Gua Hira dalam Jiwa

Inilah Cita-Citaku: Membangun Rumah Islami


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia Edisi Februari 2012

Fitri menunduk. Dalam pikirannya berkejaran banyak hal. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Bahkan sampai di usia 27 tahun ini, hamba masih saja menyusahkan hati kedua orangtua hamba. Pasti berat untuk orangtua hamba, harus bertanya sana-sini tentang calon suami yang sekiranya tepat bagi hamba.”

“Bagaimana, Nduk? Bapak dan ibumu ini hanya ingin yang terbaik untukmu. Bapak dulu sekamar sama Saifuddin waktu haji. Anaknya baik, sopan, dan yang penting shalih. Jadi insya Allah Bapak yakin Saifuddin bisa jadi imam buatmu,” ucap bapak perlahan, seolah takut menyinggung hati Fitri.

Nggih, Pak. Fitri… izin shalat istikharah dulu ya, Pak, Bu. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk, ketenangan, dan kemantapan tentang keputusan yang sebaiknya Fitri ambil,” jawab Fitri sambil menjaga agar suaranya tidak bergetar. Jantungnya berdebar amat cepat. Bagaimana tidak? Ia sedang dihadapkan pada keputusan mahapenting dalam hidupnya.

Hari kelima. Pertanyaan kelima. “Apakah Mas Saifuddin berkenan menceritakan tentang situasi sehari-hari di rumah Mas? Bagaimana penerapan nilai-nilai Islam dalam keluarga? Seperti apa konsep rumah Islami yang akan Mas usahakan di keluarga Mas kelak?”

Your message has been sent.

Setelah shalat istikharah dua minggu lalu, Fitri menyatakan kesiapannya untuk diperkenalkan kepada Muhammad Saifuddin. Seseorang yang dikenal ayahnya tiga tahun lalu. Pemuda sederhana yang meski dari keluarga berbeda tetap ke mana-mana naik sepeda. Dahulu, di kampusnya ia tinggal di asrama masjid sebagai marboth. Kini sedang mengembangkan usaha percetakan dan penerbitan buku-buku Islami. Tidak banyak yang ia bisa peroleh dari perkenalan satu jam yang sebagian besar justru diisi nostalgia Bapaknya dan Saifuddin tentang pengalaman haji mereka. Karena itu ia meminta syarat untuk mengenal Saifuddin lebih jelas dengan cara “menginterogasinya” selama satu bulan sebelum ia mengambil keputusan.

“Interogasi” tersebut dilakukan secara tertulis. Tiga puluh hari. Tiga puluh pertanyaan. Berisi hal-hal yang lebih personal seperti visi hidup, interaksi dengan Alquran, pendapatnya tentang Palestina, pendidikan anak, dan lainnya.

Hari ini, Fitri mengirim email pertanyaan kelima. Empat pertanyaan sebelumnya telah dijawab Saifuddin dengan baik. Fitri mengeprint setiap jawaban Saifuddin untuk ditunjukkan kepada bapak dan ibunya.  Alhamdulillah, Fitri dan keluarga semakin yakin bahwa Saifuddin insya Allah adalah calon suami yang terbaik dari Allah.


Friday, January 06, 2012 at 2:49 PM.
From: Muhammad Saifuddin (saifuddin.mhmmd@examplemail.com)
             
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dik Fitri, di Jumat penuh berkah ini, izinkan saya sedikit bercerita tentang rumah keluarga saya. Alhamdulillah, saya dilahirkan dalam keluarga yang memegang teguh nilai-nilai Islam. Situasi di rumah saya amat kondusif untuk membuat saya dan ketiga adik belajar agama secara menyenangkan. Mushola yang terletak di dekat kolam ikan, membuat kami senang berlama-lama di sana setelah shalat. Belajar mengaji, membaca buku, bahkan tidur di sana.

Ayah saya hampir selalu shalat di masjid. Akan tetapi, shalat sunnah beliau tunaikan di rumah. Saya diajak untuk mengikuti ayah ke masjid, minimal sewaktu Subuh, Maghrib, dan Isya. Ibu saya senang mengadakan pengajian di rumah. Setiap Senin dan Kamis, beliau rajin menyiapkan sahur dengan menu istimewa. Setelah Subuh, makanan tersebut diberikan kepada tukang sampah yang lewat di depan rumah. Sehingga, yang tidak berpuasa, tidak bisa merasakan hidangan spesial Ibu dan harus memasak sendiri bila hendak makan. Unik memang, cara beliau membiasakan kami berpuasa.

Ada banyak kisah-kisah lucu lainnya tentang upaya orangtua saya mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya. Insya Allah, apabila kita ditakdirkan menikah, saya akan menceritakannya. Sementara itu, rumah Islami yang saya akan usahakan kelak, insya Allah saya siap mencari ilmu lebih banyak tentangnya dan mendiskusikannya dengan istri. Rumah bahagia yang didasari Alquran dan Hadits, rumah yang menjadi surga di dunia, adalah salah satu cita-cita terbesar saya.

Akan tetapi, untuk saat ini, sebagaimana yang diinginkan Dik Fitri, saya akan mencoba member gambaran lebih detail mengenai konsep rumah Islami yang akan saya usahakan dalam keluarga saya kelak. Mudah-mudahan penjelasan di bawah memadai untuk itu.

FIRMAN ALLAH TENTANG RUMAH
           
Dik Fitri tentu setuju, bahwa dalam menjalani kehidupan ini, kita telah diberi sepaket petunjuk yang terbaik; Alquran dan Hadits. Karena itu, saat membutuhkan arahan, maka kita harus mencari, bahkan berlari kepada Alquran dan Hadits terlebih dahulu. Search engine di Internet seperti Google atau buku-buku terbitan manusia, itu rujukan kedua yang perlu diseleksi secara teliti tentang kebenarannya. Sementara Alquran dan hadits, tidak diragukan lagi kandungannya.

Sebelum saya menjelaskan cita-cita rumah Islami, mari kita bersama-sama telaah firman Allah ta’alamengenainya. Allah menyebut tentang Rumah dalam Alquran dengan beberapa kata,  al bait, al maskan, dan ad dar. Al bait disebut salah satunya dalam Surat Al-Mulk ayat 11, “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, (yaitu) istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”
             
Al maskan contohnya disebut dalam surat At-Taubah ayat 72, “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”

Sementara kata ad dar ada dalam surat Al-An’am ayat 127, “Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan.”

UNTUK DUNIA AKHIRAT

Dik Fitri, bukankah amat indah rumah-rumah yang Allah kisahkan dalam kitab suci Alquran tersebut? Tentang doa Asiyah radhiallahu ’anha istri Fir’aun yang meminta rumah di sisi Allah dalam surga. Tentang rumah di Surga ’Adn lengkap dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Juga tentang rumah yang damai di sisi Allah. Karena itu, sudah seyogyanya kita tekadkan, visi tentang rumah tidak boleh hanya berorientasi dunia. Harus satu paket, dunia akhirat!

