perilakumu?

Lalu bagaimana dengan ibadahmu? Shalatmu, puasamu, dzikirmu, bacaan alquranmu, zakatmu, sedekahmu, baktimu pada orang tua? Berapa harga semua itu?

Oh, tolong kurangkan nilai tersebut dengan cacat dan gores yang pernah ada di dalamnya.

Apa? Kau perlu waktu lama untuk menaksir total hargamu? Tidak apa. Akan kutunggu.

Sudah? Berapa?

Wah, ternyata hargaku pun tidak jauh dari hargamu! Hmm, bagaimana pendapatmu, sudah cukupkah harga kita untuk membeli tiket masuk surga?

Hei, kau tertawa lagi! Surga tidak mungkin semurah itu, katamu?

Baiklah. Kalau begitu, mau kau jual ke mana dirimu nanti pascatiada?

#6 Membasuh Lantai

Semalam, aku menangis dalam munajatku pada Allah. Aku memejamkan mata, mengatur napas, lalu berusaha melepaskan secara perlahan bongkah-bongkah kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan yang beberapa waktu ini kusimpan dalam hati. Upaya mengeluarkan perasaan negatif yang sempat memenuhi ruang jiwa ini membuatku tersedak. Untuk kesekian kalinya, jiwaku kembali berada di titik terendah pertahanannya.

Kemudian aku mulai mengucapkan istighfar. Lirih dan bergetar. Berkelibat seluruh khilaf diri di setiap pergantian butir tasbih yang kugenggam. Mataku mulai berkaca-kaca. Kemudian aku mulai melantunkan dzikir seraya meresapi kandungannya. Subhanallah; Maha Suci Allah. Ialah tempat segala berawal dan berakhir. Ialah Sang Maha Pembolak-Balik Hati. Ialah alasan terjadinya hal-hal indah dan menakjubkan dalam hidup ini.

Walhamdulillah; dan segala puji bagi Allah. Tidak ada yang pantas menerima pengagungan selain Allah. Seekor semut hitam yang sedang berdiam di atas batu pada malam hari pun tidak luput dari kasih sayang-Nya. Keenggananku menukar penglihatan atau pendengaranku dengan istana termegah di dunia menunjukkan nilai seluruh nikmat dari-Nya adalah tiada terhingga. Kebahagiaan demi kebahagiaan yang mewarnai hari-hariku adalah alasan syukur yang harus selalu kupanjatkan.

Wa laa ilaaha illallahu; dan tiada Tuhan selain Allah. Kepada-Nya jiwaku ini akan kembali. Tiada daya dan upaya yang membantuku melewati waktu melainkan berasal dari-Nya. Hanya pada-Nya aku menyandarkan seluruh pengharapan. Hanya diri-Nya tempatku mengadu dan meminta kekuatan.

Wallahu akbar; dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Aku hanyalah titik tidak terlihat dalam peta kotaku. Lalu apakah diriku jika aku menggunakan peta negara, benua, atlas, dan tata surya? Sungguh Allah Maha Besar. Segalanya adalah mudah bagi-Nya. Segalanya adalah mungkin untuk-Nya. Karena itu, semua yang kualami saat ini; kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan, tidaklah perlu aku risaukan. Bukankah aku cukup meminta-Nya menghapuskan seluruh gundah tersebut dengan ‘Kun!’ dari-Nya?

Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallahu, wallahu akbar. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallahu, wallahu akbar. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallahu, wallahu akbar.

Aku membacanya dengan alunan yang selalu menggemakan hatiku seperti dalam majelis dzikir Ustadz Arifin Ilham. Air mataku pun menggenang lalu mengalir perlahan. Ya Allah, betapa kerdilnya diriku. Betapa lemah dan pengecutnya diriku. Ya Allah, betapa kotor hatiku ini. Jejak dosa juga mengendap dalam mulutku, mataku, telingaku, tanganku, dan hatiku. Bagaimana mungkin aku siap menghadap-Mu jika aku lusuh seperti ini, ya Allah? Bagaimana mungkin aku layak masuk ke surga-Mu, di sisi-Mu, setelah diriku ditelanjangi di Padang Mahsyar? Apa yang tersisa di bawah lapisan pakaian kesombongan dan kemunafikanku, ya Allah?

Terlalu banyak, ya Allah, waktu yang kuhabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kebaikan dunia dan akhiratku. Ketika seharusnya aku membaca ayat-ayat-Mu, aku sibuk menghabiskan waktu di laman-laman maya untuk bergurau dan bercanda. Saat semestinya bibirku basah oleh dzikir, aku justru mendesah dan menggunjing seolah tiada takut akan balasan yang menanti di hari akhir.

Terlalu sering, ya Allah, aku lupa bahwa semua yang ada pada diriku perlu kupertanggungjawabkan pada-Mu. Tidak sempat aku menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin karena memiliki barang-barang keluaran terbaru jauh lebih penting bagiku. Tidak ingat aku untuk merendahkan hati atas keberhasilan yang merupakan anugerah-Mu karena mendapat decak kagum dan sanjungan manusia telah menjadi orientasi utamaku.

