Langit mencurahkan perasaannya pada bumi melalui tetes-tetes air hujan yang riang. Semakin lama semakin deras. Di jalan sempit depan rumahku, beberapa anak kecil asyik bermain bola plastik yang kelihatannya sudah tidak bundar sempurna. Helm mungil terpasang di kepala mereka, entah untuk apa. Mereka tertawa lepas. Berlari tanpa beban. Bagi mereka, hanya ada hari ini. Saat ini. Dari balik jendela ruang tamuku, aku menyunggingkan senyum geli.
…
Aku membereskan lembar demi lembar kertas yang terserak di antara kami. Aku dan seorang kawan baru saja selesai belajar bersama untuk persiapan ujian. Membentang indah di hadapan, sebuah danau hijau dengan pepohon berbunga merah muda sebagai pigura. Angin berhembus semilir, menemani perjalanan pulang sekelompok burung kelabu. Kawanku menyandarkan punggungnya ke dinding, “Tidak apa-apa jika ingin pulang lebih awal. Pemandangan seindah ini sungguh membuatku malas beranjak.”
…
Gadis kecil itu memelukku dari belakang. “Rindu,” demikian si cantik itu berkata. Lumer bagaikan mentega di seiris roti panas, seperti itulah hatiku. Hilang sudah keletihanku berhari-hari. Tawanya. Celoteh polosnya. Naik turun dalam tidurnya. Genggaman tangannya. Semua itu adalah harta tak ternilai bagiku. Karena hanya di bening matanyalah aku merasa benar-benar pulang. Pun karena hanya di sanalah aku tidak pernah –dan tidak perlu– khawatir akan hari esok.
…
Demikianlah. Ada banyak hal kecil yang sekilas tampak hirau di mata kita. Akan tetapi sesungguhnya pernik-pernik sederhana itu bagaikan mozaik indah jika kita melihatnya dengan hati. Ketika kita mampu menyerap makna dari setiap pernik hari, kita akan tersadar bahwa ada begitu banyak alasan untuk bersyukur di dunia ini.
Helen Keller adalah seseorang yang menjadi tuna netra dan tuna rungu karena penyakit misterius yang ia alami pada usia 19 bulan. Apakah ia lantas kehilangan semangat hidup dan menggantungkan hidupnya pada orang lain? Jawabannya adalah tidak. Ia justru meraih banyak penghargaan, di antaranya berasal dari
Honorary Degrees Women’s Hall of Fame,
The Presidential Medal of Freedom, dan
The Lions Humanitarian Award. Kisah hidupnya yang inspirasional bahkan memperoleh dua piala Oscar.
Ia berkata, “Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.” Mendengar kalimat ini, sepertinya semua orang akan sepakat bahwa Helen Keller tidaklah buta dan tuli. Dengan hatinya, ia justru lebih banyak melihat dan mendengar daripada orang kebanyakan. Ia bahkan turut membukakan mata dan telinga hati orang-orang lain selama berkeliling 39 negara dalam misi kemanusiaannya.
Aku kemudian mengingat-ingat, pagi ini seseorang mengirimkan pesan berisi ucapan selamat pagi untukku. Adikku mengajakku melukis bersama. Alunan
Asma’ul Husna dari tim nasyid Hijjaz mengalun dari
speaker-ku, merdu nan menentramkan jiwa. Ibu
ku menanyakan kabar jurnalnya yang sedang kubantu pengerjaannya. Pendingin ruangan membuat kondisiku semakin nyaman. Sarapan pagi yang hangat telah tersedia di meja makan.
Subhanallah, jika ternyata dalam waktu sesingkat ini saja ada banyak sekali hal yang patut kusyukuri, maka tiada akan mampu aku menghitung nikmat Allah kepadaku sepanjang hayat ini.
Semua pernik itu, bersama dengan nikmat iman, Islam, kesehatan, rizki, dan kehadiran orang-orang tercinta dalam hidup kita, adalah hal-hal yang perlu kita syukuri setiap saatnya. Karena meski seluruh syukur kita dipuja-pujikan bagi-Nya tidak akan menambah kebesaran
Mulk-Nya sedikit pun, Allah tetap berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim [14]: 7)
“Ya Allah, kami tahu bahwa semua janji-Mu adalah
haq. Karena itu jangan biarkan kami berlaku seperti Kaum Nuh, Kaum ‘Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Madyan yang binasa karena mengingkari nikmat-Mu. Selamatkan kami dari kekufuran yang mungkin mencelakakan diri kami sendiri, ya Allah. Hanya Engkau, ya
Rabbana, yang mungkin menyelamatkan kami dengan belas kasih-Mu yang tiada bertepi.
Kami sadar, ya Allah, betapa luar biasa kasih yang Engkau limpahkan pada kami. Maka karuniakanlah kami kemampuan bersyukur dengan sebaik-baiknya syukur, ya Allah. Dengan hati yang terang benderang karena cahaya-Mu. Dengan kesadaran seorang hamba yang tiada tanpa-Mu. Dengan hamdalah yang terus menghiasi laku dan langkahku. Ajarkan kami, ya
Rabbana, cara bersyukur atas kemurahan-Mu yang tiada cukup dituliskan meski air laut habis tertinta.”
“
Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an ‘amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan thardhaahu wa ashlih lii fii dzurriyyaatii innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin; ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaaf [46]: 15)
…
Pagi ini, alam seolah-olah berbahasa. Matahari tersenyum; dan aku berterima kasih atas cahayanya yang setia menerangi langit harapanku. Angin berbisik; dengan tulus kuucapkan terima kasih atas salam hakuna matata* yang ia semilirkan tiap kali sedih merajai hatiku. Ilalang tertawa; segera saja kutebarkan rasa terima kasihku karena kebersahajaan mereka yang mengajarkanku untuk selalu bahagia –di mana pun berada. Katakan padaku, dengan semua pernik sederhana yang memozaik di dalamnya, adakah hidup bisa lebih indah lagi? : Terima kasih, ya Allah, karena Engkau belum pernah memberiku alasan untuk tidak bersyukur kepada-Mu. *Hakuna matata: frase Swahili yang apabila diartikan bebas bermakna ‘no worries’.