Belum lama ini saya membaca tulisan Zein Mudjiono, seorang tokoh arsitektur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menurutnya, rumah Islami harus mampu menjadi sarana meraih dua tujuan hidup. Pertama, kesejahteraan dunia, yang meliputi rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah), terjaminnya pendidikan anak, berlangsungnya siklus biologis, ukhuwah Islamiyah, silaturrahim, pembentukan pribadi muslim, karier yang sukses, dan kesehatan yang terpelihara. Kedua, kesejahteraan akhirat yang meliputi termudahkannya pelaksanaan ibadah mahdah, proses mu’amalah, dan mampu menjauhkan penghuninya dari hal-hal yang haram maupun makruh.

Saya juga tertarik dengan tulisan Sahar Kassaimah yang berjudul ”Islamic Family Values in an Anti-Family Society”. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa rumah bukan sekadar tempat untuk makan dan tidur. Ya, rumah memang tempat di mana kita menghabiskan sebagian besar waktu kita dalam kebersamaan keluarga. Karena itu, jadikanlah rumah sebagai tempat untuk beribadah. Apa-apa yang terkait dengannya pun harus sesuai dengan tuntunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka akan hadirlah suasana rumah Islami yang sakinah. Sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu ’alayhi wa sallam berikut, ”Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan.” (Hadits riwayat Imam Ahmad, Al Hakim, dan At Tarmidzi)

Masya Allah, betapa beratnya amanah dalam membangun rumah demi kebaikan dunia akhirat itu! Itulah sebabnya di awal email ini saya menulis bahwa saya akan mendiskusikan terlebih dahulu kepada istri, tentang visi rumah yang kelak akan diperjuangkan. Agar satu tujuan, satu cara mencapainya pula. Insya Allah.

TEMPAT MENGINGAT ALLAH

Baiklah, pun bila ada satu hal yang telah saya putuskan sebelum diskusi dengan istri saya nantinya, adalah rumah tanpa televisi. Rumah yang riuh rendah akibat televisi yang menyala tak kenal waktu sama sekali bukan impian saya. Bukankah tanpa bising layar kaca tersebut, hati kita saja terkadang sudah amat ramai? Karena itu, yang saya inginkan adalah mendamaikan rumah dan hati dengan alunan ayat suci dan dzikir. Hingga setiap relung rumah adalah refleksi penghambaan keluarga kepada Allah.

Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Perumpamaan rumah yang digunakan untuk berdzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk berdzikir, laksana perbandingan orang yang hidup dengan yang mati.” (Hadits riwayat Muslim)

Maka itu, Dik Fitri, jika saya diharuskan menjelaskan konsep rumah Islami dalam satu kalimat; rumah Islami adalah yang senantiasa dihiasi dzikir kepada Allah.  Dzikir Al-matsurat setiap pagi dan petang. Saling mengajak untuk shalat tepat waktu. Hapalan Alquran menjadi menu pertanyaan sehari-hari. Murattal ayat-ayat suci mengiringi aktivitas. Diskusi tentang ilmu agama. Perpustakaan dengan buku-buku Islami.

Rasanya apabila Allah memberi petunjuk dan kekuatan untuk mewujudkan rumah sedemikian, ujian hidup apa pun yang sedang diterima, kita akan kuat menghadapinya. Sebagaimana dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang,” rumah pun akan terasa sakinah bila jiwa penghuninya selalu tersandarkan kepada Allah.

SARANA TARBIYAH
           
Apakah jawaban saya kali ini terlalu panjang untuk pertanyaanmu, Dik? Jika demikian, maafkanlah. Tetapi seperti yang Dik Fitri pernah sampaikan, pernikahan adalah proyek mahabesar. Maka semakin banyak yang kita siapkan menjelangnya, akan lebih baik.

Dik Fitri, insya Allah, dengan izin-Nya, suatu hari nanti kau akan menjadi seorang ibu. Al ummu madrasatul ula, seorang ibu adalah sekolah pertama. Maka rumah Islami sudah semestinya menjadi sarana yang mendukung pendidikan (tarbiyah) dari orangtuanya. Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga perkara: cinta kepada Nabimu, cinta pada keluarganya, dan membaca Al Quran." (Hadits riwayat Ath-Thabrani)

Maka telah dapat saya bayangkan, rumah Islami adalah rumah dengan kurikulum tarbiyah yang jelas. Pemimpin-pemimpin ummat yang sholih, cerdas, kreatif, dan bijaksana tumbuh dengan pendidikan yang baik. Inilah tekad saya, inilah janji saya; untuk berupaya sekuat tenaga mendidik amanah berupa keluarga dengan sebaik-baiknya. Caranya bagaimana? “Sesungguhnya telah ada dalam (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik.” (Alquran surat Al-Ahzab ayat 21)

Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam mendidik anak-anak dengan penuh cinta, penuh kebahagiaan. Maka pendidikan apa pun, baik membaca ayat-ayat qauliyah (firman Allah dalam Alquran) maupunkauniyah (ciptaan Allah, alam semesta dan seisinya), saya inginkan ada dalam suasana menggembirakan. Tidak akan ada cerita, belajar membaca Alquran dengan penggaris kayu memukul tangan anak apabila ada kesalahan. Atau ancaman hukuman jika tidak menurut.

Konsep rumah Islami lekat dengan istilah baiti jannati, rumahku surgaku. Makna surga ini bukanlah wujud fisik rumah yang megah bak istana. Tetapi kedamaian dan kebahagiaan di dalamnya saat seluruh keluarga dengan penuh senyum, tawa, dan kasih sayang, bersatu menjalani hari-hari di rumah untuk tujuan surga di akhirat. Surga di dunia, surga di akhirat, apalagi yang mungkin lebih membahagiakan dari itu?

PEMBERI MANFAAT BAGI SEKITAR

Tetapi, selain menjadi tempat mengingat Allah, sarana tarbiyah, sebuah rumah Islami haruslah penuh manfaat bagi sekitar. Berkontribusi kepada lingkungan adalah amal shalih yang perlu dijalankan seiring upaya menanamkan keislaman di dalam rumah kita. Apabila masjid dekat rumah kita masih sepi dari jama’ah dan program-program Islami, masukkan ini sebagai pekerjaan rumah yang harus ditunaikan.

Musyawarah dengan Muslim dan Muslimat lain yang sepaham, lalu kerjakan sedikit demi sedikit. Hingga insya Allah, kita akan merasakan nikmatnya bertetangga dengan orang-orang yang memakmurkan masjid. Anak-anak yang riang datang belajar mengaji setiap sore ke masjid. Bapak-bapak yang lima waktu saling bersalaman, berdiskusi tentang kemaslahatan ummat, setiap kali usai berjamaah di masjid. Ibu-ibu yang rutin mengadakan pengajian, khitanan massal, santunan bagi anak yatim, dan lain sebagainya.

Aula desa yang tidak hanya dipakai setiap ada penyuluhan dari dinas atau menjadi puskesmas bulanan, tetapi kita hidupkan menjadi perpustakaan gratis. Buku-buku untuk anak, majalah, surat kabar, semuanya lengkap! Ada akses Internet yang diawasi penggunaannya. Ada pegawai yang digaji dari hasil patungan warga.