Allaahumma innii zhalamtu nafsii zhulman katsiiran kabiira, walaa yagh-firudzdzunuuba illaa anta, fagh-firlii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka antal ghafuururrahiim; ya Allah, aku telah menganiaya diriku sendiri dengan aniaya yang banyak lagi besar, padahal tidak ada yang dapat mengampuni dosaku selain Engkau. Karena itu ampunilah segala dosaku itu dengan ampunan dari hadirat-Mu dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aku mulai tergugu. Dengan penggalan napas di antara sedu sedanku, aku menyampaikan pula kerinduanku pada Rasulullah. Mencoba untuk mengirimkan salam lewat shalawat-ku. Tiba-tiba aku terhenyak, rasa takut hadir menyesakkan dada. Mungkinkah aku akan menemuimu, ya Rasulullah, suatu saat nanti? Berbanggakah kau nantinya mendapati aku berbaris di antara umatmu yang mendamba syafaatmu?

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad. Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa rasuulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam; Ya Allah, anugerahkan kesejahteraan atas junjungan kami Muhammad dan keluarga junjungan kami Muhammad. Ya Allah, anugerahkan kesejahteraan dan keselamatan atas Rasulullah (semoga Allah mencurahkan kesejahteraan dan keselamatan atasnya).”

Bongkahan kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan di dadaku sirna. Dalam kepasrahan total seperti ini, memercayakan seluruh hidupku pada ketetapan-Nya, aku merasa diriku menjadi ringan. Kurebahkan tubuhku di atas sajadah. Selintas, terpikir olehku, alangkah indahnya jika Allah menjemputku di tengah kedamaian seperti ini. Namun aku tidak tahu bagaimana aku akan dijemput nantinya. Aku tidak akan pernah tahu.

Allaahummaj’al khaira ‘umrii aakhirahu wa khaira ‘amalii khawaatimahu wa khaira ayyaamii yaumal qaakafiih; ya Allah, jadikan umur terbaikku ialah di penghujungnya, jadikan amalan terbaikku berada di penutupnya, dan jadikan hari-hari terbaikku adalah saat berjumpa dengan-Mu.”

Sajadahku basah oleh air mata.



Andaikata Allah hendak menjemputmu hari ini, akan lari ke mana dirimu? Memeluk kaki ibundamu, meminta ampun atas luka yang pernah kau torehkan di hatinya, juga atas bakti yang jauh dari sempurna? Atau menatap keriput-keriput halus di sudut mata ayahandamu, lalu mengatakan sesalmu karena sering mengabaikan perkataannya dan belum jua mampu membuatnya bangga?

Andaikata Allah hendak menjemputmu hari ini, akan lari ke mana dirimu? Meminta maaf atas semua kesalahanmu pada kerabat dan sahabat? Membayar janji dan utang yang selama ini selalu kau tunda? Membakar buku harian dan coretan lain yang menyimpan aib-aibmu?

Akan lari ke mana dirimu, andaikata Allah hendak menjemputmu hari ini? Menghapus debu tipis di atas alquranmu dan terbata membaca ayat-ayat-Nya? Mencari-cari tasbih yang terselip di sudut lacimu dan tersendat memohon maghfirah-Nya? Membasuh peluh di wajahmu dengan wudhu lalu tertatih menuju rumah-Nya?

Akan lari ke mana dirimu, kiranya Allah sungguh hendak menjemputmu hari ini?

#5 Mengelap Debu

Sebenarnya, agak sulit membayangkan bahwa kompleksitas tubuh manusia diciptakan Allah dari segumpal darah semata. Inilah bukti nyata keberadaan-Nya, segumpal darah tersebut menjelma menjadi segumpal daging yang kemudian membentuk dirinya menjadi organ-organ penting bagi kehidupan seseorang. Terlindung oleh tulang dan kulit, maka berjalanlah manusia di muka bumi ini dengan membawa keajaiban yang tiada henti terjadi dalam dirinya; penginderaan, sirkulasi udara, pencernaan makanan, peredaran darah, pengaturan hormon, hingga penyampaian informasi di antara sel-sel syaraf seluruh tubuh.

Jika terdapat suatu masalah di dalam tubuh, manusia pun akan mengerahkan seluruh daya upaya untuk menemukan secara spesifik masalah tersebut. Karena meski telah tersedia begitu banyak pengobatan, hal pertama yang harus diketahui oleh dokter ialah sumber penyakit sang pasien. Sebelum melakukan tes-tes berbiaya mahal seperti pemeriksaan darah, penyinaran dengan sinar-X, pencitraan dengan resonansi magnetik, dan sebagainya, ada suatu prosedur standar yang dilakukan dokter ketika seorang pasien mendatanginya. Prosedur itu ialah menanyakan gejala yang dirasakan pasien tersebut. Terdengar sederhana, memang. Akan tetapi inilah cara paling efektif untuk mendiagnosis penyakit seorang pasien.