Petugas kebersihan, satpam penjaga keamanan, anak-anak yatim dan keluarga dhuafa yang bahagia karena setiap bulan mendapat sedekah terorganisir dari masyarakat. Pertandingan olahraga yang membuat dari mulai anak-anak hingga lansia semangat berlatih voli, sepak bola, sampai senam yang tepat untuk para kakek dan nenek. Saling kenal, saling sayang. Saling hormat, saling mengajak pada kebaikan. Luaskanlah surga di dalam rumah kita hingga ke berbagai penjuru. Indah ya, Dik?
             
Wallahu a’lam bisshowab. Begitulah Dik Fitri, konsep rumah Islami yang tidak pernah luput dari daftar munajat saya kepada Allah, agar Allah memampukan saya menjadikannya nyata. Semoga Dik Fitri berkenan dengan jawaban saya kali ini. Sampaikan salam hormat saya kepada Bapak dan Ibu.
             
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Di tengah derasnya hujan Kota Bogor,
Hamba Allah yang penuh khilaf,
Muhammad Saifuddin.

Panduan Memilih Rumah Islami


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia Edisi Februari 2012

“Ke mana, ke mana, ke mana... Kuharus mencari ke mana?” Ghulam, anak Intan yang berusia 4 tahun terus menggumamkan lirik tersebut. Intan tentu saja gusar, seingatnya ia telah berusaha menjaga sang anak dari pengaruh televisi atau pertemanan yang kurang baik. Intan berkisah pada suaminya, yang ternyata juga prihatin akan hal yang sama.

“Mungkin, kita perlu cari kontrakan baru, Dik. Jangankan Ghulam yang otaknya masih seperti spons, menyerap apa saja yang dia lihat atau dengar. Mas juga kalau sedang mengaji jadi terganggu sama lagu-lagu dangdut itu,” ujar Agung serius.

Kegundahan Intan dan Agung bersumber dari satu hal, hanya berjarak beberapa meter dari rumah kontrakan mereka, kini dibangun sebuah aula desa. Setiap akhir pekan, dari pagi hingga tengah malam, alunan lagu-lagu dangdut terdengar dari aula tersebut. Mengapa demikian? Tentu saja karena banyak yang masih salah kaprah tentang hakikat walimatu ‘ursy! Sehingga setiap ada pernikahan digelar di sana, selalu penuh nyanyian dan tarian. Astaghfirullah.

Intan menghela napas, “Iya, Mas. Adik setuju. Sambil menabung untuk membeli rumah yang ideal bagi keluarga kita. Memang sebaiknya kita pindah ke kontrakan lain.”

“Bismillah, Dik. Yuk, cari yang dekat masjid. Rasanya Ghulam sudah cukup umur untuk Mas ajak ke masjid,” Agung tersenyum manis. Intan membalasnya, tidak kalah manis.

Tidak hanya Intan dan Agung. Banyak Muslim dan Muslimah lain yang berkeinginan memiliki tempat tinggal yang Islami. Nisrina, misalnya. Sejak diterima di Institut Teknologi Bandung beberapa bulan lalu, ia masih menumpang di kamar kos kakak sepupunya. Tetapi kosan kakak sepupunya yang bercampur antara lelaki dan perempuan membuatnya tidak nyaman. Nisrina ingin pindah! Kalau bisa, ke kosan khusus Muslimah yang ada jadwal Tahajud-nya.

Atau Salahuddin, yang setelah menabung selama sepuluh tahun, ingin membelikan rumah untuk istri dan kedua anaknya. Puluhan brosur perumahan sudah ia pelajari satu per satu. Tetapi ia masih saja bingung. Banyak yang ia pertimbangkan, desain rumah, akses kendaraan umum, keamanan, lokasi masjid, hingga tetangganya.

Bagaimana ya Islam mengajarkan kita dalam membeli rumah, memilih kontrakan, bahkan kamar kos?

MEMILIH PASANGAN SHALIH

Ini tahap pertama yang harus diperhatikan sebelum memilih rumah. Lho, apa hubungannya memilih rumah dengan pasangan shalih? Bagi yang belum menikah, mencari pasangan yang hidupnya berorientasikan ridha Allah adalah hal utama untuk mewujudkan rumah Islami kelak. Sayang apabila meskipun rumah kita berada dekat dengan masjid namun sang suami tidak terpanggil hatinya untuk melangkahkan kaki ke rumah Allah.

Bagi yang Alhamdulillah telah dikaruniai pasangan yang insya Allah shalih/shalihat, bersama saling membimbing dan memperbaiki diri agar semakin dekat dengan Allah juga merupakan hal utama sebelum mencari rumah Islami. Sehingga rumah nantinya tidak hanya berwujud bangunan fisik, melainkan rumah penuh kebahagiaan, madrasah generasi unggul yang didambakan ummat, dan penuh rahmat.

TETANGGA ATAU LINGKUNGAN YANG BAIK

Setelah memilih dan saling membimbing pasangan untuk bersama menshalihkan diri, hal paling krusial lainnya adalah memilih tetangga atau lingkungan yang baik. Hal ini diajarkan Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits riwayat Al Khatib, “Pilihlah tetangga sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian).” RasulullahSallallahu ‘alayhi wa sallam bahkan juga berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk di tempat pemukiman.” (Hadits riwayat Ibnu ‘Asakir)

Bayangkan saja apabila memiliki tetangga yang berakhlak buruk, selain hati kita tidak nyaman, sulit bagi kita menjalin silaturrahim yang penuh manfaat dengannya. Pun kasihan anak-anak karena tidak mendapat teladan yang baik. Akan tetapi, alangkah indahnya apabila kita berada dalam lingkungan yang penuh nilai-nilai Islam, akrab, saling tolong menolong, dan senantiasa mengajak kepada kebaikan.

Beberapa pengembang perumahan sekarang juga menyasar kebutuhan akan lingkungan yang baik bagi Muslim dan Muslimah. Di antaranya adalah Bumi Darussalam di Depok dan Bukit Adz-Dzikra di Sentul. Bumi Darussalam memulai pembangunan dengan membangun masjid di tengah-tengah komplek hunian sebagai tempat utama para penghuni menyatu dalam ibadah dan berinteraksi antara satu warga dengan warga penghuni lainnya. Tujuannya, dibangunnya masjid akan memudahkan penghuni melangkahkan kaki untuk menunaikan kewajibannya. Uniknya, masjid dibangun dekat dengan pusat-pusat kegiatan lainnya seperti taman bermain atau fasilitas olahraga.

Sementara Bukit Adz-Dzikra, dengan tokoh sentral Ustadz Arifin Ilham yang juga tinggal di sana, serius merancang program-program ruhani di kompleks tersebut. Masjid Muammar Qaddafy yang berada di depan kompleks menjadi tempat berbagai pengajian dan acara keislaman. Selain itu, penghuni kompleks juga diharuskan shalat berjamaah di masjid dan dilarang merokok.