Bagaimana dengan penyakit hati? Mungkinkah mendiagnosisnya dengan cara yang sama, yakni menelaah gejala-gejala yang dirasakan? Tentu saja mungkin! Pemikiran ini kusimpulkan sewaktu aku mengerjakan deretan soal ujian beberapa waktu lalu. Ah, aku ingin tertawa mengingatnya. Jadi saat itu aku sudah selesai menjawab secara asal beberapa soal yang tidak kuketahui jawabannya ketika lembar jawaban teman di depanku tersibak. Temanku ini pandai, kemungkinan bahwa jawabannya adalah benar sangat tinggi. Kebimbangan menghantuiku selama beberapa menit. Resah di antara pilihan mengganti jawabanku sesuai jawaban temanku ataukah langsung mengumpulkan berkas ujianku. Syukurlah aku masih mengikuti hati nuraniku dan langsung mengumpulkan jawabanku pada pengawas ujian.

Rasa resah! Itulah gejala yang kualami dan kuidentifikasi sebagai sumber penyakit hati. Contoh lainnya adalah kejadian semasa kecilku. Di tengah hari pada bulan Ramadhan, aku membeli semangkuk puding dan memakannya diam-diam di dalam lemari. Rasa hausku memang hilang, tetapi gelisah dan perasaan bersalah membuatku lebih menderita. Aturan kelipatan tentu saja berlaku di sini. Semakin besar kesalahan yang pernah dan akan kulakukan, rasa resah yang melanda pasti akan semakin besar pula. Hmm, tiba-tiba aku merasa kasihan dengan para koruptor. Benarkah mereka bahagia dalam keresahan berbalut harta hasil korupsi tersebut?

Menurut pendapatku, rasa resah ini sebenarnya merupakan bagian dari muraqabah; merasa selalu diawasi Allah. Akan tetapi cakupan muraqabah sangatlah luas. Kali ini aku hanya ingin berfokus pada cara mengidentifikasi apakah sesuatu yang telah, sedang, dan akan kita lakukan merupakan hal baik atau buruk. Selain dengan mengenali keresahan di hati, ucapan basmalah juga ampuh untuk mencegah kita berbuat hal yang dilarang Allah. Caranya mudah, sebelum melakukan sesuatu, biasakan membaca basmalah. Dengan sendirinya kita akan tersadar untuk tidak menjalankan hal yang mustahil kita awali dengan basmalah tersebut.

Ketika berangkat dari rumah di pagi hari, ucapkan basmalah. Sebelum bekerja atau beraktivitas lainnya, ucapkan basmalah. Saat hendak menyantap makanan yang halalan thayyibah, juga lafadzkan basmalah. Nah, sekarang, beranikah kita mengucap basmalah sebelum bergunjing tentang keburukan seseorang saat kita bertemu teman kita? Pantaskah kita mengucap basmalah sebelum melontarkan kemarahan dan kata-kata kasar kepada orang lain? Masih tersisakah harga diri kita jika mengucapkan ‘bismillahirrahmaanirrahiim; dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’ sebelum berbuat maksiat?

Dari Wabishah bin Ma’bad al-Asadi bahwasanya Rasulullah bersabda kepada Wabishah, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang al-Birr (pemberian, kelembutan, kebajikan, persahabatan yang baik, dan ketaatan) dan dosa?” Dia menjawab, “Ya.” Lalu beliau mengumpulkan jari-jarinya dan memukulkannya ke dada beliau, “Tanyakanlah kepada hatimu wahai Wabishah (diulanginya tiga kali). Al-Birr adalah yang menjadikan jiwa dan hatimu tenang, sedangkan dosa adalah yang tergerak dalam hatimu dan menimbulkan keraguan dalam dada, walaupun manusia semua membenarkanmu.” (HR. Ad-Darimi)

Rasulullah bahkan mengulang kata-kata ‘tanyakanlah kepada hatimu’ hingga tiga kali. Penekanan semacam ini menunjukkan betapa hati memang dianugerahi kemampuan intuitif nan fitrah. Aku paham, memang tidak semudah itu untuk mendengarkan jawaban hati. Kadang ia pun terbias dengan riuhnya dunia yang penuh kepalsuan. Lalu jika aku tidak bisa mendengarkan sang nurani, apakah ini berarti hatiku tidak lagi bisa diandalkan sebagai sumber diagnosis? Atau ia hanya sedang kotor –bahkan terlalu kotor- untuk menyaring hakikat kebenaran dalam hidup ini?

Perandaian yang cocok untuk hal ini mungkin layaknya dua orang yang hendak bercermin. Orang pertama berkaca di cermin hotel berbintang. Sementara itu, orang kedua melihat bayangan dirinya di kaca sebuah mobil yang penuh debu. Kukira siapa pun akan sepakat jika aku menyimpulkan bahwa orang pertama akan lebih mudah melihat apakah terdapat noda di wajahnya dibandingkan orang kedua.

Duh, Allah, aku jadi takut membayangkan hal ini. Jika hati adalah cermin, seperti apakah hatiku ini sebenarnya? Cermin hotel berbintang? Atau kaca mobil penuh debu?



Aku membayangkan, di suatu tempat yang teramat tinggi, akan berkumpul cahaya-cahaya jiwa yang kerlipnya pun terasa menyilaukan bagiku. Mereka tersenyum, bahagia mendapati diri berada di antara para nabi dan rasul junjungan mereka. Mereka terharu, bersukacita menatap Kekasih yang mereka agungkan siang dan malam. Ah, seindah apakah kalbu mereka?

Mereka itukah yang dipanggil oleh Allah dengan ayat ‘Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’ii ilaa rabbiki raadhiatammardhiyyah; wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya’?

Sungguh, seindah apakah kalbu mereka?

#4 Mengubah Sudut Pandang

Seseorang berkata padaku, “Manusia bagaikan layang-layang. Agar derajatnya mampu naik ke tingkatan yang lebih tinggi, ia harus terus ditarik dan diulur. Maka bersyukurlah jika Allah masih memberi kita ‘tarikan-tarikan’ di tengah ‘uluran’ benang kehidupan. Itu berarti Allah sedang meninggikan derajat kita. Namun waspadalah saat tiada lagi ‘tarikan’ atau cobaan menerpa kita, mintalah ampunan kepada-Nya, jangan sampai ‘benang’ kita diputuskan oleh-Nya. Jangan sampai kita ditinggalkan diri-Nya. Na’udzubillah. Tsumma na’udzubillah.”

Aku tercenung mendengarnya. Perspektif seseorang dalam memandang ujian memang dapat dijadikan parameter kualitas diri. Bayangkan apabila semua orang memiliki sudut pandang yang sama, bahwa kesulitan dalam hidup adalah ‘tarikan’ atau bahkan ‘sentakan’ yang akan meninggikan derajat kita. Bisa jadi orang-orang akan bersyukur setiap kali mendapat musibah karena percaya ini adalah cara Allah menyayangi kita.

Indah sekali jika kita dapat selalu berpikir sedemikian. Karena sesungguhnya itulah karakteristik muslim sejati, ia akan bersyukur dalam kebahagiaan dan bersabar dalam kesedihan. Mereka percaya dengan ‘mantra’ yang disampaikan Rasulullah kepada Abu Bakar saat mereka bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran orang-orang Quraisy ketika peristiwa hijrah ke Yatsrib, “La tahzan, innallahama’ana; jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Kukira itu yang senantiasa diyakini para ulama besar seperti Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Taimiyyah, atau As-Sarakhsi ketika mereka dipenjara. Mereka tidak larut dalam kesedihan, justru mereka menghasilkan buku-buku luar biasa yang ilmu di dalamnya terus mengalir hingga saat ini. Subhanallah.

Setelah terpikir akan hal ini, aku menerawang hari-hari yang telah kulalui. Menciut sel-sel dalam tubuhku. Perpaduan sesal dan malu menyesak dada. Seberat itukah masalah yang dahulu kuhadapi hingga duniaku seolah runtuh dan segalanya menjadi berantakan? Selemah itukah diriku saat itu sampai mengalah pada perasaan takut lalu memilih lari dari masalah? Setega itukah diriku karena menyangka orang-orang terdekatku tidak akan memahami kekalutanku dan menyangga langkahku?

Alhamdulillah, semuanya telah berlalu. Seperti apa yang sering kudengar, segala sesuatu yang tidak membunuhku akan membuatku lebih kuat. Dalam hal ini kuharap ia juga akan membuatku lebih bijaksana. Hanya saja, aku berkeinginan melakukan tindakan pencegahan agar ‘keruntuhan pertahanan diri terhadap masalah hidup’ tidak terjadi lagi pada diriku.

Untuk mencegah keruntuhan tersebut, tentu saja aku harus memperkuat pertahanan diriku. Aku toh tidak mungkin mencegah masalah datang ke dalam hari-hariku. Bukankah itu akan berarti ‘benang layang-layangku telah diputuskan’? Lagipula variabel eksternal semacam itu adalah kuasa Allah semata. Konyol apabila manusia mencoba ikut campur terhadap hak mutlak milik-Nya. Hmm, menyimpang sejenak; andaikata seluruh orang paham akan hal ini, apa yang akan terjadi dengan para peramal, dukun, dan pawang hujan, ya? Kukira mereka akan berbondong-bondong mencari usaha lain. Bangkrut.

Baiklah, mari kembali ke renungan kali ini. Bagaimana cara mengokohkan pertahanan diri? Salah satunya adalah dengan mengikuti ajaran junjungan kita, Nabi Muhammad, untuk selalu membaca doa ini sebanyak tiga kali setiap pagi dan petang hari; “Allaahumma innii a’udzubika minal hammi wal hazan wa a’udubika minal ‘ajzi wal kasal wa a’udubika minal jubni wal bukhl wa a’udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal; ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”

Ini berbeda dengan berharap masalah tidak akan datang padaku. Dalam doa ini tersimpan kepercayaan penuh bahwa Allah selalu bersamaku. Sehingga aku dapat melewati perjalanan panjang (yang kuharap berakhir di jannah-Nya) dengan perlindungan-Nya. Aku berlindung dari kelemahanku sendiri, berlindung dari ketidakbaikan yang mungkin terjadi akibat kelemahanku, dan berlindung dari kelemahan orang lain.

Setelah itu, aku juga akan mengubah cara pandangku terhadap hidup. Aku akan mencoba teori ‘layang-layang’ yang percaya bahwa setiap ujian adalah cara Allah meninggikan derajat kita. Mungkin, aku akan menyambut masalah yang datang, mengucapkan salam sukacita karena bertemu dengannya, dan menyampaikan bela sungkawaku karena tidak peduli sekeras apa pun masalah coba menumbangkanku, ia tidak akan berhasil. Karena aku adalah layang-layang dengan kertas terkuat, bambu terlentur, dan benang gelasan terbaik di dunia. Aku adalah layang-layang yang dipastikan akan juara. Aku adalah layang-layang yang akan terbang paling tinggi.