BERLOKASI DEKAT MASJID 

Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, "Shalat seseorang dengan berjama'ah itu melebihi salatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk shalat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan salat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada di tempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon, ‘Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.' Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat semenjak menantikan tiba waktu shalat." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Alangkah menyenangkannya apabila setiap waktu shalat kita dapat mendengar adzan dari masjid dekat rumah. Lalu sang ayah mengajak anak lelaki untuk bersegera ke masjid, sementara ibu dan anak perempuan berjamaah di rumah. Selain itu, di masjid juga biasanya diadakan pengajian dan kegiatan sosial lainnya yang akan lebih mudah diikuti anggota keluarga apabila lokasinya berdekatan.

AULIA pernah berada di sebuah masjid perumahan depan Terminal Cirebon. Perumahan tersebut tidak besar, begitu pula dengan masjidnya. Tetapi masjid ditata amat rapi dan indah. Ketika adzan berkumandang, anak-anak yang sedang bermain sepeda segera menuju masjid untuk shalat berjamaah. Berisik memang, sewaktu rombongan anak-anak itu tiba. Tetapi, dalam hati terasa damai melihat anak-anak tersebut bergembira shalat berjamaah di masjid.

LUAS DAN INDAH

Lalu apa lagi pertimbangan saat akan memilih rumah Islami? Apabila Allah memberi rezeki untuk bisa memilih rumah yang cukup luas, maka kita dapat menerapkan konsep pemisahan ruang tamu untuk lelaki dan perempuan. Juga dapat menjalankan pula ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallamuntuk memisahkan kamar anak lelaki dan perempuan, kamar privat untuk suami istri, hingga sekat yang menjaga agar asisten rumah tangga terjaga auratnya.

Rumah luas juga memudahkan keluarga dalam menyediakan mushola, perpustakaan, taman untuk anak-anak bermain, hingga kolam renang keluarga yang melindungi aurat anggota keluarga. RasulullahSallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda mengenai hal ini, “Di antara kebahagiaan seorang muslim ialah mempunyai tetangga yang shalih, rumah yang luas, dan kendaraan yang meriangkan.” (Hadits riwayat Ahmad dan Al Hakim)

Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa, "Ya Allah, ampunilah dosaku, luaskanlah rumahku, berilah barakah dalam rezekiku! Kemudian beliau ditanya, ‘Mengapa doa ini yang banyak engkau baca, ya Rasulullah?’ Maka jawab Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam: ‘Apa ada sesuatu yang lain yang kamu cintai?’" (Hadits riwayat Nasa'i dan Ibnu Sunni)

Selain itu, yang juga amat penting, tatalah rumah agar tampak rapi dan indah. Seperti apa pun rumah yang atas izin Allah sanggup kita sewa atau beli, tindakan sederhana membersihkannya setiap hari, menghias dengan kaligrafi, atau menata taman cukup untuk mewujudkan rumah nan cantik. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Sesungguhnya Allah indah dan senang kepada keindahan.” (Hadits riwayat Al-Baihaqi)

"Sesungguhnya Allah itu baik, Dia suka kepada yang baik. Dia juga bersih, suka kepada yang bersih. Dia juga mulia, suka kepada yang mulia. Dia juga dermawan, sangat suka kepada yang dermawan. Oleh karena itu bersihkanlah halaman rumahmu, jangan kamu menyerupai orang-orang Yahudi." (Hadits riwayat Tarmidzi)

FUNGSIONAL DAN SYAR’I

Rumah luas dan indah bukan berarti bermewah-mewahan. Sifat qana’ah (merasa cukup) dan sikap sederhana akan menjadikan hati terasa lebih tenang. Dengan demikian, kita tidak merasa perlu membentengi rumah kita dengan pagar berduri setinggi tiga meter hanya agar bisa tidur nyenyak. Lagipula, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).” (Al-Quran surat At-Takatsur ayat 1-3)

Bagian dari tidak bermegah-megahan adalah menjaga agar apa yang ada dalam rumah kita hanyalah barang-barang fungsional yang kita perlukan. Dari Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu, “RasulullahShalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sebagian tanda dari baiknya keIslaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.” (Hadits riwayat Tirmidzi)

Lalu bagaimana memilih rumah yang syar’i? Pertama, carilah rumah yang dapat menjaga aurat anggota keluarga. Pintu masuk bisa dibuat menyamping dan tidak langsung memperlihatkan isi kamar. Kemudian kamar anak perempuan dan lelaki haruslah terpisah. Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallambersabda, “Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika berusia sepuluh tahun (bila belum mau mengerjakan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan).” (Hadits riwayat Abu Dawud)

Kedua, jagalah hijab dengan penghuni rumah yang bukan mahram. Ini adalah hal penting yang sering terlupakan. Asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti saudara tetap saja bukan mahram. Jadi kita harus menyediakan hijab yang layak untuknya seperti kamar dan kamar mandi yang menjaga auratnya. Hal yang sama berlaku kepada saudara sepupu yang tidak sepersusuan dan saudara ipar.

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Janganlah kalian menjumpai wanita-wanita (yang bukan mahram).” Lalu ada seseorang bertanya, ”Ya, Rasulullah, bagaimana (hukumnya) dengan ipar?” Beliau bersabda,”Saudara ipar itu maut.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketiga, tetapkanlah ruang untuk shalat yang layak. Pilih tempat yang kita akan nyaman berlama-lama sujud dan ruku’ kepada Allah. Ruang tersebut juga harus terjamin bersih dari najis.

Keempat, kloset kamar mandi tidak boleh menghadap ke kiblat atau membelakanginya. Ini sesuai hadits Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam berikut, “Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Apabila engkau ke kamar kecil (toilet), janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air kecil atau buang air besar.” (Hadits riwayat Muslim)

JANGAN LIBATKAN HAL-HAL SYIRIK

Sebagian dari masyarakat Indonesia masih percaya tentang hari baik untuk pindah rumah berdasarkan Primbon (kitab rujukan tentang kehidupan sehari-hari yang tidak ada landasannya dalam Islam). Seperti misalnya, pindahan pada hari Jumat Kliwon itu Demang Kandhuwuran atau tidak baik. Padahal, Jumat adalah hari yang baik menurut Islam. Tidak ada hari yang buruk. Karena itu, jangan libatkan hal-hal syirik semacam ini ketika akan memilih rumah.

Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa dalam memilih rumah harus memerhatikan Feng Shui. Baik dari segi lokasi, arah menghadap rumah, hingga penempatan perabotan. Padahal, selama rumah tersebut dapat menutupi aurat penghuninya, kloset tidak menghadap atau membelakangi kiblat, dan diperoleh dari harta yang halal, insya Allah rumah tersebut baik. Kita tidak perlu dan tidak boleh berpedoman pada kompas atau topografi Cina Kuno yang tidak ada dalilnya tersebut.

Salah satu yang menjadi mitos adalah bahwa rumah bernomor 13 atau berposisi tusuk sate akan membawa kesialan juga tidak boleh kita yakini. Ustadz Ahmad Sarwat, Lc dalam situsnya menjawab pertanyaan seseorang terkait posisi rumah tusuk sate. Sang penanya bingung menjelaskan kepada keluarganya bahwa tidak ada yang salah dengan rumah berposisi tusuk sate yang akan dibelinya. Ustadz Sarwat menuturkan, bahwa sebagai muslim, kita wajib percaya bahwa tidak ada yang bisa mencelakakan kita kecuali atas izin Allah ta’ala.