Akan tiba suatu masa, ketika kau menyadari bahwa riak bening di telaga Kautsar adalah muara air mata kesabaranmu di dunia, langit yang menopang keberadaanmu di sisi-Nya adalah rajutan ketegaranmu, dan sinar yang memancar dari setiap sudut istana abadimu adalah senyum keikhlasanmu.

Karena itu, bertahanlah. Jangan biarkan sungai ujian ini menghanyutkanmu, bahkan merenggut akarmu yang tersisa. Badai pasti berlalu. Sementara fajar pasti akan menyingsing.

Bertahanlah.

Dus, dalam hening malam ini, ceritakanlah semua kepada-Nya. Mengadulah. Mintalah kekuatan pada-Nya untuk melewati semua yang tengah dan akan terjadi.

: Ia akan memelukmu dan membisikkan ke hatimu, “Segalanya akan baik-baik saja.”

#3 Memoles Dinding Retak

Rasanya, dalam kisah romansa di seluruh dunia, hampir semuanya bercerita tentang pengorbanan yang sanggup dilakukan seseorang untuk manusia atau hal yang dicintainya. Romeo Montague dan Juliet Capulet, misalnya, dikisahkan bahwa mereka mendeklarasikan kerelaannya untuk mati demi cinta. Severus Snape siap menanggung risiko pengkhianatannya kepada Lord Voldemort demi menjaga anak dari wanita yang dikasihinya. Atau yang lebih hangat, Isabella dari tetralogi ‘Twilight’ bersedia menjadi vampir seperti Edward Cullen agar dapat selalu bersama-sama dengannya.

Klise? Mungkin. Tetapi itulah yang memang benar-benar terjadi dalam kehidupan ini. Begitu banyak orang siap jungkir balik (bahkan secara harfiah) demi cinta. Seorang ayah siap mengaduk tumpukan sampah setiap harinya supaya bisa menghidupi keluarganya. Pun seorang ibu setia memikul dagangan yang berat ke pasar dari hari ke hari dengan harapan dapat terus membelikan susu bagi anaknya. Ya, jika sudah bicara mengenai cinta, seseorang sanggup mengabdikan jiwa, raga, waktu, dan hartanya semata-mata untuk membahagiakan mereka yang dikasihinya.

Padahal, bukankah mereka yang kita sayangi hanyalah manusia yang tidak sempurna? Bukankah kita pun sering dikecewakan oleh mereka? Baik karena pengkhianatan, perlakuan yang tidak berkenan, hingga penolakan cinta yang kita tawarkan. Itulah sebabnya, sabda orang-orang yang mengaku diri mereka pujangga, mengapa kita harus mencintai orang yang tidak sempurna dengan cinta yang sempurna.

Cinta yang sempurna, seperti apakah ia? Aku pun tidak tahu definisi yang tepat, tetapi menurut pendapat sederhanaku, cinta yang sempurna ialah cinta yang diusahakan untuk sempurna. Maksudku, cinta yang sempurna (dalam konteks kita sebagai manusia) bukanlah cinta tanpa cacat, melainkan cinta yang diusahakan terus menerus kesempurnaannya. Ribet, ya? Duh, maafkan aku.

Begini saja. Sebagai contoh, berapa persen dari seluruh pasangan suami istri di jagat raya ini yang tidak pernah bertengkar? Probabilitas keberadaannya sangat kecil, kurasa. Tetapi karena mereka saling mencintai, mereka kemudian meminta maaf pada pasangannya dan mengupayakan cinta yang lebih baik. Lagi dan lagi. Usaha tanpa henti untuk terus menyempurnakan cinta, meski tidak akan pernah benar-benar sempurna, itulah cinta yang sempurna menurutku.

Lalu jika terhadap manusia yang tidak sempurna pun kita sanggup mengupayakan cinta yang sempurna, bagaimana seharusnya kita mencintai Ia yang Maha Sempurna? Ia yang memang cinta-Nya adalah sempurna, bukan analogi semata seperti yang tadi coba kujelaskan. Ia yang tidak pernah dan tidak akan mengecewakan kita. Ia, yang dengan-Nya, tidak mungkin ada istilah cinta tak terbalas. Ia, yang selalu dekat meski kita sedang jauh. Ia, yang selalu memaafkan kita tidak peduli betapa sering dan besarnya kita bersalah. Ia, yang mencintai kita dengan segala cinta-Nya; berlimpah dan tiada henti.

Aku membayangkan, jika nanti aku memiliki pasangan dunia akhirat yang sungguh kucintai, hal yang paling pertama kuinginkan saat bangun pagi pastilah melihat dirinya. Menyapanya. Membalas senyumnya. Bayangan ini membuatku malu kala mengingat diriku yang terkadang berat melangkahkan kaki untuk menyapa Ia yang kuaku sebagai Kekasihku di pagi hari. Seharusnya aku bersukacita menyapa-Nya, bukan bertanya-tanya, “Perasaan baru tidur sebentar, kok sudah Subuh lagi, sih?” Seharusnya aku tersenyum menemui-Nya, bukan justru tampil kusut dengan mata setengah terpejam. Seharusnya aku bahagia mengungkapkan isi hatiku pada-Nya, bukan memilih ayat-ayat terpendek agar dua rakaat yang kulakukan cepat tunai dan tanpa basa-basi langsung kembali pada pelukan selimut hangat.