Kepercayaan bohong itu dikembangkan oleh para syetan yang pekerjaannya memang menipu manusia dan membisikkan kepercayaan jahat di dalam hati manusia. Hanya saja seringkali dikemas dengan nama dan istilah yang berbeda-beda. Terkadang kepercayaan syirik itu dianggap sebagai nasehat orangtua, sehingga seolah kalau tidak dipercayai akan menimbulkan bencana tertentu. Apabila masih ada orangtua yang mempercayai hal ini, maka dapat kita jelaskan dengan baik-baik.

UNDANGLAH MALAIKAT RAHMAT 

Setelah memilih rumah, maka pastikan Malaikat Rahmat berkenan masuk ke rumah kita. Bagaimana caranya? Selain menjaga agar nilai-nilai keIslaman selalu hadir dalam aktivitas kita, jangan pelihara anjing dan jangan letakkan lukisan dan patung yang menyerupai makhluk bernyawa. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

“Malaikat Rahmat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.”
Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam menegaskan ini sewaktu beliau pulang dari bepergian, lalu mendapati di tengah rumah terdapat tabir bergambar. Beliau memanggil istrinya, Aisyah radhiallahu ‘anha dan bersabda, “Hai Aisyah! Sekeras-keras siksa manusia pada hari kiamat adalah yang menyaingi bikinan Allah.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Maka Aisyah radhiallahu ‘anha pun segera memotong-motong tabir tersebut dan dijadikan bantal.

RUMAH DI AKHIRAT 

Hal terakhir yang perlu diingat dalam memilih rumah, apabila kita mempertimbangkan dan merencanakan dengan serius saat akan memilih rumah di dunia, maka kita harus lebih serius dalam merencanakan rumah kita di akhirat kelak. Rumah yang akan abadi menjadi tempat tinggal kita. Kita tentu mau punya rumah yang berdekatan dengan Rasulullah, berpandangkan telaga Kautsar di syurga Firdaus nan teramat indah, bukan? Karena itu, mari siapkan juga rumah di akhirat nanti.

Mulailah berpikir dan berhitung, apa saja yang diperlukan untuk membangun rumah di syurga? Mata uang apa yang dapat digunakan untuk membeli bahan-bahannya? Apa saja yang harus kita lakukan untuk mendapatkan mata uang tersebut? Juga, bagaimana caranya agar kita berhak mendapat ‘kavling’ di syurga? Renungan ini perlu kita tanyakan terus menerus, sehingga setelah kita mewujudkan rumahku syurgaku di dunia, suatu saat kita dapat mengatakan, “Syurga ini rumahku.” Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Berkenalan dengan Muslimah Yala


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia edisi Januari 2012

Meski terpisah batas-batas negara, seluruh Muslimah yang ada di dunia adalah saudari kita. Terasa benar indahnya menyambung silaturahim dengan mereka. saya berkesempatan berkenalan dengan mereka dalam Halal Trip bersama Asian Network di Kampung Teluk, Yala, Thailand Selatan.

Kebersamaan dalam empat hari, mulai 5 hingga 8 November 2011, memberi kesan mendalam bagi saya. Saya belajar tentang indahnya ukhuwah Islamiyah dan tentang damainya hidup yang berlingkup nuansa Al-Quran dan hadits. Kali ini, saya akan bercerita tentang kehidupan Muslimah-muslimah di Kampung Teluk yang teguh menjalani syariat Islam di negara dengan penduduk mayoritas non-Muslim.

TEBAR SALAM

Dalam perjalanan menuju Kampung Teluk, rombongan Halal Trip yang terdiri dari Nuria Bonita dan suami, Arief Ardiyansyah, serta saya  dan suami, Ahmad Dawamul Muthi berkenalan dengan warga yang menjemput. Penjemput kami adalah Imam Harun dan istrinya, Mama Azizah. Lalu Kak Adeellah, lulusan Yala Islamic University yang pernah mendapat beasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kak Nuriyah, dan Bapak Ibrahim.

Setelah perkenalan, saya menanyakan arti kata “Sawasdee” yang banyak tertulis di spanduk Bandar Udara Internasional Hat Yai. Mama Azizah menjelaskan, bahwa “Sawasdee” berarti “Salam” dalam bahasa Thailand. “Tetapi”, lanjut beliau, “Kami tidak biasa memakai kata Sawasdee. Tidak ada salam yang lebih baik daripadaAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Saya tersenyum mendengarnya. Rasanya, saya akan mendapat banyak pelajaran berharga dari Muslimah-muslimah Yala ini.

HIJAB SEUMUR HIDUP

Muslimah di Yala adalah cerminan muslimah yang patut diteladani. Sejak memasuki usia sekolah dasar, seluruh muslimah telah diharuskan memakai jilbab. Jilbab ini kemudian terus dijaga seumur hidup mereka. Bayangkan, indah nian berada dalam lingkungan yang semua Muslimahnya penuh takzim menjalankan perintah Allah untuk mengulurkan kain ke dada. saya terharu mendengar setiap Muslimah di Yala berhijab karena meyakini bahwa jilbab adalah untuk memelihara kehormatan mereka.

Kak Adeellah, Mama Azizah, dan beberapa muslimah lain di Kampung Teluk bahkan menggunakan cadar di beberapa kesempatan di mana mereka merasa harus menggunakannya. Seperti saat Kak Adeellah kuliah di jurusan Syariah kampus Yala Islamic University, misalnya.

Saat saya menanyakan apakah Kak Adeellah menggunakan cadar saat menjalani satu tahun beasiswanya di Universitas Muhammadiyah Surabaya, ia menjawab, “Tidak pakai. Nanti disangka Kak Adeellah ini teroris oleh orang Indonesia.”

Salah satu di antara kami bercanda dan mengatakan, “Ya, orang Indonesia suka lebay (berlebihan).”

Kak Adeellah pun tertawa menanggapinya. “Iya, memang suka lebay.” Hehehe, saya ikut tertawa. Rupanya Kak Adeellah pun mengerti beberapa kosa kata slank dalam bahasa Indonesia.

ANTI SYUBHAT

Di hari ketiga kami di Yala, saat Mama Azizah sedang berbelanja untuk kebutuhan acara Taman Pendidikan Kanak-Kanak (Tadika), kami pun mencari oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Saat kami bertanya kepada Kak Adeellah tentang sebuah penganan ringan di salah satu toko, Kak Adeellah tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling toko, dari mulai penjaga toko hingga papan nama toko. Lalu sambil berbisik meminta kami mencari toko lain, “Pemilik toko ini bukan orang Islam. Jadi makanan di sini status kehalalannya syubhat (abu-abu).”

Subhanallah, kami hampir saja lupa mengecek hal-hal semacam itu. Bahwa meskipun yang hendak kami beli adalah semacam kacang, tetapi lebih baik berjaga-jaga dan membelinya dari penjual muslim yang dapat menjamin kehalalannya. Alhamdulillah kami didampingi Kak Adeellah, seorang muslimah yang kuat menjaga prinsip Islam dalam makanan.