Aku juga membayangkan, jika nanti aku memiliki seorang buah hati yang berasal dari darah dagingku, hal yang kuinginkan saat bangun di malam hari pastilah menatap wajahnya. Menciumnya. Mengatakan betapa bersyukurnya diriku memiliki anak sepertinya. Bayangan ini membuatku lebih malu kala mengingat diriku selama ini yang terkadang bangun di malam hari hanya untuk pipis, minum, lalu kembali tidur. Tidakkah aku memiliki keinginan untuk sebentar saja bermesraan dengan-Nya? Tidakkah terbersit dalam hatiku perasaan rindu untuk melewati kesunyian malam bersama-Nya? Tidakkah berkelebat dalam benakku untuk menunjukkan rasa syukurku atas semua yang telah diberikan oleh-Nya?

Ya Rabbi, ampunilah diriku. Subhaanaka innii kuntu minazhzhalimiin; sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zhalim. Laa ilaaha illaa anta yaa hannaanu yaa mannaanu yaa badii’assamaaawaati wal ardhi yaa dzaljalaali wal ikraam; Tiada Tuhan selain Engkau, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Pemberi, wahai Yang Menciptakan langit dan bumi, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.

Tiba-tiba ada gigil yang menyusup perlahan saat kudengar lirik-lirik ini mengalun, “Meski ku-rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepada-Mu, namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu. Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu.”(Opick – Rapuh)



Bicara mengenai menyempurnakan cinta kepada-Nya, aku bertanya-tanya tentang hal yang paling sederhana; jika kau diberi kesempatan bertemu dengan Kekasihmu sebanyak minimal lima kali dalam sehari, akankah kau menyapanya dengan senyuman terbaikmu? Dengan segenap rindu yang ingin kau curahkan? Atau justru membiarkan Ia menunggu bahkan melupakan janji temu yang telah disepakati?

Aku bertanya-tanya, jika saat ini kau enggan menemui-Nya, bagaimana jadinya di hari akhir nanti bila Ia berbalik enggan menemuimu?

Aku bertanya-tanya hal yang sama pada diriku.

#2 Menutup Lubang Pasak

Publish. Sesaat setelah tombol tersebut kau tekan, deretan kalimat yang kau tuliskan pun terpampang dengan gagahnya di halaman terdepan situs milikmu. Beberapa hari kemudian, kau sadar bahwa ada hal-hal di dalam tulisanmu yang tidak seharusnya kau utarakan. Tulisan itu pun segera kau hapus. Lantaskah tulisanmu itu hilang tanpa jejak? Tidak. Teknologi mesin pencari dengan fasilitas ‘cache’ atau ‘tembolok’ yang disediakan akan menyimpan sisa-sisa tulisanmu. Siapa pun akan bisa melacak jejak tersebut meski dalam tampilan utama website-mu tulisan tersebut sudah tidak tampak.

Mungkin kau juga masih ingat kisah seorang anak lelaki berkelakuan buruk yang diminta ayahnya untuk memakukan pasak setiap kali ia berbuat tidak baik. Dalam cerita tersebut, sang anak pada akhirnya merasa lebih baik menahan diri untuk tidak berbuat buruk dibandingkan harus memakukan sebuah pasak. Selanjutnya sang ayah menginstruksikan kepada anaknya untuk mencabut satu pasak setiap satu perbuatan baik. Setelah seluruh pasak tercabut, sang ayah menunjukkan kepada anaknya bahwa lubang-lubang sisa tancapan pasak tentu sulit dihilangkan. Begitu pula lubang di hati orang-orang yang tersakiti.

Itulah dua kisah yang bisa dijadikan analogi dalam kehidupan kita. Tingkah laku kita. Perkataan kita. Walaupun sepintas tindakan buruk kita di masa lalu sudah tidak terendus lagi, sebenarnya ia selalu ada dan mendekam di dunia ini. Jika pesawat terbang memiliki kotak hitam untuk merekam detail manuver dan trayek sepanjang perjalanannya, manusia memiliki ingatan untuk menyimpan semua hal tersebut. Inilah yang akhir-akhir ini meresahkanku.

Diriku ini bukanlah manusia tanpa noda. Berdusta, bergunjing. berburuk sangka, berkata tidak santun, berlaku buruk, berbuat curang … semua pernah kulakukan. Memanipulasi data atau laporan, mengatakan hal yang belum tentu benar tentang seseorang, menyakiti hati sahabat sendiri, mengotori hati dengan hal duniawi, melalaikan ibadah … entah kapan, namun semua itu pun pernah kulakukan.

Lafadz istighfar terus menerus kuucapkan demi memohon ampunan Allah atas semua kekhilafanku tersebut. Berulang kali pula kudaraskan doa “Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaab”; “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kamu condong pada kesesatan setelah Engkau anugerahi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi Karunia.” (QS. Ali-Imran [3]: 8). Namun benak ini masih juga dibayang-bayangi tumpukan dosaku di masa lalu. Melekat, seolah enggan terlepas dari diriku.

Selain itu, ingatan tentang suatu laku atau kata buruk yang kita lakukan tentu tidak hanya tinggal dalam ingatan kita. Mereka juga menetap dalam benak orang-orang lain. Lalu apa yang sebaiknya kita perbuat? Seandainya kisah Harry Potter itu nyata, aku ingin menggunakan mantra 'Obliviate’ yang dapat memodifikasi ingatan itu pada memori orang-orang termasuk diriku. Tetapi itu hampir mustahil terjadi, aku tahu. Hampir sama mustahil dengan meminta Doraemon mengembalikanku ke masa lalu dengan mesin waktu miliknya.

Lantas yang kulakukan hanyalah berdamai dengan diriku. Dengan perasaanku. Dengan ingatanku. Aku tidak lagi merutuki diriku. Pun aku tidak perlu menghindar dari orang-orang yang mengetahui kesalahanku atau bahkan dari orang-orang yang pernah kusakiti. Aku ber-husnudzon pada orang-orang yang tahu tentang kesalahanku bahwa mereka akan menutupi aibku sebagaimana aku akan berusaha menutupi aib mereka. Aku meminta maaf dari orang-orang yang pernah kusakiti dan menjalin hubungan baik dengan mereka.

Lalu yang tidak kalah penting, aku memaafkan diriku. Aku mengikhlaskan diri bahwa aku hanyalah manusia yang tidak sempurna. Aku tidak terlalu banyak menoleh ke belakang. Ibarat sedang mengemudi mobil, masa lalu hanyalah spion yang sesekali kita tengok untuk memastikan kita akan terus melaju dengan baik.

Aku pernah membaca buku ‘Manajemen Taubat’. Dalam buku itu tertulis bahwasanya masa lalu adalah sesuatu yang jauh. Jangan terlalu banyak mengingat yang jauh kecuali ia akan mendekatkanmu pada Allah. Maksudnya, dosa-dosa kita hanya boleh diingat ketika kita sedang mengingat Allah. Membiarkan air mata kita berderai karena teringat dosa, itu boleh. Mengingat dosa untuk menghisab diri, itu juga boleh. Yang tidak boleh adalah larut dalam kenangan masa lalu yang kelam dan memasung diri di dalamnya. Yang tidak boleh adalah merasa tidak percaya diri karena kesalahan masa lalu dan bersembunyi dari dunia. Yang tidak boleh adalah menjadikan ingatan kita tentang dosa sebagai alasan kita kufur nikmat.

Jadi ketika ‘tembolok’ di mesin pencari ingatanku atau ‘lubang-lubang pasak’ membawa kesedihan di hatiku perihal dosa-dosa yang pernah kuperbuat, aku menyerahkan segalanya pada Allah. Aku akan memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya kembali secara perlahan, dan membaca lekat janji Allah; “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni segala dosa-dosa yang ada padamu dan Aku tidak memedulikannya. Wahai anak cucu Adam, jika dosa-dosamu telah mencapai awan di langit, kemudian Engkau meminta ampunan-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak akan memedulikannya. Wahai anak cucu Adam, sekiranya engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi dunia, kemudian Engkau menghadap-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan apa pun, sungguh Aku akan memberimu ampunan sebesar dunia dan seisinya.’” (HR. At-Tirmidzi)



Aku tidak lain ialah dirimu. Karenanya, aku paham betapa resah perasaanmu akibat apa-apa yang telah lalu. Sebagaimana aku juga merasakan penyesalan tentangnya yang menggelayuti setiap langkahmu.

Mari, pejamkan mata bersamaku. Tarik dan hembuskan napas secara dalam nan perlahan. Ucapkan istighfar sebanyak-banyaknya. Kemudian lanjutkan dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sebanyak bilangan yang kau inginkan. Rasakan getarannya. Resapi maknanya. Mintalah ampun pada Al-Ghaffaar dan Al-Ghaffuur.

Mintalah petunjuk pada Al-Fattaah dan Al-Haadii. Mintalah kasih sayang pada Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Mintalah kelapangan hati pada Al-Baasith dan Al-Waasi’.

Lalu ikhlaskanlah segalanya. Maafkanlah dirimu. Lupakanlah kesalahanmu. Tersenyumlah, siapkan dirimu menyongsong hari yang baru.

Aku akan menggenggam tanganmu hingga mentari esok menyapa. Erat.

#1 Melangkah Masuk

Bagaikan lumut kerak yang menempel di sela-sela batu halaman belakang rumah, kusam diri telah demikian pekatnya merambahi hati ini. Sekeras apa pun aku mencoba mengikisnya, rintisan hujan di tengah malam lantas menumbuhkan kembali sang lumut dengan jumawa. Benarkah memang hati tidak mungkin tersucikan sepenuhnya? Atau hanya aku yang belum mencoba segala cara?