Kak Adeellah selanjutnya menjelaskan, kalau di daerah perkampungan Muslim, memang sudah dijamin kehalalan seluruh makanan yang dijual. Akan tetapi, karena saat itu kami berbelanja di kota yang tidak semua penduduk beragama Islam, kami harus berhati-hati.

PRODUKTIF

Muslimah-muslimah di Yala amat produktif. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai guru. Contohnya Kak Adeellah, Miss Rudayah, istri Pak Sawadee, dan lainnya. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai penoreh karet di perkebunan karet. Beberapa muslimah lainnya berdagang seperti Mama Azizah yang berdagang kebutuhan sehari-hari seperti minyak, gula, dan beras di pasar. Atau Kak Nuriyah yang membuka warung di depan rumahnya.

Muslimah lainnya memilih berkarya dari rumah, salah satunya adalah Kak Syakiroh yang meminjamkan rumahnya untuk kami tempati. Beliau mengajarkan cara merajut hiasan jilbab, taplak meja, dan lainnya kepada ibu-ibu Kampung Teluk. Hingga menjadi pemandangan wajar terdapat ibu-ibu yang sedang merajut di depan rumah mereka seraya mengawasi anak-anaknya bermain.

ANTI IKHTILAT

Satu hal yang amat menenangkan hati adalah betapa muslimah di Kampung Teluk, Yala, ini amat menjaga izzah mereka. Tidak sekali pun akan ditemui perempuan yang menggelendot manja di tangan lelaki yang tidak halal bagi mereka. Laki-laki dan perempuan nonmahram tidak bersalaman, berdekat-dekatan, apalagi berboncengan di wilayah ini.

“Tidak ada,” tukas Mama Azizah tegas saat saya menanyakan apakah ada yang berpacaran di Kampung Teluk. Kalau memang sudah hendak menikah, maka akan langsung melamar kepada wali perempuannya. Pun apabila telah diterima pinangannya, tetap saja perempuan dan lelaki tesebut tidak diperbolehkan berdua-duaan.

Saya menyadari bahwa anak-anak kecil pun telah memahami konsep hijab antara lelaki dan perempuan tersebut. Kami tidak menemui anak lelaki berumur sepuluh tahun ke atas yang mau bersalaman dengan perempuan selain keluarganya. Mungkin konsep hijab telah tertanam dengan sendirinya dalam ingatan bawah sadar anak-anak yang tumbuh di lingkungan Islami seperti di sana.

PERNIKAHAN ISLAMI

Sejatinya, walimatu ursy adalah sunnah Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam yang bermaksud untuk mengumumkan bahwa kedua insan telah resmi menikah. Maka dengan demikian akan banyak yang mendoakan dan menghindarkan dari terjadinya fitnah. Walimatu ursy tidak perlu bermegah-megahan layaknya royal wedding yang belum lama berlangsung. Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam bahkan pernah menggelar walimah dengan kurma, gandum, dan minyak samin.

Di Kampung Teluk, pernikahan digelar penuh kebahagiaan tanpa perlu bermegah-megahan. Biasanya, di pagi hari, akad nikah digelar di masjid antara wali pengantin perempuan dan pengantin pria. Menurut Mama Azizah, mahar untuk istri dapat mencapai 150.000 baht (1 baht = 300 rupiah) tergantung kemampuan lelaki. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (Al-Quran Surat An-Nisaa ayat 4)

Perempuan tidak menuntut mahar tinggi. Tidak ada pula konsep seperti “uang naik” seperti sebagian adat di Indonesia, yakni ketika derajat keluarga perempuan tinggi, maka “uang naik” akan semakin mahal. Hal ini sesuai hadits Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam, “Sebaik-baik seorang wanita adalah yang ringan maharnya.”

Setelah akad, walimatu ursy berupa jamuan makan telah disiapkan di rumah pengantin perempuan. Di sinilah kedua pengantin bertemu karena sewaktu akad pengantin perempuan tidak ikut menyaksikan, hanya menunggu di rumah. Pernikahan pun digelar terpisah bagi tamu perempuan dan tamu lelaki.

MODIS, YA. SYAR’I, PASTI.

Menarik, pikir saya. Di Kampung Teluk ini, justru anak-anak perempuan kecil yang didandani “habis-habisan”. Nah, menjelang usia baligh, gadis-gadis Yala ini telah memahami bahwa Islam tidak mengajarkan tabarruj atau berdandan berlebihan.

Kami mengenal beberapa gadis Kampung Yala seperti dua anak perempuan Imam Harun, yakni Nusaibah dan Hana, juga dua anak permpuan Miss Rudaya, yaitu Amnee Madaehah dan Arina Madaehah. Mereka berpakaian amat sopan dan menutup aurat. Padu padan warna baju tetap harmonis dan modis, namun tidak menyalahi aturan syariat Islam.

Kak Nuriyah mengisahkan, bahwa harga-harga baju di Yala relatif mahal. Dikarenakan sebagian besar baju yang dijual merupakan impor dari Indonesia. Keheranan saya melihat banyak Muslimah di sana memakai batik bermotif khas Indonesia pun terjawab.

Sebelum kami pergi tur ke masjid-masjid, kami dijamu di sebuah restoran Pakistan. Menu salad, nasi Briyani, dan gulai merah daging yang amat lezat mengawali hari. Keluarga ini merupakan turunan keluarga Pakistan namun anak-anaknya lahir di Thailand. Kedua kakak beradik ini bernama Bb-Ilham Ess dan Dd-Amal Ess. Mereka menggunakan baju kurung yang populer di Malaysia. Cantik, modis, dan menutup aurat dengan baik. 

Indahnya Kehidupan Islami di Yala


Oleh: Azka Madihah
Dimuat di Majalah Aulia edisi Januari 2012

“Gunakan kunci ganda, waspada Curanmor!” atau “Hati-hati, daerah ini rawan penjambretan!” Spanduk peringatan semacam itu jamak ditemui di Indonesia. Terlebih di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lainnya.
Selain itu, stiker-stiker “Awas copet!” tertempel di kaca-kaca kendaraan umum seperti bus atau kereta rel listrik. Hal yang paling menyedihkan, bahkan di mushola atau masjid, tulisan “Letakkan barang dalam jangkauan penglihatan Anda. Hati-hati, telah terjadi banyak pencurian.”

Terkadang, saat membaca surat kabar, di mana tindak kriminalitas merajai halaman demi halaman berita, terbersit dalam benak kita, “Kapankah lingkunganku terbebas dari ancaman pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan? Bagaimana cara agar anak-anakku kelak terlindungi dari pengaruh negatif pergaulan bebas dan perilaku tidak Islami? Haruskah aku pergi ke negeri di atas awan untuk menemui suasana sesuai tuntunan Al-Quran dan Hadits?”

Ternyata, tidak perlu jauh-jauh ke negeri di atas awan. Di sebuah tempat yang berjarak tiga jam penerbangan dari Jakarta, dapat kita temui situasi semacam itu. Bukan daerah yang sempurna, tentu. Tetapi di daerah ini tidak pernah terjadi pencurian, perampokan, apalagi pemerkosaan. Daerah yang penduduknya menjaga nilai-nilai Islam sebagai napas kehidupan sehari-hari. Daerah yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas. Daerah yang seluruh penduduknya berhijab.

Daerah itu bernama Kampung Teluk, Provinsi Yala, Thailand Selatan.

MEMULIAKAN TAMU

Salah satu yang paling berkesan saat perjalanan Halal Trip ini adalah kesungguhan warga Kampung Yala dalam memuliakan tamu. Pada awalnya, saya menyangka akan dijemput dari Bandar Udara Hat Yai oleh Kak Adeellah untuk selanjutnya menuju Yala dengan kereta rel listrik. Ternyata yang dimaksud kereta adalah mobil dalam bahasa Melayu.

Tidak tanggung-tanggung, ada lima orang yang menjemput kami dengan mobil van berkapasitas 12 orang. Imam kampung, istri imam yang biasa dipanggil Mama Azizah, Kak Nuriyah, Kak Adeellah, dan Pak Ibrahim. Selama empat hari tiga malam, ke mana pun kami pergi, imam dan beberapa warga Kampung Teluk selalu mengantarkan kami.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (Hadits riwayat Bukhari)

Terasa betapa warga Kampung Teluk berusaha sebaik-baiknya mengamalkan hadits Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam tersebut. Kami dijamu dengan banyak makanan khas Thailand dari satu rumah ke rumah lain. Bahkan di malam terakhir sebelum saya pulang, Mama Azizah sampai bercanda, “Kalian tidak boleh tidur malam ini.”

Ternyata ucapannya itu benar. Ada begitu banyak warga yang masih ingin menjamu kami hingga di malam tersebut kami makan beberapa kali di rumah berbeda. Suasana amat hangat dan akrab. Kami pulang dari rumah salah satu warga yang menjamu pukul 12 malam. Rasa senang akan persaudaraan yang terjalin mengalahkan kantuk dan letih kami.

Selama di Yala, kami terus diantar oleh Imam Harun, Mama Azizah, Kak Adeellah, dan warga lainnya ke tempat-tempat yang akan kami tuju. Bahkan untuk mengeluarkan uang saat hendak membayar makanan atau minuman saat di Kota Yala atau Pattani, kami selalu dicegah. Seluruh makanan dan minuman saat di warung makan selalu dibayari Imam Harun. Mereka justru akan “tersinggung” apabila kita memaksa membayar.

Saya sempat merenung, apakah selama ini sudah maksimal dalam memuliakan tamu sebagaimana kali ini saya dijamu oleh warga Kampung Teluk dengan sebaik-baiknya? Satu lagi hikmah kehidupan saya petik dari Halal Trip ini, alhamdulillah.

MASJID SEBAGAI PUSAT AKTIVITAS

Suami saya, Ahmad Dawamul Muthi, pengelola Asian Network yang mensponsori Halal Trip  ini sempat mengumandangkan adzan Subuh di Masjid Kampung Teluk. Mas Ahmad bercerita bahwa adzan dapat dilakukan oleh siapa saja yang datang tepat sebelum waktu shalat. Akan tetapi, shalat selalu dipimpin oleh imam kampung. Di Kampung Teluk, berarti selalu dipimping oleh Imam Harun.

Setelah shalat, imam biasanya mengumumkan hal-hal penting yang perlu diketahui oleh warga. Seperti berita pernikahan, musibah, agenda warga, dan lainnya. Sebagai contoh, Imam Harun telah memberitahukan rencana akan ada tamu dari Indonesia dua minggu sebelum kedatangan kami. Dengan demikian masjid menjadi pusat aktivitas yang menyelaraskan kehidupan warga. Persis sebagaimana dicontohkan Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wasallam.

Begitu pula sewaktu ada salah satu warga di daerah utara kampung Teluk yang meninggal dunia, maka imam kampung akan mengumumkannya di masjid. Setelah itu menghubungi imam-imam kampung lain untuk memberitahukannya pula di masjid mereka. Setiap kampung akan mengirimkan sepuluh orang warganya untuk shalat jenazah di kampung tempat tinggal sang almarhum. Di hari ketiga di Yala, Mas Ahmad berkesempatan mengikuti shalat jenazah di kampung seberang yang berjarak dua puluh menitdari Ban Teluk bersama imam.

Menurut penuturan Mas Ahmad, ternyata ada begitu banyak orang yang datang ke prosesi menshalatkan jenazah tersebut. Shalat jenazah pun harus dilakukan dalam dua gelombang karena masjid tidak cukup menampung jamaah yang hadir. Subhanallah.

SOLIDARITAS, WUJUD UKHUWAH ISLAMIYAH

Selain dalam hal pengurusan jenazah, solidaritas warga terlihat dalam banyak aspek kehidupan. Misalnya, apabila ada warga yang sakit atau mengalami kecelakaan, maka biaya rumah sakit ataupun biaya ganti kerusakan kendaraan akan dibantu warga lainnya dengan cara patungan. Atau sebagaimana dikisahkan dalam AULIA edisi Desember 2010, bapak-bapak pun ikut membantu ibu-ibu ketika memasak untuk persiapan acara Taman Pendidikan Kanak-Kanak (Tadika). Bapak-bapak memotong daging, sementara ibu-ibu menyiapkan bumbu dan bahan lainnya untuk memasak Tom Neak (resepnya juga dapat dilihat di AULIA edisi lalu).

Contoh nyata lainnya adalah penggalangan dana khairat (sedekah) oleh masjid-masjid. Saat kami mengunjungi Masjid Sentral Yala. Di depan halaman masjid terbentang sebuah tenda yang berisi beberapa kotak dana khairat, papan bertuliskan jumlah dana yang terkumpul setiap harinya, dan puluhan kardus makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari. Untuk apa? Tujuannya tertera jelas dalam spanduk besar di depan tenda, “Dana Khairat untuk Korban Banjir di Bangkok”.

Tidak hanya itu, memasuki Masjid Sentral Yala, masih terpasang sebuah spanduk lain tentang ajakan berqurban untuk saudara-saudara Muslim di Somalia. Qurban untuk Somalia ini diselenggarakan bekerja sama dengan LSM dari Malaysia. Alhamdulillah, saya bersyukur bisa merasakan suasana penuh ukhuwah Islamiyah yang terbentang melampaui batas geografis sekali pun.

Kisah menyentuh lainnya saya dapatkan saat mengunjungi Masjid Kru Sec yang beberapa tahun silam pernah terjadi insiden penembakan (baca sejarahnya di Liputan Masjid-Masjid Thailand Selatan saya edisi ini). Seraya menikmati Tom Yum di seberang masjid, kami melihat sekelompok pemuda berbaju putih dan berpeci datang ke masjid. Kak Adeellah menunjuk mereka dan berkata bahwa para pemuda tersebut akan mengadakan shalat hajat agar musibah banjir di Bangkok segera usai. Ternyata shalat hajat solidaritas seperti ini banyak dilakukan di masjid-masjid sana.