Sering sekali aku jatuh bangun dalam proses pemurnian hati ini. Lama. Menyakitkan. Beberapa kali aku menyerah dan membiarkan hatiku kotor untuk beberapa waktu sebelum akhirnya tersentak sadar dan menyesal. Aku sampai mengutuk diriku yang rasanya memiliki kebodohan keledai dengan pangkat eksponensial. Bukankah orang-orang selalu mengatakan bahwa keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama? Lalu jika aku berkali-kali jatuh di lubang yang sama –bahkan setelah palang-palang pengingat dipancangkan-, masih adakah analogi kebodohan yang tepat bagiku?

Seandainya ada jalur cepat untuk membersihkan hati, ingin sekali aku mengambil jalur tersebut. Bukankah saat ini adalah zaman serba instan? Mau kaya dengan cepat, tinggal korupsi. Mau tampil lebih menarik, tinggal operasi plastik. Mau jadi sarjana dadakan, tinggal beli ijazah. Lalu, Gusti, mengapa tidak ada cara cepat yang menjanjikan kesucian hati? Mengapa hanya Muhammad yang Engkau beri keistimewaan itu –dibelah dan dibersihkan dadanya oleh malaikat-?

Retoris. Aku tahu jawabannya. Selain contoh keinstanan yang kuberikan sebelumnya tidaklah dibenarkan dalam Islam, alasan utamanya tentu saja karena Muhammad diutus sebagai rasul; uswatun hasanah. Sudah pasti kesucian hatinya akan dijaga oleh Allah. Nah, aku sebagai umatnya, harus mengikuti perilakunya sesuai petunjuk alquran dan hadits. Tapi, duh, Gusti, terkadang sulit sekali. Imanku naik turun dengan kurva tidak menentu. Taubat yang berkali-kali kuteguhkan, berkali-kali pula kulanggar. Astaghfirullahal’adziim.

Masih tentang Nabi Muhammad, aku jadi teringat salah satu kebiasaannya semasa muda. Mengasingkan diri (‘uzlah) dan merenung di Gua Hira. Dunia yang terlalu hingar bingar dan penuh kejahiliyahan menjadikannya sering berdiam di gua tersebut sampai turunnya wahyu pertama. Rasulullah bukanlah pertapa yang mengasingkan diri siang dan malam. Beliau tetaplah pedagang yang memiliki hubungan baik dengan sesamanya. Hanya saja, ia selalu menyempatkan diri untuk melongok ke dalam dirinya. Menggali makna. Menelaah langkah. Menarik napas.

Keutamaan ‘uzlah seperti yang dilakukan Rasulullah tersebut salah satunya dituturkan Ibnu Al-Jauzi dalam Shaidul Khathir; "Saya tidak melihat dan mendengar manfaat yang lebih besar daripada 'uzlah. Karena 'uzlah adalah sebuah ketenangan, sebuah keagungan, sebuah kemuliaan, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dan keburukan dan kejahatan, sebuah kiat untuk menjaga kehormatan dan waktu, sebuah cara untuk menjaga usia, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dan orang-orang yang mendengki, sebuah perenungan tentang akhirat, sebuah persiapan untuk bertemu Allah, sebuah pemusatan jiwa raga untuk melakukan ketaatan, sebuah pemberdayaan nalar terhadap hal-hal yang bermanfaat, dan sebuah eksplorasi terhadap nilai dari hukum dan nash-nash yang ada."

Subhanallah, betapa banyak kemuliaan yang dapat diperoleh dari ber-‘uzlah. Sayang, untuk benar-benar mengikuti kebiasaan rasul merenung di Gua Hira agak sulit kulakukan. Selain karena gua-gua terdekat biasanya dijadikan tujuan wisata atau proyek penambangan, berdiam diri dalam gua sungguhan sepertinya agak menyeramkan. Oleh karena itu, biarlah Gua Hira dengan makna konotatif saja yang kugunakan di sini. Gua tempatku merenung ini memang tidak lebih dari sekadar gua khayalan, tapi aku berharap hal ini tidak mengurangi esensi ‘uzlah yang hendak kulakukan.

Selanjutnya, agar proses pemurnian jiwa ini tidak menjelma kubangan imaji semata, kupikir lebih baik adanya bila aku menuliskan setiap dialog batin yang kualami. Karena jika nanti aku ingin menengok kembali hasta demi hasta perjalananku, deretan kata tentulah hal yang paling mudah dilacak. Dalam hal ini, mudah-mudahan Allah selalu menuntun langkahku sehingga jejak yang akan tercatat ialah untaian hikmah tak berkeputusan.

Ah, tidak pantas rasanya aku menanyakan ini; tetapi sudikah kau menemaniku menggores jejak-jejak tersebut? Benar, aku memang bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang terseok-seok mencari jalan ridha-Nya. Hanya seseorang yang terbata mengeja ayat-Nya. Namun saat ini, tidak ada yang lebih kuinginkan selain berdiam di sini, di lembar-lembar Gua Hira khayalanku, lalu mengajakmu duduk di sampingku.

Kita akan memunguti remah-remah makna yang selama ini tercecer di lelahnya hari. Kita akan mengikis kotoran hati dengan air mata takut pada-Nya. Kita akan sujud mensyukuri setiap nikmat yang selama ini kita dustakan. Kita akan diam. Menggali makna. Menelaah langkah. Menarik napas.

Di sini. Di kesunyian ini.



Ah, iya. Sebelumnya, kau mau kuseduhkan kopi? Atau teh, mungkin?