PENDIDIKAN ANAK, INVESTASI DUNIA AKHIRAT

Saya mencermati, Pemerintah Thailand amat serius mengurus perihal pendidikan di negara ini. Pemerintah, atau biasa disebut sebagai pihak Kerajaan, sangat menghargai para guru yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan tunas bangsa. Kehidupan guru-guru di Kampung Teluk pun terlihat lebih sejahtera.

Contohnya adalah Imam Harun sebagai guru bahasa Thailand dan Miss Rudayah sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Ban Telok, kehidupan mereka tercukupi dengan baik. Bapak Sawadee sebagai dosen Ekonomi di Yala Islamic University pun mengakui bahwa apresiasi pemerintah terhadap pendidik memang baik.

Di daerah Thailand Selatan ini, terdapat dua jenis sekolah. Pertama, sekolah kerajaan yang berbahasa pengantar Thailand. Sekolah ini dapat diakses oleh warga Thailand secara gratis hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tidak hanya dibebaskan uang SPP, buku-buku pelajaran pun diberikan secara gratis kepada seluruh murid.

Kedua, sekolah rakyat yang berasal dari dana swasembada. Biasanya sekolah rakyat ini menggunakan bahasa pengantar Melayu. Materi pelajaran di sekolah ini adalah pelajaran Islam dan tetap mengikuti kurikulum pelajaran lain yang ditetapkan pemerintah.

Akan tetapi, penduduk Kampung Teluk juga menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan sekolah. Karena itu, para orangtua di Kampung Yala bahu membahu merencanakan program demi program untuk mendukung pendidikan anak-anak mereka.

Sebagai contoh, setiap tahun, warga Kampung Teluk mengadakan pesantren kilat yang digelar dengan cara menyenangkan. Biasanya pesantren kilat tersebut diadakan sambil berkemah atau bermalam di sekolah dekat pantai. Materi yang diajarkan saat pesantren kilat bermacam-macam, mulai dari pengetahuan agama dasar hingga pelajaran bahasa Inggris. Mama Azizah berkata bahwa inilah cara yang menyenangkan bagi anak-anak untuk tetap memanfaatkan waktu libur mereka.

Cara menyenangkan lainnya adalah dengan mengapresiasi saat seorang anak lelaki telah berani berkhitan. Setiap anak yang telah dikhitan akan diberikan hadiah. Apakah hadiahnya? Sebuah sepeda baru! Menyenangkan, menyehatkan. Orangtua pun tidak terbebani karena khitan di Thailand tidak dikenai biaya.

Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wasallam memang mencontohkan untuk mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang. Hal ini pula yang dalam beberapa kesempatan disampaikan Imam Harun kepada warga. Salah satunya Imam Harun sampaikan saat khutbah Idul Adha, ketika beliau menekankan tentang pendidikan anak sebagai investasi dunia akhirat. Bahwa dalam membangun baiti jannati, rumahku surgaku, salah satunya adalah dengan sebaik-baiknya menjaga amanah Allah berupa anak.

HIDUP BERJAMAAH, AMAN DAN DAMAI

Imam Harun menceritakan, bahwa bertahun silam, memang terjadi diskriminasi dari pemerintah pusat terhadap kawasan muslim di Thailand Selatan. Akan tetapi, sekarang sudah jauh lebih baik. Provinsi-provinsi berpenduduk mayoritas Islam seperti Yala, Pattani, dan Narathiwat telah mendapatkan perlakuan sama dari segi pendidikan, pembangunan, dan perlembagaan negara.

Di setiap provinsi, terdapat majelis ulama yang mengurus perihal keputusan waktu berbuka puasa, penanggalan hari raya, urusan pernikahan, perceraian, hingga hukum waris. Imam Harun Sakayee merupakan salah satu anggota majelis ulama provinsi Yala. Kedudukannya lebih tinggi dibanding imam kampung dan imam masjid.

“Saya tidak mau tiga wilayah ini berpisah dari Thailand. Saya mau Thailand bersatu menjadi Islam,” tukas Imam Harun disertai takbir dari kami dan beberapa warga yang ikut mendengarkan wawancara kami dengan imam.

Terkait penetapan Yala sebagai daerah yang masuk daftar travel warning beberapa negara seperti Inggris dan Malaysia, Imam Harun mengatakan, “Berita yang beredar di luar banyak tidak benar. Orang luar mungkin tengok (melihat) kami hidup susah. Padahal kami senang hidup berjamaah seperti ini. Di sini amat aman dan damai.”

AMAN SENTOSA

Saya sempat heran melihat dua buah motor terparkir di depan rumah Kak Syakiroh dengan kunci masih menempel. Pemandangan yang benar-benar langka di Indonesia. Keheranan saya semakin bertambah saat melihat hampir seluruh warga terbiasa parkir motor atau mobil dalam keadaan tidak terkunci, atau kunci menempel di slotnya.

Kami, empat orang Indonesia yang terbiasa paranoid dengan begitu banyaknya kasus Curanmor, saling bercanda, “Jangan coba-coba parkir seperti ini di Jakarta.”

Kak Adeellah, Mama Azizah, dan Imam Harun menjawab kompak keheranan kami, “Tidak pernah ada pencurian di kampung ini.” Allahu akbar! Bukankah kita pun ingin benar hal yang sama terjadi di Indonesia tercinta?

Bagaimana dengan kriminalitas lainnya? “Tidak pernah ada,” tegas Kak Adeellah.

“Di Kota Yala, apalagi Bangkok, ada (tindak kriminalitas). Mungkin karena penduduknya telah bercampur, banyak yang beragama selain Islam. Tetapi di Kampung Yala ini tidak pernah ada. Semua aman.”

BERKACA PADA YALA

Demikianlah kehidupan Islami di Kampung Teluk, Yala, Thailand Selatan. Subhanallah, bahkan dalam empat hari saya dapat merasakan betapa indahnya lingkungan seperti ini. Beraktivitas dalam situasi aman dan damai. Bertetangga dalam suasana akrab. Berbahagia dalam memuliakan tamu. Berjamaah dalam menegakkan prinsip-prinsip Islam.

Semoga hal yang sama dapat kita rasakan di Indonesia. Sudah saatnya kita berkaca, warga Kampung Teluk, Yala, ini dapat menerapkan pilar-pilar Islam dalam kehidupan sehari-hari. Padahal mereka adalah minoritas di negara yang sebagian besar beragama Budha. Sementara Islam adalah agama yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia.

Maka seraya berharap, kini setidaknya hikmah-hikmah dari sepenggal kisah di Yala tersebut bisa kita terapkan dalam keluarga kita. Hingga suatu saat nanti, setiap Muslimah di Indonesia bangga dengan identitas dan hijabnya. Sampai kelak, tidak akan ada lagi spanduk “Gunakan kunci ganda, waspada Curanmor!” dan semacamnya. Supaya di masa depan, kita benar-benar merasa aman dalam membesarkan anak-anak kita, qurrata a’yun kita dalam lingkungan yang Islami. Insya Allah.